Penting Bagi Petani Organik dengan ANEKA PESTISIDA DAN PUPUK ALAMI



SUSU UNTUK CENDAWAN

Susu merupakan sumber gizi paling baik untuk kesehatan. Namun susu ternyata juga bisa digunakan sebagai fungisida. Adapun resepnya adalah sebagai berikut : 
Aduk rata susu dan air dengan perbandingan 1 : 9. untuk mendapatkan larutan yang lebih kuat tambahkan susu sehingga perbandingan menjadi 50 : 50. 
Larutan ini dapat digunakan untuk mengatasi penyakit embun tepung pada labu maupun penyakit lain yang disebabkan oleh cendawan. Susu dan air yang diaplikasikan memacu pertumbuhan cendawan parasit pemakan cendawan ganas penyebab penyakit. Pemakaian cukup disemprotkan keseluruh tanaman dan pemakaiannya cukup 1 X per minggu. Disamping itu susu juga memacu pertumbuhan benih. 

SODA KUE UNTUK FUNGISIDA
Soda kue atau Natrium Bikarbonat (NaHCO3) biasanya dipakai untuk bahan tambahan kue agar cepat mengembang. Bahan tersebut ternyata dapat juga digunakan sebagai fungisida untuk menangkal serangan embun tepung. Penyakit ini di tandai dengan munculnya lapisan embun bertepung di permukaan daun. 

Cendawan dari jenis Oidium atau Erysiphe ini dapat menimbulkan kerugian cukup besar apabila tidak di kendalikan. 

Cara aplikasinya cukup mudah. Larutkan 5 gram soda kue dalam 1 liter lerutan sabun berkonsentrasi 0,5 %. Larutan sabun berfungsi sebagai pengubah permukaan larutan sehingga butiran semprotan lebih tahan lama di permukaan daun tanaman. Sabun juga mempercepat tembusnya lapisan kutikula yang berlapis lilin. 

Sedangkan bikarbonat berfungsi merusak dinding membran spora Oidium, yang akan mengakibatkan dehidrasi dan pada akhirnya cendawan akan mati. 

BIJI BENGKUANG SEBAGAI INSEKTISIDA (Aphids/kutu- kutuan)
Biji bengkuan mengandung racun pachyrizid. Senyawa ini mampu membasmi kutu-kutuan daun Aphid. Kutu ini bersifat polifag hingga mempunyai banyak tanaman inang. Kandungan racun pada biji bengkuan mencapai 0,12 % hingga 0,40 %. Bahkan pada biji tua yang kering kandungannya mencapai 0,65 %. Adapun aplikasinya cukup mudah, siapkan kurang lebih 50 butir biji bengkuang yang tua dan kering kemudian tumbuk halus menjadi tepung. Kemudian campurkan dengan air dan kemudian semprotkan ke seluruh bagian tanaman yang terserang. 

DEMI TOMAT BAKTERI DAN CENDAWAN DIADUDOMBA
Bacillus Subtilis mampu mengontrol populasi cendawan fusarium sp. Subtillis mampu memberikan antibodi pada tanaman yang memiliki fungsi untuk menghambat pertumbuhan cendawan fusarium. Kelebihan lain dari bakteri ini adalah bersifat antagonis. Enzim kitin yang diproduksi subtillis merusak dinding sel Fusarium menjadi senyawa kitinase. Subtillis ini cukup tahan banting. Bakteri aerob (butuh Oksigen) itu mampu bertahan dilahan kering soalnya sporanya berada dalam sel (endospora) Tahan Panas

Bakteri ini juga tahan temperatur tinggi. Sehingga untuk memperolehnya dengan memanaskan suspensi tanah -10 g dilarutkan dalam air 100 ml air pada suhu 800C selama 30 menit. Bakteri subtillis ini memfermentasikan bahan organik dalam tanah. Hasil aktifitasnya berupa senyawa asam yang mampu menekan perkembangan Fusarium. Demikian juga nematoda juga seperti Melodogyn acap menyerang akar atau batang dimana bekas luka tersebut sering digunakan fusarium untuk masuk. 

Dampak lain tingkat keasaman tanah akan menrurun. Salah satu pemicu serangan Fusarium adalah keasaman tanah tinggi lebih dari 7. Layu Fusarium banyak menyerang tanaman anggota famili Solanaceae (Cabai, Kentang, Tomat, Semangka, Melon, dll). 

Subtillis Lokal
Negeri tropik merupakan surganya bagi bakteri Basillus Subtilis antara lain dipasara telah ada produk tersebut diantaranya Emva dan Harmoni BS.

Cara Pemakaian : 
- Sebelum disemaikan benih direndam dalam larutan campuran 4 ons subtilis dan 3,5 liter air. 
- Setelah benih tumbuh larutan tersebut diberikan kembali. Dosisnya 5 ons per 15 liter air. Untuk 6.000 tanaman. 

KUNYIT DAN TEMULAWAK UNTUK CENDAWAN
(Plasmodiophora Brassicae)
PENYEBAB AKAR GADA
Pengunaan kunyit karena senyawa yang terdapat pada umbi tersebut mampu merangsang pertumbuhan akar. 
Cara pembuatan :
- Sediakan 15 – 20 rimpang kunyit dan temulawak dengan perbandingan 2 : 1 
- Air 1 Liter 
- Kupas rimpang kunyit dan temulawak 
- Ditumbuk atau diblender. 
- Tambahkan air bersih kemudian disaring. 
Cara Penggunaan : 
1. Sebelum disemai rendam benih kubis dalam larutan tersebut selama 30 menit. 
2. Selang 10 hari setelah tumbuh dalam bedengan siram kembali bibit tersebut. 
3. Kemudian sebelum pindah tanam lakukan perlakuan tersebut. 

BAWANG PUTIH UNTUK INSEKTISIDA
Bawang putih disamping untuk bumbu dapur ternyata juga mampu mengendalikan Thrips karena rasa dan aromanya tidak disukai jenis kutu-kutuan tersebut. 
Bahan : 
- 2 s/d 3 kg bawang putih 
- 1000 liter larutan pupuk 
Cara pembuatan dan aplikasi : 
Bawang putih dibuat ekstrak dengan cara di tumbuk atau diblender setelah berbentuk ekstrak kemudian diberi air dan campurkan ke dalam larutan pupuk organik. Setelah diaduk aduk hingga merata kocorkan larutan tadi pada tanaman kira-kira 200 CC. 

Pengaruh pemberian ekstrak bawang putih tersebut adalah aroma dari bawang putih tidak disukai oleh serangga tersebut. Ataupun dengan cara kultur teknis yaitu menanam tomat atau cabai ditumpangsarikan dengan bawang putih atau bawang merah. 

KENIKIR SEBAGAI NEMATISIDA
Kenikir ternyata tidak hanya merupakan tanaman penghias taman akan tetapi bermanfaat juga sebagai Nematisida pada tanaman tomat yang terserang Nematisida puru akar akar (NPA). Caranya bahan kenikir diperoleh dengan memblender atau menumbuk 1 kg batang kenikir yang dilarutkan dalam 1 liter air. 

Sedangkan untuk aplikasinya yaitu dengan cara mencampur larutan hasil tumbukan kenikir tersebut dalam 20 liter air. Kenikir tidak disukai nematoda karena mengandung bioaktif seperti piperiton dan terrhienil yang bersifat antagonis terhadap nematoda. 

TEPUNG TULANG UNTUK PUPUK DAN PAKAN SAPI
Cara Pembuatannya 
- Tulang dipotong-potong 5 – 10 Cm 
- Rebus dalam air mendidih selama 2 – 4 jam 
- Dijemur kemudian diremukkan sampai berukuran 1 – 3 Cm 
- Rendam dalam larutan kapur selama 4 – 5 minggu 
- Tulang dicuci dan direbus 3 tahap; 
1). 4 jam pada suhu 600C, 
2). 4 jam pada suhu 700C, 
3). 5 jam pada suhu 1000C 
- Setelah tulang dikeringkan dalam open bersuhu 1000C 
- Digiling sampai lumat menjadi bubuk. 

MELAWAN MILDEW DENGAN SUSU
Mildew atau penyakit tepung sering ditemukan pada tanaman tomat, melon, dan cabai. Penyakit yang disebabkan oleh jamur Oidium Tingitanium itu memang tidak terlalu merugikan tetapi perlu diwaspadai dan dikendalikan. Adapun cara sederhana untuk mengendalikan jamur tersebut adalah dengan menggunakan susu. Caranya larutkan air dan susu dengan perbandingan 9:1 semprotkan pada tanaman yang terserang. Enzim pada susu dapat menetralisir mildew. 

ECENG GONDOK SEBAGAI PUPUK ORGANIK
Eceng gondok kaya akan asam humat "senyawa yang menghasilkan fitohormon yang mempu mempercepat pertumbuhan akar tanaman" eceng gondok juga mengandung asam sianida, triterpenoi
d, alkaloid, dan kaya akan unsur Calsium. 

Untuk pengolahan dapat digunakan acetobacter atau lainnya untuk mempercepat dekomposisi. Bakteri tersebut dicampur dengan molase dengan perbandingan 1 : 1 selama sepekan. Master bakteri tersebut siap digunakan setelah berbentuk kapang. Langkah selanjutnya eceng gondok yang diambil dari kolam dicincang atau digiling halus. Bahan kemudian dicampur dengan 10% dedak dan master bakteri selanjutnya campuran disimpan di bak yang dialasi plastik dan ditutup karung goni selama 4 hari. Suhu akan meningkat hingga 500C yang menandakan proses fermentasi sedang berlangsung. Fermentasi dianggap selesai apabila suhu sudah turun menjadi 300C. 

LEBIH AMAN DENGAN BIOPESTISIDA
Bio pestisida adalah penggunaan pestisida dengan bahan baku utama mikroorganisme. Contoh bakteri, virus, dan cendawan. Berbeda dengan hama yang merugikan petani, pasukan biopestisida ini bertugas menyerang hama tertentu. Hama yang terkena semprotan biopestisida ini akan terhambat perkembangannya bahkan bisa mati. Namun demikian dalam penggunaannya memerlukan lingkungan khusus. 

Contoh biopestisida ini adalah Cendawan Verticillium lecani digunakan untuk mengendalikan kutu putih, aphids, thrips, dan mites. Tak hanya itu sejenis nematoda yang disebut larvanem juga banyak dipilih untuk mengontrol larva black vine dan kutu kebul. Biopestisida berbahan aktif bakteri sudah duluan terkenal ketimbang mikroorganisme lainya. Bacillus thuringensis (Bt) adalah jenis paling populer yang banyak digunakan untuk mengendalikan ulat pemakan daun di sayuran dan buah-buahan. 

RESEP ALAMI DILAPANGAN
Untuk mengendalikan serangan ulat Hekiothis Armigera pada tanaman tomat 
Bahan : 
- 3 kg akar tuba 
- 10 kg buah mindi 
- 3 kg semak rondonoleh 
Cara Pembuatan ; 
Ketiga bahan ditumbuk sampai halus kemudian diberi air sebanyak 10 liter, kemudian diaduk sampai merata. Setelah didiamkan 1 – 2 malam larutan disaring dengan kain halus sehingga ampas tidak menyumbat nozle. Untuk aplikasi setiap 10 cc larutan dicampur dengan 1 liter air. Untuk mengendalikan hama jenis kutu-kutuan pada daun 
Bahan 1; 
- 1 kg daun sirsak 
- 3 sendok sabun detergen 
Cara pembuatan ; 
Tumbukan daun sirsak dilarutkan dalam 1 ember air bersih. Aduk-aduk beberapa saat kemudian saringlah. Hasil saringan dicampur dengan sabun detergen. Cara pemakain setiap 10 cc larutan dicampur dengan air 1 liter. 
Bahan 2; 
- Satu telapak tangan kulit batang suren. 
- 1 kg daun sirsak 
Cara pembuatan ; 
Tumbukan kulit batang suren dan daun sirsak dicampur 1 ember air bersih. Setelah diaduk-aduk kemudian disaring. Cara aplikasinya satu gelas hasil saringan dilarutkan dalam 1 liter air. Untuk mengendalikan hama Thrips yang sering menyerang bawang merah, cabai, kentang, kacang-kacangan, tembakau dan tomat. Thrips (Thrips parvispinus, Thrips tabaci, dan Thrips. Palmi) mengisap cairan tanaman dan mesofil daun. 
Bahan ; 
- 5 kg daun angsana 
- 5 kg daun rondonoleh 
- 10 kg gadung 
Cara pembuatan ; 
Daun angsana dan rondonoleh ditumbuk hingga lumat. Sedangkan gadung, setelah dikupas kemudian di parut. Campurkan kedua bahan itu dan rendamlah selama beberapa hari. Saring campuran itu, untuk aplikasinya untuk satu 1 gelas larutan dicampur dengan 2 liter air bersih. 

EFFECTIVE MICROORGANISM (EM)
EM banyak digunakan untuk mendukung kehidupan sehari-hari dan digunakan untuk beberapa tujuan antara lain membuat pakan ayam, menjernihkan air limbah, mengendalikan hama dan penyakit tanaman, menghilangkan bau dipeternakan, memproses obat tradisional dan sebagaianya. Sebagai contoh EM dicampur alkohol, tetes dan tanaman toga dapat digunakan sebagai pestisida. 

Fungsi EM pada dasarnya adalah untuk memfermentasikan bahan organik dalam tanah. Hasil fermentasi ini berupa gula, alkohol, vitamin, asam laktat, asam amino dan senyawa organik lainnya. Sedangkan dalam EM tersebut mwngandung mikroorganisme yang sangat berguna yaitu; 
1. Bakteri fotosintesis. Bakteri tersebut mensintesis Nitrogen, gula, dan senyawa bioaktif lainnya. 
Caranya dengan mengambil hasil sekresi, bahan organik dan gas berbahaya, hasil metabolismenya langsung dapat diserap oleh tanaman. Atau sebagai bahan untuk menumbuhkan mikroorganisme lainnya yang berguna bagi tanaman. 

2. Lactobacillus yang merupakan sterilisan yang kuat, lactobacillus dapat menekan beberapa mikroorganisme berbahaya dan mendokomposisi bahan organik dengan cepat. Selanjutnya ragi. Yang ini mampu memproduksi senyawa berguna bagi tanaman melalui proses fermentasi. 

3. Actinomycetes, ini mengubah asm amino dan senyawa lainnya yang diproduksi bakteri fotosintesis menjadi antibiotik bagi tanaman. Fungsi antibiotik adalah mengontrol patogen dan menekan pertumbuhan cendawan berbahaya dengan memecah chitin cendawan. Bakteri ini menciptakan lingkungan ideal untuk pertumbuhan bakteri menguntungkan lainnya. 

4. Cendawan fermentasi yang berfungsi mendekomposisi bahan organik untuk memproduksi alkohol 
ester dan senyawa antimikroba. Cendawan ini dapat mengontrol bau dan mencegah serangan hama. 

KIAT BUAT INSEKTISIDA SENDIRI
Untuk menanggulangi serangan berbagai jenis hama pada tanaman sayuran dapat dibuat insektisida sebagai berikut; 
1. Sediakan 100 ml air cucian beras yang pertama, 100 ml alkohol 30 – 35%, molase/tetes atau gula 
100 ml/0.5 ons, Em 100 ml, 100 ml Cuka 40%, 

2. Semua bahan dimasukkan kedalam wadah yang ditutup rapat. Setiap pagi dan sore hari dikocok, setelah selesai mengocok, tutup dibuka agar supaya oksigenya keluar. Setelah 15 hari pengocokan dihentikan. Diamkan 6 hari lagi tanpa dikocok. Ini merupakan larutan pertama, 

3. Rajang limbah cengkih, serei, jahe, kunyit, temulawak dan bawang putih. Campuran ini setelah ditumbuk dimasukkan kedalam 1 lt air cucian beras yang pertama. Setelah itu diberi molase 30 cc/l air. Tutup rapat-rapat, setiap hari dikocok selama 21 hari. Ini sebagai larutan kedua. 

4. Untuk pemakaian campurkan larutan pertama dan kedua dengan perbandingan seimbang. Untuk penyemprotan 10 cc larutan/ 1 liter air. 

BUNGA KRISAN SEBAGAI INSEKTISIDA
Rahasia bunga ini karena terdapat kandungan zat piretrin sebagai racun hama dan lalat buah. Sebagai 
contoh untuk insektisida organik adalah dengan cara bunga krisan sebanyak 25 gr dihancurkan hingga menjadi serbuk kemudian serbuk itu dilarutkan dalam 10 liter air. Hasil campuran dicampur dengan 10 cc detergen cair atau sabun colek. Setelah diendapkan selama semalam dain disaring dengan kain halus, larutan disemprotkan. Larutan ini salah satunya digunakan untuk memberantas hama kobis. Zat piretrin dalam bunga krisan berfungsi untuk merusak sistem syaraf hama. Efeknya akan makin hebat bila suhu disekitarnya menurun "piretrin bersifat negatif dengan suhu" di alam ia bekerja mirip insektisida sintesis DDT. Dari hasil penelitian makin tinggi tempat penanaman bunga krisan makin tinggi pula kandungan zat piretrinya sehingga akan lebih cepat mematikan. Namun demikian dari hasil penelitian kandungan zat itu hanya terdapat pada tepung bunga. Dengan konsentrasi 0,5% tepung bunga krisan mampu membunuh serangga gudang lebih dari 90% dari total populasi. 

PENGENDALIAN JENIS WERENG ATAU BELALANG DENGAN TIGA SERANGKAI (Pinang, Suren, dan Nimba)
Kandungan bahan aktif pada pinang yaitu minyak atsiri yang bersifat racun, suren mengandung bahan aktif (Surenon, Surenin, dan Surenalakton) yang berfungsi sebagai penghambat pertumbuhan, insektisida, dan antifeedan (penghambat daya makan) terhadap larva serangga. Bahan aktif tersebut terbukti sebagai repellant – pengusir nyamuk. Dan nimba yang mengandung bahan aktif azadirachtin, meliantriol, salanin, dan nimbin yang berfungsi sebagai pestisida nabati.

Nimba mempengaruhi reproduksi dan prilaku hama sebagai penolak, penarik, antimakan, dan menghambat perkembangan hama. Untuk penerapan tiga serangkai ini cukup mudah yaitu daun pinang, suren, dan biji nimba masing-masing sebanyak 250 gr digerus hingga halus. Ditambahkan 1 liter air dan diaduk hingga merata kemudian disaring. Kedalam larutan itu ditambahkan sabun colek sebanyak satu sendok makan supaya merekat pada waktu disemprotkan. Penyemprotan dilakukan 2 kali seminggu sejak tanaman berumur 15-60 hari. 

Disamping itu juga terdapat tumbuhan penghasil pestisida nabati lainnya diantaranya sari buah mahoni dicampur dengan tembakau untuk memberantas hama kutu daun alias aphids pada cabai. Kandungan bahan aktif mahoni yaitu heksaklorosiko- hekasana (HCH) berfungsi sebagai racun kontak. Sedang daun tembakau mengandung bahan aktif alkaloid yang mempengaruhi kerja syaraf serangga. Sedangkan untuk mengatasi serangan cendawan dapat digunakan perasan lengkuas, kunyit, jahe, dan serai. 

Jika dalam larutan itu ditambahkan biji mahoni atau cabai dapat dapat digunakan untuk memberantas 
semua hama kecuali ulat tanah. 

TEPHROSIA SEBAGAI INSEKTISIDA
Tephrosia disebut juga sebagai kacang babi disamping sebagai, pakan ternak, pupuk hijau, atau tanaman penanung ternyata perdu setinggi 3 meter tersebut bisa dimanfaatkan sebagai insektisida untuk ulat grayak. Daun tephrosia mengandung rotenon yang merupakan bahan aktif insektisida botani sistemik. Cara kerja zat ini "mengganggu pernafasan hama-umumnya serangga pengunyah seperti ulat". Selama ini yag dikenal sebagai penghasil rotenon adalah akar tuba (jenu). Menurut penelitian kandungan rotenon dalam daun tephrosia dipengaruhi umur tanaman, jenis tanah, ketinggian lahan dan agroklimat. Kandungan rotenon semakin tinggi jika tanaman ditanam pada da
taran rendah dan berumur 2 hingga 4 tahun. 

Untuk penggunaannya cukup sederhana. Kira-kira 10 gr daun yang telah digiling dicampur dengan 1 ltr air bersih. Tambahkan 0,1% sabun ditergen kedalam larutan itu dan diamkan selama semalam. Fungsi sabun dalam larutan itu adalah untuk mempercepat keluarnya rotenon dan melarutkannya. Hindari penyemprotan denkat kolam ikan karena efeknya mendekati akar tuba. 

RAMUAN PESTISIDA LAINNYA
1. Untuk Pengendalian Penyakit Patek (Antraknose) dan bercak daun (Althernaria porii) pada tanaman cabai. 
Bahan : 
- Kunyit 1 kg 
- Laos 1 kg 
- Kencur 1 kg 
- Jahe 1 kg 
Alat : 
Blender atau tumbukan 
Cara Pembuatan :
Hasil blenderan atau tumbukan bahan berupa pasta dilarutkan dalam 3 liter air. Kemudian ditambahkan 1 butir gambir, 1 ons gula pasir atau tetes tebu, dan 1 liter EM4 kedalam larutan itu. Campuran tersebut diamkan selama 7 hari. 
Cara Aplikasi :
Untuk pemakaian 2 cc larutan dicampur dengan 1 liter air. 

2. Untuk Pengendalian Ulat atau Walang Sangit 
Bahan ; 
- Gadung 2 kg 
- Jengkol 1 kg 
- Tembakau 1 kg 
Alat :
Blender atau alat penumbuk 
Cara Pembuatan ; 
Semua bahan diblender atau ditumbuk sampai berbentuk pasta, setelah berbentuk pasta ditambahkan 3 liter air, 1 ons tetes, dan EM4 1 liter. Kemudian larutan itu didiamkan selama 7 hari. 
Cara Aplikasi 
Untuk aplikasinya campurka 22 cc larutan kedalam 1 liter air. Untuk aplikasinya sebaiknya dilakukan pada waktu sore hari. 

Pestisida Organik 
Resep I
Bahan yang diperlukan : 
- Tembakau ½ kg; 
- Air 2 liter; 
- Kapur barus 4 butir digerus. 
Cara pembuatannya: 
- Tembakau direndam air 2 liter selama dua hari. 
- Campurkan gerusan kapur barus. 
- Setiap 2 sendok makan rendaman tembakau dan kapur barus dicampur dengan air cucian 1 liter. 
- Semprotkan pada tanaman yang sedang kena hama penyakit. 

Resep II 
Bahan yang diperlukan: 
- tembakau 1 ons; 
- jahe 1 ons; 
- bawang putih 1 ons; 
- air 5 liter. 
Cara pembuatannya: 
Jahe dan bawang putih dihaluskan, campur dengan tembakau dan masukkan air, tutup rapat dan simpan selama 2 hari 2 malam langsung digunakan. Resep pengendali hama ini bisa digunakan untuk 10.000 m2 lahan. 

Sebaiknya pestisida ini digunakan pada sore hari sekitar pukul 16.00 atau 17.00 WIB. Kalau masih ada sisa bisa disimpan kurang Iebih 1 minggu. Pemakaian bisa diulangi kalau hama penyakitnya masih belum hilang tuntas. 

Pengendali hama ini lebih efektif bila digunakan untuk tiga kali pemakaian, atau kalau misalnya masih tersisa banyak bisa disimpan di tempat yang tidak terkena sinar matahari. 

Cara Membuat Kompos
Kompos: adalah pupuk organik yang terbuat dari kotoran hewan dan diproses dengan bantuan bakteri. 
Bahan dan Komposisi:
100 kg arang sekam berambut 
200 kg kotoran hewan 
3-5 kg dedak atau bekatul 
0,5 kg gula pasir atau gula merah yang dicairkan dengan air/tetes 
0,5 liter bakteri 
Air secukupnya 
Cara Pembuatan:
Arang sekam, kotoran hewan, dedak, dan gula dicampur sampai rata dalam wadah yang bersih dan teduh. Jangan terkena hujan dan sinar matahari secara langsung. Campurkan bakteri ke dalam air kemudian siramkan campuran di atas sambil diaduk sampai rata. Tutup dengan plastik atau daun-daunan. Tiap dua hari sekali siram dengan air dan diaduk-aduk. Dalam 10 (sepuluh) hari kompos sudah jadi. 

Cara Pembiakan Bakteri
Untuk menghemat biaya, bibit bakteri EM4 yang dibeli di toko atau koperasi Saprotan dapat dikembangbiakkan sendiri, sehingga kebutuhan pupuk organik untuk luas lahan yang ada dapat dipenuhi. 
Adapun prosedur pembiakan bakteri EM4 adalah sebagai berikut: 
Bahan dan Komposisi:

1 liter bakteri 
3 kg bekatul (minimal) 
¼ kg gula merah/gula pasir/tetes tebu (pilih salah satu) 
¼ kg terasi 
5 liter air 
Alat dan Sarana:
Ember 
Pengaduk 
Panci pemasak air 
Botol penyimpan 
Saringan (dari kain atau kawat kasa) 
Cara Pembiakan:
Panaskan 5 liter air sampai mendidih. Masukkan terasi, bekatul dan tetes tebu/gula (jika memakai gula merah harus dihancurkan dulu), lalu aduk hingga rata. Setelah campuran rata, dinginkan sampai betul-betul dingin! (karena kalau tidak betul-betul dingin, adonan justru dapat membunuh bakteri yang akan dibiakkan). 
Masukkan bakteri dan aduk sampai rata. Kemudian ditutup rapat selama 2 hari. Pada hari ketiga dan selanjutnya tutup jangan terlalu rapat dan diaduk setiap hari kurang lebih 10 menit. Setelah 3-4 hari bakteri sudah dapat diambil dengan disaring, kemudian disimpan dalam botol yang terbuka atau ditutup jangan terlalu rapat (agar bakteri tetap mendapatkan oksigend ari udara). 

Selanjutnya, botol-botol bakteri tersebut siap digunakan untuk membuat kompos, pupuk cair maupun 
pupuk hijau dengan komposisi campuran seperti yang akan diuraikan dibawah ini. Catatan: Ampas hasil saringan dapat untuk membiakkan lagi dengan menyiapkan air kurang lebih 1 liter dan menambahkan air matang dingin dan gula saja. 

Pembuatan Pupuk Organik Cair (Ferinsa)
Pupuk ini merupakan pupuk organik cair hasil fermentasi atara urin sapi dengan bahan empon-empon dan susu sapi serta bahan lain. Penggunaan pupuk cair organik ferinsa dapat menekan penggunaan pupuk kimia maupun menguranginya 25% hingga 50 %. Disamping itu juga biaya usaha tani akan menjadi lebih murah karena pembuatan pupuk organik cair tersebut cukup sederhana dan murah. Pupuk ini bisa digunakan pada semua jenis tanaman dan mampu memperbaiki unsur hara tanah. 
Alat dan Bahan 
A. Alat
- Ember 
- Jerigen 
- Saringan 
- Parutan 
- Pengaduk 
- Panci 
- Timbagan 
B. Bahan
1. Urine sapi/Kelinci : 1 liter 
2. Susu Sapi : 50 cc 
3. Laos : 20 gr 
4. Kunir : 20 gr 
5. Kencur : 20 gr 
6. Tetes tebu : 50 cc 
7. Bumbu masak : 20 gr 
8. Kapur barus : 2,5 gr 
9. EM4 : 10 cc 
10. Temu ireng : 20 gr 
11. Air : 1 gelas 
12. Terasi : 20 gr 

C. Langkah kerja
- Siapkan alat dan bahan yang diperlukan 
- Bahan-bahan tersebut diatas ditimbang sesuai jumlah diatas 
- Laos, kunir, kencur, dan temu ireng di parut. 
- Parutan diberi air 1 gelas, kemudian diperas dan diambil airnya 
- Air hasil perasan didiamkan selama 15 menit 
- Sambil menunggu pengendapan, maka langkah selanjutnya adalah menghaluskan kapur barus. 
- Hasil perasan yang telah diendapkan diambil airnya, kemudian dicampur dengan susu 50 cc dan EM4 10 cc, sambil diaduk. Masukkan terasi 20 gr yang telah dihaluskan. 
- Kemudian campurkan urine sapi 1 liter kedalam campuran tadi dan juga masukkan kapur barus, aduk hingga homogen. 
- Hasil campuran bahan-bahan tersebut dimasukkan dalam jerigen sambil disaring. 
- Tutup jerigen rapat-rapat. 
- Simpan jerigen dalam kamar selama 15 hari dan usahakan tidak terkena sinar matahari. 
- Setelah 15 hari, Ferinsa dapat digunakan dengan perbandingan 1 liter pupuk : 40 – 50 liter air. 

PENGGENDALIAN GYAS (URET) 
Uret mempunyai 4 stadia yaitu telur, lundi (gayas), kepompong dan kumbang. Kumbang meletakkan telur secara berkelompok, 17 – 35 telur secara berkelompok pada tanah yang gembur bersampah. Stadium telur berlangsung selama 11 - 13 hari. Lundi yang baru menetas berwarna putih keruh dengan tiga pasang tungkai berwarna merah kecoklatan. Lundi mulai dijumpai dilapangan sekitar Februari hingga September. Stadium lundi mencapai 8 bulan. 

PENGENDALIAN URET 
Untuk pengendalian hama ini dianjurkan dengan 3 jurus. Yaitu perawatan tanaman sehingga sehat, 
menanam tanaman perangkap, dan menggunakan lampu perangkap kumbang. 

1. Perawatan tanaman secara baik. 
Tanaman yang sehat dan terawat dengan baik akan lebih tahan terhadap hama. Tanaman sehat juga akan lebih cepat mengatasi kerusakan dengan mempercepat proses penyembuhan. Tanaman sehat dapat diperoleh dengan cara budi daya dan perawatan yang baik pula misalnya dengan melakukan pemupukan  secara berimbang dan sanitasi lahan selain itu untuk penggunaan pupuk kandang dengan menggunakan pupuk kandang yang benar-benar matang. 

2. Penanaman tanaman perangkap 
Fungsi tanaman perangkap tersebut adalah untuk menarik larva uret. Misalnya dengan membenamkan singkong disela-sela tanaman utama. Tanaman perangkap ini digali secara rutin setiap minggu untuk mencari uret yang mengerubunginya. Setelah itu larva bisa diambil dan dapat digunakan untuk makanan ayam. 

3. Memasang lampu perangkap kumbang. 
Pengendalian dengan lampu tersebut adalah untuk memanfaatkan sifat kumbang yang memang tertarik dengan akan cahaya lampu. Alat yang digunakan sangat sederhana terbuat dari plastik yang berbentuk corong (kerucut terbalik) dengan rangka bambu diatasnya dipasangi lampu. Lampu diletakkan dilahan. Pemasangan lampu tersebut paling baik adalah bulan Oktober – Februari. Hal ini dilakukan untuk memotong siklus hama

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Penting Bagi Petani Organik dengan ANEKA PESTISIDA DAN PUPUK ALAMI "

Posting Komentar