PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH BAKTERI/ KUMAN pada Ternak Ruminansia




ANTHRAX 

Nama lain dari penyakit Anthrax adalah : radang limpa. 


Anthrax merupakan penyakit menular yang akut/ perakut, dapat menyerang semua jenis ternak berdarah panas bahkan manusia. Penyakit ini dapat menyebabkan angka kematian tinggi. 



1.Penyebab 
Penyebab penyakit ini adalah Bacillus anthracis. Kuman Anthrax dapat membentuk spora yang tahan hidup berpuluh-puluh tahun di tanah, tahan terhadap kondisi lingkungan yang panas, dan bahan kimia atau desinfektan. Oleh sebab itu, hewan yang mati karena menderita Anthrax dilarang melakukan pembedahan pada bangkainya agar tidak membuka peluang bagi organisme untuk membentuk spora. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia terutama daerah tropis. 

2.Penularan
Infeksi pada hewan dapat berasal dari tanah yang tercemar organisme/ kuman Anthrax. Kuman masuk tubuh hewan melalui luka, terhirup bersama udara atau tertelan. Pada manusia infeksi biasanya terjadi dengan perantaraan luka, dapat pula melalui pernafasan para pekerja penyeleksi bulu domba atau melalui saluran pencernaan bagi orang yang memakan daging hewan penderita Anthrax
yang dimasak tidak sempurna. 

3.Tanda tanda penyakit
Tanda tanda penderita Anthraxadalah sebagai berikut: 
a.Kematian mendadak dan adanya perdarahan di lubang-lubang kumlah (lubang hidung, lubang anus, pori pori kulit). 

b.Hewan mengalami kesulitan bernapas, demam tinggi, gemetar, berjalan sempoyongan, kondisi lemah, ambruk dan kematian secara cepat. 

c.Pada babi dan kuda gejalanya biasanya kronis dan menyebabkan kebengkakan pada tenggorokan. 

d.Pada manusia dapat terjadi tukak/ luka pada kulit dan kematian mendadak. 

4.Pencegahan
a.Vaksinasi yang teratur tiap tahun di daerah wabah. 
b.Pengawasan yang ketat terhadap lalu lintas/ keluar masuknya ternak. 
c.Mengasingkan ternak yang sakit/ diduga sakit. 
d.Bangkai ternak yang sakit/ diduga sakit tidak boleh dibuka, tetapi harus dibakar atau dikubur dalam-dalam. 

5.Pengobatan
a.Pemberian antibiotika berspektrum luas. 
Procain penisilin G, dosis untuk ruminansia besar (sapi, kerbau): 6.000 – 20.000 IU/Kg berat badan , sedang untuk ruminansia kecil (kambing, domba) : 20.000 – 40.000 IU/Kg berat badan. 

Streptomycin, dosis untuk ruminansia besar: 5 – 10 mg/Kg BB, sedang untuk ruminansia kecil : 50 – 100 mg/Kg BB. 

Kombinasi antara Procain Penisilin G dengan Streptomycin

Oksitetrasiklin, untuk ruminansia besar: 50 mg/10 Kg BB, sedang untuk ruminansia kecil: 50 mg/5 Kg BB. 

b.Pemberian antiserum yang tinggi titernya ( 100 – 150 ml ) 

6. Hubungan Kesehatan Masyarakat 
Anthrax merupakan penyakit zoonosis (suatu penyakit yang dapat ditularkan antara hewan dan manusia) yang sangat berbahaya, oleh karena itu hewan yang menderita Anthrax dilarang keras untuk dipotong. 

BRUCELLOSIS 
Nama lain : Penyakit Keluron Menular, Penyakit Bang, Demam Malta. 

Brucellosis merupakan penyakit menular yang menyerang beberapa jenis hewan terutama sapi serta dapat juga menyerang manusia. Penyakit ini dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar akibat terjadinya keguguran (keluron). Pada sapi, keluron biasanya terjadi pada kebuntingan berumur 7 bulan. Anak yang dilahirkan lemah kemudian mati. Dapat terjadi gangguan alat alat reproduksi, sehingga hewan menjadi mandul (majir) temporer atau permanen. Pada sapi perah produksi air susunya menurun. 

1. Penyebab
Penyebab penyakit ini adalah bakteri/ kuman Brucella. Beberapa spesies yang sering menimbulkan masalah bagi ternak ruminansia adalah Brucella melitensis yang menyerang kambing dan Brucella abortusyang menyerang sapi. 

2. Penularan
Infeksi terjadi melalui saluran makanan, saluran kelamin, selaput lendir atau kulit yang luka. Penularan juga dapat melalui inseminasi buatan (IB) akibat penggunaan semen yang tercemar oleh kuman Brucella. 

Brucella melitensis dapat menginfeksi sapi sewaktu digembalakan pada padang penggembalaan bersama sama dengan domba/ kambing yang terinfeksi. 

3. Tanda tanda penyakit
Tanda tanda yang ditemukan pada penderita adalah sebagai berikut: 
♦Terjadi keguguran/ keluron pada kebuntingan 5 – 8 bulan. 
♦Sapi mengalami keguguran/ keluron 1 sampai 3 kali, kemudian kelahiran normal dan kelihatan sehat. 
♦Kemajiran/ kemandulan temporer atau permanen. 
♦Pada sapi perah terjadi penurunan produksi susu. 
♦Cairan janin yang keluar kelihatan keruh. 
♦Pada hewan jantan terjadi peradangan pada buah pelir dan saluran sperma. 
♦Kadang kadang ditemukan kebengkakan pada persendian lutut. 

4. Pencegahan
Usaha pencegahan terutama ditujukan pada tindakan sanitasi dan tata laksana. Tindakan sanitasi dilakukan sebagai berikut : 
a.Sisa abortus disucihamakan, fetus dan plasenta harus dibakar, vagina bila mengeluarkan cairan harus diirigasi selama satu minggu. 

b.Hindari perkawinan antar pejantan dengan betina yang mengalami keguguran/ keluron. 

c.Anak anak hewan yang lahir dari induk yang menderita Brucellosis sebaiknya diberi susu dari hewan yang bebas penyakit. 

d. Kandang kandang hewan penderita dan peralatan yang tercemar oleh penderita harus disucihamakan dengan desinfektansia. Desinfektansia yang dapat dipergunakan: Phenol, Kresol, Ammonium Kwartener, Biocid, Lysol dan lain lain. 

5. Pengobatan
Belum ada pengobatan yang efektif. 

6. Hubungan Kesehatan Masyarakat
Brucellosis termasuk penyakit zoonosis yang memiliki resiko tinggi. Oleh karena itu dianjurkan jangan meminum susu atau produk yang tidak dimasak atau diproses. Sapi yang menderita Brucellosis dapat dipotong untuk dikonsumsi di bawah pengawasan Dokter Hewan/ Petugas Kesehatan Hewan. Daging sebelum dikonsumsi dilayukan terlebih dahulu, sedangkan sisa pemotongan dimusnahkan dengan dibakar atau dikubur. Jangan membantu atau menangani proses kelahiran dari hewan betina yang terinfeksi tanpa melindungi tangan dan lengan dengan sarung tangan karet/ plastik. 

SEPTICHAEMIA EPIZOOTICA ( SE ) 
Nama lain : Penyakit Ngorok, Septicemia Hemorrhagica, Hemorrhagic Septicemia, Barbone. 

Penyakit SE merupakan penyakit menular terutama menyerang sapi dan kerbau. Penyakit biasanya berjalan akut. Angka kematian tinggi terutama pada penderita yang telah memperlihatkan penyakit dengan jelas.

1. Penyebab
Penyakit SE disebabkan oleh kuman Pasteurella multocida. 

2. Penularan
Infeksi berlangsung melalui saluran pencernaan dan pernapasan. Cekaman pada ternak merupakan pr
edisposisi untuk terjangkitnya penyakit. Sapi atau kerbau yang terlalu bayak dipekerjakan, pemberian pakan yang berkualitas rendah, kandang yang penuh dan berdesakan, kondisi pengangkutan yang melelahkan, kedinginan dan keadaan anemia dapat memicu terjadinya infeksi. 

3. Tanda tanda penyakit
Penderita penyakit SE ditandai antara lain : 
♦Kondisi tubuh lesu dan lemah. 
♦Suhu tubuh meningkat dengan cepat diatas 41 º C. 
♦Tubuh gemetar, mata sayu dan berair. 
♦Selaput lendir mata hiperemik. 
♦Nafsu makan, memamah biak, gerak rumen dan usus menurun sampai hilang disertai konstipasi. 
♦Pada bentuk busung, terjadi busung pada kepala, tenggorokan, leher bagian bawah, gelambir dan kadang kadang pada kaki muka. Derajad kematian bentuk ini dapat mencapai 90 % dan berlangsung cepat (3 hari – 1 minggu). Sebelum mati, hewan terlihat mengalami gangguan pernapasan, sesak napas (dyspneu), suara ngorok dengan gigi gemeretak. 
♦Pada bentuk pektoral, tanda tanda brhoncopnemoni lebih menonjol. Mula mula bentuk kering dan nyeri diikuti keluarnya ingus, pernapasan cepat dan susah. Pada bentuk ini proses penyakit berlangsung lebih lama (1 – 3 minggu). 
♦Penyakit yang berjalan kronis, hewan menjadi kurus dan sering batuk, nafsu makan terganggu dan terus menerus mengeluarkan air mata, suhu badan normal tetapi terjadi mencret bercampur darah. 

4. Pencegahan
♦Pada daerah bebas SE perlu peraturan yang ketat terhadap pemasukan ternak kedaerah tersebut. 
♦Bagi daerah tertular, dilakukan vaksinasi terhadap ternak yang sehat dengan vaksin oil adjuvant. Sedikitnya setahun sekali dengan dosis 3 ml secara intramuskuler. Vaksinasi dilakukan pada saat tidak ada kejadian penyakit. 

5. Pengobatan
Pengobatan penyakit SE dapat diberikan antibiotika sebagai berikut : 
♦Oxytetracycline dengan dosis 50 mg/10 Kg BB (sapi, kerbau), 50 mg/5 Kg BB (kambing, domba). 
♦Streptomycin dengan dosis 5 –10 mg/Kg BB (sapi, kerbau), 50 – 100 mg/Kg BB (kambing, domba}. 
♦Sulphadimidine (Sulphamezathine):2 gram/30 Kg BB. 

6. Hubungan Kesehatan Masyarakat
Ternak yang terserang penyakit dapat dipotong dan dagingnya dapat dikonsumsi dibawah pengawasan Dokter Hewan/ petugas kesehatan hewan. Jaringan yang terserang terutama paru paru dimusnahkan dengan dibakar atau dikubur. Semua pakan dan minuman yang tercemar harus dimusnahkan dan wadahnya disucihamakan. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH BAKTERI/ KUMAN pada Ternak Ruminansia"

Posting Komentar