Jumat, 23 Desember 2016

Budidaya tanaman pala dan pengolahan hasil panen




BUDIDAYA TANAMAN PALA

Pengadaan bahan tanaman untuk bibitPada dasarnya pengadaan tanaman pala dapat dilakukan dengan beberapa cara 
  • Perbanyakan dengan biji 
  • Perbanyakan dengan cangkokan 
  • Perbanyakan dengan okulasi 
  • Perbanyakan dengan sambungan / grafting 
Perbanyakan dengan biji 
Biji- biji pala yang akan digunakan sebagai benih harus memenuhi beberapa syarat antara lain (1) harus berasal dari pohon induk terpilih, (2) Biji segar matang panen berwarna coklat muda dan tertutup penuh dengan seludang fuli yang berwarna merah, (3) biji yang kering berwarna coklat tua sampai hitam mengkilap dengan bobot minimal 50 gram/biji, serta tidak terserang hama dan penyakit. Setelah pemetikan haruslah disemaikan dengan selambat-lambatnya ± 24 jam penyimpanan. Untuk mendapatkan benih dengan daya kecambah yang tinggi 12 sebaiknya biji diambil dari pohon induk yang letaknya berdekatan dengan pohon yang berbunga jantan. 

Pengecambahan, perlu dilakukan sebab biji pala termasuk benih rekalsitran  \yang cepat menurun daya kecambahnya. Pengecambahan dapat dilakukan dengan beberapa cara sbb: 
  1. Sesaat setelah panen segera lakukan seleksi benih dengan memilih benih yang tua ditandai dengan tempurung menghkilat berwarna hitam kecoklatan, bebas dari hama dan penyakit, tidak keriput dengan fuli tebal dan biji besar 
  2. Sediakan serbuk gergaji yang sudah lapuk atau jerami campur humus, dalam kotak atau bedengan pengecambahan dengan lebar 0,50 – 1m.dan panjang sesuai kebutuhan. Siram dengan larutan gula 10 %, biarkan selalu lembab. Kemudian letakan benih pala secara berbaris benih yang baru diseleksi dengan jarak berdekatan (0,50x 1 cm atau 1 x 1 cm). 
  3. Selanjutnya tutup dengan karung goni atau daun rumbia atau kertas koran. Kelembaban harus selalu dijaga 
  4. Untuk mempercepat pengecambahan dapat diberi perlakuan pemecahan kulit/batok pangkal biji, sehingga retak atau belah atau mengelupas dengan tidak merusak daging bijinya. Dapat dilakukan pengikiran/hampelas batok pangkal biji sehingga tipis 
  5. Setelah biji berkecambah, kemudian dilakukan pesemaian pada polibeg yang telah disediakan (diisi dengan media campuran kompos/pupuk kandang dan tanah. 1:1) 
Pesemaian sangat diperlukan di dalam pengadaan bibit untuk perkebunan pala. Pembibitan ini merupakan langkah awal dari penentuan terlaksananya usaha perkebunan tanaman tersebut. Pesemaian dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengecambahkan biji dengan menggunakan kotak yang telah diisi pasir halus, serbuk sabut kelapa, serbuk gergaji yang sudah steril. Biji diatur sedemikian rupa dan bersentuhan dan bakal kecambah mengarah pada satu sisi yang sama. Setelah berumur 4 – 8 minggu, bakal akar sudah keluar dengan diikuti keluarnya kecambah, selanjutnya bisa dipindahkan ke polibag. 

Pesemaian dapat pula dilakukan pada bedengan yang sudah disiapkan sebelum buah dipetik. Pesemaian ini sekaligus berfungsi sebagai persemaian pemeliharaan, dan diperlukan pengolahan tanah yang sempurna. Jarak tanam pada pesemaian ini perlu diatur yaitu 15 x 15 cm atau 15 x 20 cm agar nanti pada saat pemindahan mudah diputar pada umur ±1 tahun dengan ketinggian ±1 meter. Pesemaian dapat juga dilakukan langsung pada polibag ukuran 20 x 30 cm. Media yang digunakan berupa campuran tanah dan pupuk kandang 2 : 1, polibag diatur berjejer di bawah naungan dengan lebar 120 cm, sedangkan panjangnya tergantung situasi setempat. Dengan mempergunakan polibag akan mempermudah pemindahan bibit ke lapangan. 

Perbanyakan dengan cangkokan 
Pada dasarnya mencangkok tanaman pala sama dengan mencangkok tanaman lainnya. Pencangkokan tanaman adalah usaha perbanyakan tanaman dengan tidak mengurangi sifat-sifat induknya. Pada umumnya pohon-pohon yang akan dicangkok adalah dari pohon-pohon yang terpilih dan cabang yang dicangkok adalah yang sudah berkayu tapi tidak terlalu tua atau terlalu muda Penelitian dengan cangkokan yang dilakukan di Grenada berhasil dengan memuaskan. Dengan memilih cabang yang cukup besar. Pada jarak 15 cm dari batang, kulit dikupas lebih dari separuh sepanjang 2-3 cm. Luka akibat pengelupasan ditutup, kemudian dibalut tanah yang sebelumnya telah dicampur pupuk kandang. 

Pada umur 6 bulan setelah perlakuan , sudah keluar akar yang cukup banyak. Cara lain dari cangkokan ialah dengan memilih cabang tanaman berdiameter rata-rata 1.5 cm. Cabang disayat dari bawah ke atas sepanjang 5 cm, luka akibat pemotongan ditutup dengan MOS yang telah dibasahi, selanjutnya dibungkus. Cangkokan akan mulai berakar pada umur 4 – 18 bulan. 

Perbanyakan dengan okulasi 
Perbanyakan dengan okulasi pada tanaman pala dilakukan sebagaimana pengokulasian tanaman lainnya, yaitu dengan cara okulasi T terbalik atau cara Fokkert yang disempurnakan. Hanya untuk mendapatkan mata tunas dari entres yang dekat dengan daun yang utuh sangat sulit sebab kebanyakan diperoleh mata tidur, tetapi pada percabangan yang sudah tua dan besar selalu mata tunas tersebut dapat tumbuh segera setelah dilakukan pemotongan cabang bagian ujung. Hal ini yang menyebabkan pelaksanaan okulasi pada tanaman pala selalu gagal, karena mata entres jauh lebih tebal atau lebih besar dari diameter batang bawah. 

Perbanyakan dengan sambungan (grafting) 
Ada dua cara yang bisa dilakukan, yaitu penyambungan pada pucuk dan susuan. 
  • Sambungan pada pucuk (enten) Cara ini merupakan cara yang banyak dilakukan pada penyambungan tanaman yang sulit diokulasi. Penyambungan ini dilakukan pada umur bibit ± 3 – 4 bulan setelah berkecambah. Ambil entres dari tunas ortotrop yang besarnya sama dengan batang. bawah Cara penyambungan tanaman (batang bawah) dipotong pada bagian pucuk ± 3 – 5 cm, pada ketinggian 15 – 20 cm dari permukaan tanah, lalu dibelah ± 1 - 1.5 cm. Ambil entres berdaun 4 – 6 dari tunas ortotrop, buang daun bagian bawah 2 4 lembar pada bagian pangkal, entres diruncingkan pada bagian kiri dan kanan sehingga berbentuk V. Selanjutnya masukkan belahan pada batang bawah tadi, lalu diikat dengan tali plastik es, untuk mendapatkan keberhasilan yang sempurna, bibit sambungan tadi ditaruh di dalam bedengan dan tutup dengan sungkup plastik. Perlu disiram pagi dan sore hari seperlunya dan jangan sampai air berlebihan. Bila bibit cukup banyak, sebaiknya bibit jangan disungkup individu tapi disungkup dalam kurungan plastik . 
  • Susuan (apprough – grafting) Bibit yang berumur ± 4 bulan dimana pertengahan batang mulai beralih dari warna hijau ke merah kecoklatan adalah yang terbaik untuk disambung secara susuan lalu dicari tunas yang sama besarnya (sebaiknya tunas tegak lurus) pada pohon induk terpilih, lalu disayat pada sisi bagian tengah sepanjang 3 – 5 cm dan tebal 2 – 4 mm, demikian pula pada batang bawah bibit tadi. Bekas sayatan pada bibit dan tunas tadi ditempelkan pada luka yang sama, usahakan kedua kambium bertemu, kemudian diikat dengan tali plastik es dimulai dari bawah ke atas secara rapat dan kuat, agar air tidak masuk, biasanya pada umur 60 – 75 hari penyambungan susuan itu sudah bersatu dan sudah bisa dipotong ± 5 cm dibawah sambungan pada tunas pohon induk (entres), bekas luka diolesi dengan ter tanaman untuk menghindari infeksi, sedang batang bagian atas dari sambungan pada bibit (batang bawah) sebaiknya jangan terus dipotong, tetapi disayat ± 7 cm diatas sambungan lalu dirundukkan ke bawah, setelah 15 – 20 hari baru dipotong. Bibit setelah putus dari pohon induk ditaruh di tempat teduh dengan intensitas penyinaran ± 25 %, dan secara perlahan-lahan ditingkatkan dengan cara membuka atap/pelindung sedikit demi sedikit. Hal ini penting untuk memberi kesempatan pertumbuhan akar, sehingga pada penanaman di kebun akan mengurangi gangguan akar. Bibit yang disemai dalam polibag, penanamannya dapat langsung ke lapangan. 
Persiapan lahan 
Sebelum bibit ditanam, kebun harus sudah dipersiapkan. Pada garis besarnya, 
persiapan lahan meliputi kegiatan sebagai berikut : 
  • Pembabadan semak belukar dan penebangan pohon-pohon (kebun yang baru dibuka). Sebaiknya pembukaan areal ini dilakukan pada musim kemarau, sehingga semak belukar tersebut tidak cepat tumbuh kembali. 
  • Pengolahan tanah dimaksudkan untuk menggemburkan tanah, menyingkirkan akar dan sisa-sisa tanaman serta menciptakan areal yang serasi. Pengolahan tanah pada areal miring harus dilakukan menurut arah melintang lereng (contour). Efek utama pengolahan tanah menurut cara ini adalah terbentuknya alur yang dapat menghambat aliran permukaan dan menghindari terjadinya penghanyutan tanah bagian atas (erosi). Pada tanah dengan tingkat kemiringan 20 % perlu dibuat teras dengan ukuran ± 2 m (disesuaikan dengan keadaan solum tanah, makin dalam solum makin lebar ukuran teras) atau dapat puladibuat teras terusan dngan penanaman sistem contour. 
  • Sebelum dilakukan pembuatan lubang tanam, ditentukan dahulu jarak tanam yang akan digunakan. Pada umumnya jarak tanam untuk tanaman pala ialah 9 x 10 m dengan sistem bujur sangkar atau 10 x 10 m. Dengan jarak tanam tersebut dahan-dahannya tidak akan bersilangan dan dengan keadaan ini kapasitas untuk berproduksi adalah maksimal pada umur dewasa (Flach, 1966). Pembuatan lubang tanam biasanya berukuran 60 x 60 x 60 cm. Pada tanah yang berliat tinggi, sebaiknya ukuran lubang tanam lebih besar 100 x 100 x 100 cm. Tanah lapisan atas dan lapisan bawah dipisah, karena kedua lapisan tersebut mengandung unsur yang berbeda. Setelah pembuatan lubang tanam berumur lebih satu bulan, tanah dikembalikan, lapisan bawah kembali ke lapisan bawah dan lapisan atas setelah dicampur dengan pupuk kandang matang, baru dimasukkan kembali ke dalam lubang bagian atas. Dua atau tiga minggu kemudian penanaman dapat dilakukan. 
Penanaman 
Bibit yang akan ditanam biasanya yang telah berumur lebih satu tahun, dan tidak lebih dari dua tahun. Kalau bibit lebih dari ketentuan tersebut, akibat lama dipembibitan, pertumbuhannya akan terlambat, sebab akar sudah berlipat-lipat. Sebaiknya penanaman dilaksanakan pada awalmusim penghujan agar ketersediaan air terjamin. Cara penanaman adalah dengan membuat lubang tanam kecil ditengah lubang tanam awal, setinggi dan selebar keranjang atau polibag bibit, lalu polibag disayat dari atas ke bawah dengan pisau secara hati-hati agar akar dan tanah dalam polibag tersebut tidak rusak, kemudian dilakukan penanaman sampai leher batang terkubur tanah, lalu tanah dirapihkan kembali. Uintuk menjaga tanaman muda dari sengatan matahari langsung perlu dibuatkan naungan dari tiang bambu atau kayu dengan atap daun kelapa atau alang-alang, sampai tanaman betul-betul tahan dari sinar matahari. 

 Pemeliharaan 
Untuk menjamin keberhasilan berproduksi di masa mendatang, maka sejak awal pertanaman pala perlu pemeliharaan yang baik, di antara kegiatan pemeliharaan pertanaman pala adalah : 
  1. Penanaman pohon pelindung Tanaman muda umumnya tidak tahan terhadap panas sinar matahari langsung, sehingga diperlukan naungan serta penanaman pohon pelindung yang sekaligus sebagai penahan angin karena tanaman pala sangat peka terhadap angin yang keras. Beberapa pohon pelindung dapat digunakan diantaranya Albazia, Lamtoro, Glirisidia dan berbagai jenis tanaman leguminosae lainnya. Setelah tanaman pala berumur 3 – 4 tahun, pohon pelindung dapat dikurangi secara bertahap. 
  2. Penyulaman Bibit yang mati, dan yang pertumbuhannya terhambat sebaiknya segera dilakukan penyulaman agar idak menjadi parasit dalam usaha pertanaman pala. Kegiatan penyulaman ini dapat dilakukan sejak umur satu bulan setelah tanam. 
  3. Penyiangan Biasanya setelah tanaman berumur 2 – 3 bulan, rumput dan tanaman pengganggu lainnya disekitar pertanaman pala sudah banyak yang tumbuh. Hal ini menimbulkan persaingan tanaman paladengan rerumputan tersebut dalam penggunaan unsur hara, oleh sebab itu perlu dilakukan penyiangan (bobokor) agar persaingan dalam pengambilan unsur hara dapat diperkecil, sehingga tanaman pala tumbuh dan berkembang dengan baik. Untuk selanjutnya penyiangan cukup dilakukan sekitar piringan tanaman yang pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan perkembangan gulma. 
  4. Pemupukan Untuk menjamin ketersediaan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman pala terutama unsur makro (N, P dan K ) di dalam tanah, bagi pertumbuhan dan produksi tanaman, maka diperlukan pemupukan. Dosis pemupukan yang dianjurkan berdasarkan tingkat umur untuk tanaman pala. 
Pengendalian Hama dan Penyakit 
Disamping perbaikan teknik bercocok tanam, perlu pula diupayakan penanggulangan serangan hama dan penyakit sehingga kelangsungan pertanaman serta kualitas dan kuantitas produksi dapat terus dipertahankan malah dapat ditingkatkan. 
  1. Hama Hama yang sering dijumpai menyerang biji pala adalah Oryzaephilus mercator (Faufel) dan Areacerus fasciculatus. Ke-dua hama ini bersifat kosmopolitan dan menyebabkan kerugian besar terutama pada produk-produk dalam simpanan. Hama lain adalah yang menyerang batang yaitu Batocera hercules. Hama ini banyak diketemukan di Sulawesi Utara dengan tingkat serangan yang cukup tinggi. Usaha pengendalian terhadap hama yang menyerang biji yang sudah berada di gudang – gudang adalah dengan melakukan fumigasi Methyl Bromida. Sedangkan penyemprotan insektisida kontak dapat puladilakukan untuk serangan di lapang dengan menggunakan insektisida Malathion. Pengendalian terhadap hama penggerek batang adalah dengan memberikan insektisida pada kapas kemudian dimasukkan pada semua lobang gerekan dan kemudian ditutup dengan sepotong kayu. 
  2. Penyakit Penyakit utama yang paling merugikan pada pertanaman pala di Indonesia adalah penyakit busuk kering dan busuk basah yang disebabkan oleh jamur serta penyakit layu yang diduga disebabkan oleh mikroorganisme. 
  • Penyakit busuk kering 
Penyakit ini disebabkan oleh sejenis jamur yaitu Stigmina myrtaceae,. Gejala penyakit umumnya ditemukan pada buah yang telah berusia 5 – 6 bulan ke atas. Pada buah yang terinfeksi akan diketemukan bercak coklat atau hitam kehijauan dengan ukuran yang bervariasi. Serangan penyakit ini merupakan bercak yang mengering, buah menjadi keras, dan pada permukaan kulit terbentuk masa jamur berwarna hitam kehijauan, diikuti dengan pecahnya buah dan buah kemudian gugur 
  • Penyakit busuk basah 
penyebab penyakit ini adalah jamur Colletotrichum gloesporioidesPenzig. Penyakit ini muncul pada saat buah-buah hampir masak atau buah yang pecah kadang ditemukan bersama-sama dengan serangan penyakit busuk kering. Pada buah yang terinfeksi terjadi peribahan warna menjadi coklat, daging buah busuk, lunak dan berair/kebasah-basahan. Bila gejala berkembang nampak buah seperti habis dimasak air panas. Buah terserang pada pangkalnya, sehingga akan mudah gugur ke tanah. Pengendalian ke-dua penyakit ini pada prinsipnya sama karena penyebab kedua penyakit tersebut adalah jamur dan bagian yang terserang adalah buah. Pendekatan yang dapat dilakukan adalah menghilangkan sumber inokulum, mengurangi kelembaban dan melindungi buah dengan penyemprotan fungisida. Menghilangkan inokulum dapat dilakukan dengan cara membenamkan buah-buah yang sakit/terserang ke dalam tanah. Mengurangi kelembaban kebun dengan mempergunakan jarak tanam yang lebar misalnya 10 x 10 meter, pembersihan tumbuhan pengganggu disekitar tanaman, mengurangi tanaman pelindung, serta kalau perlu melakukan pemangkasan cabang dan ranting yang saling persentuhan, serta penyemprotan dengan fungisida Delsene MX-200, pada musim hujan. 
  • Penyakit Layu 
Diduga penyebab penyakit layu ini adalah Mikroorganisme patogenik didukung oleh keadaan lingkungan yang sangat lembab. Gejala nampak pada daun, daun menguning dan layu dari pucuk bagian atas, berlanjut dari satu cabang ke cabang lain kemudian gugur seluruhnya dan tanaman mati meranggas. Jika akarnya dibongkar terlihat warna hitam kecoklatan. Secara keseluruhan gejala ini mirip dengan gejala BPKC pada tanaman cengkeh. Penanggulangan yang dapat dianjurkan antara lain, mengurangi kelembaban kebun dengan memotong tanaman liar sehingga sinar matahari cukup masuk diantara tanaman pala. Membuat saluran drainase sekeliling kebun agar air tidak menggenang, memusnahkan tanaman yang terserang serta penyemprotan fungisida Dithane M-45, Benlite, Difolatan 4f. 
  • Penyakit lain 
Penyakit lain yang menyerang tanaman pala dalam skala kecil dan sporadis serta secara eknomis nilai kerusakan\nya relatif kecil antara lain penyakit antrachnosa pada daun dan benang putih. Penanggulangan terhadap kedua jenis penyakit ini adalah sama yaitu mengurangi kelembaban kebun, memotong dan memusnahkan ranting yang terinfeksi, serta penyemprotan dengan fungisida. 

Pola Tanam 
Dalam upaya meningkatkan pendapatan petani, salah satu upaya adalah dengan memanfaatkan lahan seoptimal mungkin, dengan menanam berbagai jenis tanaman dengan memperhatikan syarat tumbuh dari setiap tanaman itu sendiri. 

Peluang tanaman pala sebagai tanaman pokok atau pun sebagai tanaman sela sangat memungkinkan karena banyak lahan diantaranya belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk menentukan/mendapatkan jenis tanaman apa yang tepat bergandengan dengan tanaman pala, beberapa hal yang perlu di perhatian adalah sebagai berikut : 
  • Kesesuaian lingkungan yang diartikan sebagai kecocokkan lahan untuk tanaman tersebut. 
  • Tidak bersifat saling merugikan baik terhadap tanaman sela atau tanaman pokok. 
  • Tidak menimbulkan persaingan, terutama dalam pengambilan zat makanan. 
  • Tidak memiliki kesamaan sebagai inang timbulnya hama atau penyakit. 
  • Memiliki kemampuan saling menguntungkan. 
  • Tanaman tersebut memiliki nilai ekonomis. 
  • Berwawasan lingkungan, artinya berkemampuan mengawetkan alam. 
Sehingga kelestariannya tetap terjamin sesuai konsep ekologi yang diinginkan bersama. Sebagai contoh upaya menekan sekecil mungkin tingkat erosi tanah yang kelak dapat menurunkan tingkat kesuburan tanah. Peluang tanaman pala sebagai tanaman sela jumlahnya tergantung umur tanaman pokok, pada tanaman kelapa berumur 10 tahun, tanaman pala dapat tumbuh dan berproduksi cukup baik sebagai tanaman sela diantara tanaman kelapa. Sedangkan sebagai tanaman pokok, tanaman pala dapat dipola tanamkan dengan berbagai jenis tanaman palawija, tanaman temu-temuan serta berbagai tanaman obat. Jarak tanam pala yang biasa dipergunakan adalah 10 x 10 m, dengan jarak tanam tersebut banyak lahan yang kosong terutama pada saat tanaman pala berumur di bawah 4-5 tahun, lahan ini dapat dimanfaatkan untuk ditanami berbagai jenis tanaman semusim misalnya tanaman palawija. 

Panen 
Tanaman pala mulai berbuah pada umur 7 – 8 tahun dan pada umur 10 tahun dapat berproduksi secara menguntungkan. Tanaman pala hasil grafting dapat berbuah umur 4 – 5 tahun sedang tanaman hasil cangkokan berbuah umur 3 – 4 tahun. Produksi tanaman pala terus meningkat dan pada umur 25 tahun mencapai produksi tertinggi dan dapat terus berproduksi sampai umur 60 – 70 tahun. Dalam satu tahun pala dapat dipanen dua kali. Umumnya buah pala telah dapat dipanen setelah cukup tua, umur buah ± 6 bulan sejak dari bunga. Tanda-tanda buah pala yang sudah cukup tua adalah jika sebahagian buah pala dari suatu pohon sudah merekah. Cara pemanenan buah pala dapat dilakukan dengan menggunakan galah yang pada bagian ujungnya diberi keranjang atau dengan cara memetik langsung dengan cara menaiki batang dan memilih buah-buah yang telah betul-betul tua. Buah yang telah dipetik segera dibelah, dipisahkan daging buah, biji dan fulinya. Biji pala dan fulinya segera dijemur untuk menghindari serangan hama dan penyakit yang dapat mengurangi mutunya. 

Pengolahan dan penganerakaragaman hasil 
Buah pala terdiri atas daging buah (pericarp) dan biji yang terdiri atas fuli, tempurung dan daging biji. Fuli adalah serat tipis (areolus) berwarna merah atau kuning muda, berbentuk selaput berlubang-lubang seperti jala yang terdapat antara daging dan biji pala. Menurut Somaatmadja (1984), dari buah pala segar dihasilkan daging buah sebanyak 83.3 %, fuli 3.22 %, tempurung biji 3.94 %, dan daging biji sebanyak 9.54 %. 

Pemanfaatan buah pala secara optimal serta dilakukannya usaha-usaha penganekaragaman bentuk produk pala yang dipasarkan sangat penting artinya, sehingga pendapatan petani pala tidak hanya tergantung dari penjualan biji pala saja. Selain peningkatan nilai tambah bagi usaha pemanfaatan buah pala secara optimal akan meningkatkan daya tahan petani pala terhadap perubahan harga biji pala akhir-akhir ini. 

Semua bagian buah pala dapat dijadikan bahan olahan yang mempunyai nilai ekonomis. Biji dan fuli pala kering merupakan dua bentuk komoditas pala di pasar intenasional, keduanya dapat diolah menjadi minyak pala yang memberikan nilai tambah, sedangkan daging buahnya dapat dibuat berbagai macam produk pangan seperti manisan pala, sari buah, selai pala, chutney dan jelli. 

Biji dan fuli kering 
Untuk dijadikan bahan yang dapat diekspor, biji dan fuli pala perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Proses pengolahan dimulai dengan melepaskan biji dari dagingnya, fuli yang membungkus biji dilepas dengan jalan memipil mulai dari ujung. Pengeringan biji dan fuli dapat dilakukan dengan penjemuran atau menggunakan alat pengering. 

Secara tradisional biji pala dijemur dengan memakai alas tikar atau lantai semen dibawah sinar matahari. Yang harus diperhatikan dalam penjemuran adalah lamanya pengeringan harus tepat. Pengeringan yang terlalu cepat dengan panas yang  tinggi mengakibatkan biji menjadi pecah. Biji yang telah cukup kering adalah yang telah terlepas dari bagian cangkangnya dengan kadar air 8 – 10 %. Sedangkan pengeringan fuli dengan bantuan sinar matahari dilakukan secara perlahan-lahan selama beberapa jam, kemudian dikering anginkan. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai fuli menjdi kering. Cara pengeringan semacam ini dapat menghasilkan fuli yang kenyal (tidak rapuh) dan bermutu tinggi. 

Minyak pala 
Biji pala dan fuli dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku minyak pala. Minyak pala biasanya disuling dari biji pala berumur 3 – 4 bulan dengan rendemen minyaknya 6 – 17 %. Biji pala yang tua, rendemennya lebih rendah 8 – 13 %. Penyulingan biji pala dan fuli dapat dilakukan dengan sistem uap bertekanan rendah (± 1 atmosfer ) atau dilakukan secara dikukus. Untuk tingkat pengrajin, penyulingan secara pengukusan lebih memungkinkan karena investasinya lebih murah. Biji pala yang akan disuling digiling terlebih dahulu, untuk memudahkan keluarnya minyak atsiri dari bahan. Penyulingan biji pala dengan kapasitas besar hendaknya bahan di dalam ketel disusun secara difraksi (diberi antara) agar uap air dapat berpenetrasi dengan merata, dengan demikian penyulingan akan lebih singkat dan rendemennya lebih tinggi. Penyulingan cara itu membutuhkan waktu 8 jam dengan rendemen minyak 13.33 %, sedang tanpa difraksi membutuhkan waktu 10 jam dengan rendemen minyak 12.98 %. 

Untuk penyulingan fuli pala tidak perlu fulinya dihancurkan sebelum disuling. Kadar minyak atsiri dari fuli yang masih muda yang berwarna keputih-putihan berkisar 7 – 18 % (Rismunandar, 1987). Penampakan minyak pala dan fuli hampir sama, keduanya berwarna jernih hingga kuning pucat dan mempunyai susunan kimia yang sama. 

Oleoresin dan mentega pala 
Oleoresin terdiri dari minyak atsiri dan resin serta komponen-komponen pembentuk flavor lainnya (senyawa-senyawa) yang tidak mudah menguap yang menentukan rasa khas pala. Tahap-tahap pembuatan oleoresin adalah persiapan bahan, ekstraksi dengan pelarut organik dan pengambilan kembali pelarut organik. Ekstraksi pala langsung dengan etanol dingin dapat menghasilkan 18 – 26 % oleoresin dan hasil tersebut didinginkan dan disaring. Oleoresin yang dihasilkan menjadi 10 – 12 %, sisanya adalah lemak trimiristin yang disebut mentega pala. Bila digunakan pelarut benzena, oleoresin pala yang dihasilkan sebelum dilakukan penyaringan mencapai 31 – 37 %. 

Pada pembuatan oleoresin fuli, fuli yang di ekstrak dengan petroleum eter dapat menghasilkan 27 – 32 % oleoresin yang mengandung 8.5 – 22 % minyak atsiri. Ekstraksi dengan etanol panas dapat menghasilkan 22 – 27 % oleoesin dan hasil  tersebut didinginkan dan disaring. Oleoresin yang dihasilkan menjadi 1 – 13 % dan sisa yang terpisah berupa mentega fuli. Lemak pala juga dapat diekstrak dengan hot press karena kadar lemaknya cukup tinggi (29 – 40 %), lemak ini dapat disebut sebagai mentega pala.

Daging buah pala 
Daging buah pala dapat diolah menjadi berbagai macam produk pangan seperti manisan pala, sari buah, selai pala, chutney dan jelli. Manisan pala biasanya menggunakan buah pala yang masih muda, sedangkan untuk bentuk olahan lainya dapat digunakan daging buah pala yang telah masak. Ada dua macam manisan pala yaitu manisan basah dan manisan kering. Manisan basah dibuat dengan cara merendamdaging buah pala dalam larutan garam selama ±1/2 hari untuk menarik kotoran dan getahnya, lalu dicuci bersih. Kemudian direndam dalam gula pasir sehingga keluarcairan. Cairan tersebut dipisahkan kemudian dikentalkan dengan penambahan gula. Selanjutnya buah pala direndam kembali dalam cairan gula tersebut. Untuk membuat manisan kering, daging buah pala yang telah bersih direndam dalam gula pasir kemudian dijemur sampai kering.    

Rabu, 14 Desember 2016

Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu pada tanaman Padi Sawah


Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu

Pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT) merupakan pendekatan pengendalian yang memperhitungkan faktor ekologi sehingga pengendalian dilakukan agar tidak terlalu mengganggu keseimbangan alami dan tidak menimbulkan kerugian besar. PHT merupakan paduan berbagai cara pengendalian hama dan penyakit, diantaranya melakukan monitoring populasi hama dan kerusakan tanaman sehingga penggunaan teknologi pengendalian dapat lebih tepat.

Hama yang sering menyerang tanaman padi sawah adalah :

a. Keong Mas

Waktu kritis untuk pengendalian keong mas adalah pada saat 10 HST pindah, atau 21 HSS benih (semai basah). PHT pada keong mas dilakukan sepanjang pertanaman dengan rincian sebagai berikut:
  • Pratanam: Ambil keong mas dan musnahkan sebagai cara mekanis.
  • Persemaian: Ambil keong mas dan musnahkan, sebar benih lebih banyak untuk sulaman dan bersihkan saluran air dari tanaman air seperti kangkung.
  • Stadia vegetatif: Tanam bibit yang agak tua (>21 hari) dan jumlah bibit lebih banyak, keringkan sawah sampai 7 HST, tidak aplikasi herbisida sampai 7 HST, ambil keong mas dan musnahkan, pasang saringan pada pemasukan air, umpan dengan menggunakan daun talas dan pepaya, pasang ajir agar siput bertelur pada ajir, ambil dan musnahkan telur siput pada tanaman dan aplikasikan pestisida anorganik dan nabati seperti saponin dan rerak sebanyak 20-50 kg/ha sebelum tanam pada Caren.
  • Stadia generatif dan setelah panen: Ambil keong mas dan musnahkan, dan gembalakan itik setelah padi panen
b. Wereng Coklat

Wereng coklat menyukai pertanaman yang dipupuk nitrogen tinggi dengan jarak tanam rapat. Ambang ekonomi hama ini adalah 15 ekor per rumpun. Siklus hidupnya 21-33 hari. Cara pengendaliannya sbb:
  • Gunakan varietas tahan wereng coklat, seperti: Ciherang, Kalimas, Bondoyudo, Sintanur, dan Batang gadis.
  • Berikan pupuk K untuk mengurangi kerusakan
  • Monitor pertanaman paling lambat 2 minggu sekali.
  • Bila populasi hama di bawah ambang ekonomi gunakan insektisida botani atau jamur ento-mopatogenik (Metarhizium annisopliae atau Beauveria bassiana).
  • Bila populasi hama di atas ambang ekonomi gunakan insektisida kimiawi yang direkomendasi.
c. Penggerek batang

Stadia tanaman yang rentan terhadap serangan penggerek batang adalah dari pembibitan sampai pembentukan malai. Gejala kerusakan yang ditimbulkannya mengakibatkan anakan coati yang disebut sundep pada tanaman stadia vegetatif, dan beluk (malai hampa) pada tanaman stadia generatif. Siklus hidupnya 40-70 hari. Ambang ekonomi penggerek batang adalah 10% anakan terserang; 4 kelompok telur per rumpun (pada fase bunting).

Bila populasi tinggi (di atas ambang ekonomi) aplikasikan insektisida. Bila genangan air dangkal aplikasikan insektisida butiran seperti karbofuran dan fipronil, dan bila genangan air tinggi aplikasikan insektisida cair seperti dimehipo, bensultap, amitraz dan fipronil.

d. Tikus

Pengendalian hama tikus terpadu (PHTT) didasarkan pada pemahaman ekologi jenis tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus (berkelanjutan) dengan memanfaatkan teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pengendalian tikus ditekankan pada awal musim tanam untuk menekan populasi awal tikus sejak awal pertanaman sebelum tikus memasuki masa reproduksi. Kegiatan tersebut meliputi gropyok masal, sanitasi habitat, pemasangan TBS (Trap Barrier System) dan LTBS (tinier Trap Barrier System).

e. Walang Sangit

Walang sangit merupakan hama yang umum merusak bulir padi pada fase pemasakan. Fase pertumbuhan tanaman padi yang rentan terhadap serangan walang sangit adalah d a r i keluarnya malai sampai matang susu. Kerusakan yang ditimbulkannya menyebabkan beras berubah warna dan mengapur, serta hampa. Cara pengendaliannya adalah:
  • Kendalikan gulma di sawah dan di sekitar pertanaman.
  • Pupuk lahan secara merata agar pertumbuhan tanaman seragam.
  • Tangkap walang sangit dengan menggunakan faring sebelum stadia pembungaan.
  • Umpan walang sangit dengan menggunakan ikan yang sudah busuk,daging yang sudah rusak, atau dengan kotoran ayam.
  • Apabila serangan suclang mencapai ambang ekonomi, lakukan penyemprotan insektisida.
  • Lakukan penyemprotan pada pagi sekali atau sore hari ketika walang sangit berada di kanopi.
f. Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB)

Penyakit HDB disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campesti-is pv oryzae dengan gejala penyakit berupa bercak berwarna kuning sampai putih berawal dari terbentuknya garis lebam berair pada bagian tepi daun. Cara pengendaliannya sebagai berikut :
  • Gunakan varietas tahan seperti Conde dan Angke
  • Gunakan pupuk nitrogen sesuai dengan kebutuhan tanaman
  • Bersihkan tunggul-tunggul dan jerami-jerami yang terinfeksi
  • Jarak tanam jangan terlalu rapat
  • Gunakan benih atau bibit yang sehat.
g. Penyakit Blast

Blast dapat menginfeksi tanaman padi pada semua stadia pertumbuhan. Gejala khas pada daun yaitu bercak berbentuk belah ketupat – lebar ditengah dan meruncing di kedua ujungnya. Ukuran bercak kira-kira 1-1,5 x 0,3-0,5 cm berkembang menjadi berwarna abu-abu pada bagian tengahnya. Bila infeksi terjadi pada ruas batang dan leher malai (neck blast), akan merubah leher malai yang terinfeksi menjadi kehitam-hitaman dan patah, mirip gejala beluk oleh penggerek batang. Cara pengendaliannya adalah:
  • Gunakan varietas tahan blast secara bergantian.
  • Gunakan pupuk nitrogen sesuai anjuran.
  • Upayakan waktu tanam yang tepat, agar waktu awal pembungaan tidak banyak embun dan hujan terus menerus.
  • Gunakan fungisida yang berbahan aktif metil tiofanat atau fosdifen dan kasugamisin.
  • Perlakuan benih.

Senin, 12 Desember 2016

Pengertian Minyak Kelapa beserta proses pembuatan Minyak Kelapa



MINYAK KELAPA
Minyak kelapa merupakan bagian paling berharga dari buah kelapa. Kandungan minyak pada daging buah kelapa tua adalah sebanyak 34,7%. Minyak kelapa digunakan sebagai bahan baku industri, atau sebagai minyak goreng. Minyak kelapa dapat diekstrak dari daging kelapa segar, atau diekstrak dari daging kelapa yang telah dikeringkan (kopra).

Untuk industri kecil yang terbatas kemampuan permodalannya, disarankan mengekstrak minyak dari daging buah kelapa segar. Cara ini mudah dilakukan dan tidak banyak memerlukan biaya. Kelemahannya adalah lebih rendahnya rendemen yang diperoleh.

Santan Kelapa
Santan kelapa merupakan cairan hasil ekstraksi dari kelapa parut dengan menggunakan air. Bila santan didiamkan, secara pelan-pelan akan terjadi pemisahan bagian yang kaya dengan minyak dengan bagian yang miskin dengan minyak. Bagian yang kaya dengan minyak disebut sebagai krim, dan bagian yang miskin dengan minyak disebut dengan skim. Krim lebih ringan dibanding skim, karena itu krim berada pada bagian atas, dan skim pada bagian bawah.

Prinsip Pengolahan
Minyak diambil dari daging buah kelapa dengan salah satu cara berikut, yaitu:
1) Cara basah
2) Cara pres
3) Cara ekstraksi pelarut

1) Cara Basah
Cara ini relatif sederhana. Daging buah diparut, kemudian ditambah air dan diperas sehingga mengeluarkan santan. Setelah itu dilakukan pemisahan minyak pada santan. Pemisahan minyak tersebut dapat dilakukan dengan pemanasan, atau sentrifugasi.

Pada pemanasan, santan dipanaskan sehingga airnya menguap dan padatan akan menggumpal. Gumpalan padatan ini disebut blando. Minyak dipisahkan dari blando dengan cara penyaringan. Blando masih banyak mengandung minyak. Minyak ini dicampur dengan minyak sebelumnya.

Cara basah ini dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan yang biasa terdapat di dapur keluarga.

Pada sentrifugasi, santan diberi perlakuan sentrifugasi pada kecepatan 3000-3500 rpm. Sehingga terjadi pemisahan fraksi kaya minyak (krim) dari fraksi miskin minyak (skim). Selanjutnya krim diasamkan, kemudian diberi perlakuan sentrifugasi sekali lagi untuk memisahkan minyak dari bagian bukan minyak.

Pemisahan minyak dapat juga dilakukan dengan kombinasi pemanasan dan sentrifugasi. Santan diberi perlakuan sentrifugasi untuk memisahkan krim. Setelah itu krim dipanaskan untuk menggumpalkan padatan bukan minyak. Minyak dipisahkan dari bagian bukan minyak dengan cara sentrifugasi.

Minyak yang diperoleh disaring untuk memperoleh menyak yang bersih dan jernih.

a. Cara Basah Tradisional
Cara basah tradisional ini sangat sederhana dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan yang biasa terdapat pada dapur keluarga. Pada cara ini, mula-mula dilakukan ekstraksi santan dari kelapa parut. Kemudian santan dipanaskan untuk menguapkan air dan menggumpalkan bagian bukan minyak yang disebut blondo. Blondo ini dipisahkan dari minyak. Terakhir, blondo diperas untuk mengeluarkan sisa minyak.

b. Cara Basah Fermentasi
Cara basah fermentasi agak berbeda dari cara basah tradisional. Pada cara basah fermentasi, santan didiamkan untuk memisahkan skim dari krim. Selanjutnya krim difermentasi untuk memudahkan penggumpalan bagian bukan minyak (terutama protein) dari minyak pada waktu pemanasan. Mikroba yang berkembang selama fermentasi, terutama mikroba penghasil asam. Asam yang dihasilkan menyebabkan protein santan mengalami penggumpalan dan mudah dipisahkan pada saat pemanasan.

c. Cara Basah Lava Process
Cara basah lava process agak mirip dengan cara basah fermentasi. Pada cara ini, santan diberi perlakuan sentrifugasi agar terjadi pemisahan skim dari krim. Selanjutnya krim diasamkan dengan menambahkan asam asetat, sitrat, atau HCI sampai pH4. Setelah itu santan dipanaskan dan diperlakukan seperti cara basah tradisional atau cara basah fermentasi. Skim santan diolah menjadi konsentrat protein berupa butiran atau tepung.

d. Cara Basah "Kraussmaffei Process"
Pada cara basah ini, santan diberi perlakuan sentrifugasi, sehingga terjadi pemisahan skim dari krim. Selanjutnya krim dipanaskan untuk menggumpalkan padatannya. Setelah itu diberi perlakuan sentrifugasi sehingga minyak dapat dipisahkan dari gumpalan padatan. Padatan hasil sentrifugasi dipisahkan dari minyak dan dipres untuk mengeluarkan sisa minyaknya. Selanjutnya, minyak disaring untuk menghilangkan kotoran dan padatan. Skim santan diolah menjadi tepung kelapa dan madu kelapa. Setelah fermentasi, krim diolah seperti pengolahah cara basah tradisional.

2) Cara Pres
Cara pres dilakukan terhadap daging buah kelapa kering (kopra). Proses ini memerlukan investasi yang cukup besar untuk pembelian alat dan mesin. Uraian ringkas cara pres ini adalah sebagai berikut:
a. Kopra dicacah, kemudian dihaluskan menjadi serbuk kasar.
b. Serbuk kopra dipanaskan, kemudian dipres sehingga mengeluarkan minyak. Ampas yang dihasilkan masih mengandung minyak. Ampas digiling sampai halus, kemudian dipanaskan dan dipres untuk mengeluarkan minyaknya.
c. Minyak yang terkumpul diendapkan dan disaring.
d. Minyak hasil penyaringan diberi perlakuan berikut:
- Penambahan senyawa alkali (KOH atau NaOH) untuk netralisasi (menghilangkan asam lemak bebas).
- Penambahan bahan penyerap (absorben) warna, biasanya menggunakan arang aktif agar dihasilkan minyak yang jernih dan bening.
- Pengaliran uap air panas ke dalam minyak untuk menguapkan dan menghilangkan senyawa-senyawa yang menyebabkan bau yang tidak dikehendaki.
e. Minyak yang telah bersih, jernih, dan tidak berbau dikemas di dalam kotak kaleng, botol plastik atau botol kaca.

3) Cara Ekstraksi Pelarut
Cara ini menggunakan cairan pelarut (selanjutnya disebut pelarut saja) yang dapat melarutkan minyak. Pelarut yang digunakan bertitik didih rendah, mudah menguap, tidak berinteraksi secara kimia dengan minyak dan residunya tidak beracun. Walaupun cara ini cukup sederhana, tapi jarang digunakan karena biayanya relatif mahal.

Uraian ringkas cara ekstraksi pelarut ini adalah sebagai berikut:
a. Kopra dicacah, kemudian dihaluskan menjadi serbuk.

b. Serbuk kopra ditempatkan pada ruang ekstraksi, sedangkan pelarut pada ruang penguapan. Kemudian pelarut dipanaskan sampai menguap. Uap pelarut akan naik ke ruang kondensasi. Kondensat (uap pelarut yang mencair) akan mengalir ke ruang ekstraksi dan melarutkan lemak serbuk kopra. Jika ruang ekstraksi telah penuh dengan pelarut, pelarut yang mengandung minyak akan mengalir (jatuh) dengan sendirinya menuju ruang penguapan semula.

c. Di ruang penguapan, pelarut yang mengandung minyak akan menguap, sedangkan minyak tetap berada di ruang penguapan. Proses ini berlangsung terus menerus sampai 3 jam.

d. Pelarut yang mengandung minyak diuapkan. Uap yang terkondensasi pada kondensat tidak dikembalikan lagi ke ruang penguapan, tapi dialirkan ke tempat penampungan pelarut. Pelarut ini dapat digunakan lagi untuk ekstraksi. penguapan ini dilakukan sampai diperkirakan tidak ada lagi residu pelarut pada minyak.

e. Selanjutnya, minyak dapat diberi perlakuan netralisasi, pemutihan dan penghilangan bau.

Pada pengolahan minyak yang akan diterangkan di bawah ini dipilihkan cara basah fermentasi karena biayanya cukup murah dan dapat dilakukan dengan mudah.

BAHAN
1) Kelapa
2) Ragi tapai

PERALATAN
1) Mesin parut. Mesin ini digunakan untuk memarut daging buah kelapa. Mesin ini mempunyai konstruksi yang sederhana, relatif murah, mudah dioperasikan dan mudah dirawat. Mesin ini biasa digunakan oleh pedagang kelapa yang menyediakan jasa pemarutan kelapa di pasar-pasar.

2) Alat pemeras santan. Alat ini digunakan untuk memera santan dari kelapa parut. Alat ini dibuat dari dongkrak hidrolik, kemudian dirakit.

3) Wadah pemisah skim. Wadah ini digunakan untuk memisahkan skim dari krim santan. Dianjurkan menggunakan wadah yang tembus cahaya agar pemisahan skim dari krim dapat diamati. Untuk itu dapat digunakan botol air minum kemasan galon.

4) Tungku. Tungku digunakan untuk memanaskan krim sehingga terjadi pemisahan minyak dari bagian bukan minyak.

CARA PEMBUATAN
1) Daging buah kelapa diparut. Hasil parutan (kelapa parut) dipres sehingga mengeluarkan santan. Ampas ditambah dengan air (ampas : air = 1 : 0,2) kemudian dipres lagi. Proses ini diulangi sampai 5 kali. Santan yang diperoleh dari tiap kali pengepresan dicampur menjadi satu.

2) Santan dimasukkan ke dalam wadah pemisah skim selama 12 jam. Setelah terjadi pemisahan, kran saluran pengeluaran dari wadah pemisah dibuka sehingga skim mengalir keluar dan menyisakan krim. Kemudian krim ini dikeluarkan dan ditampung pada wadah terpisah dari skim.

3) Krim dicampur dengan ragi tapai (krim : ragi tapai = 1 : 0,005, atau 0,05%). Selanjutnya, krim ini dibiarkan selama 20-24 jam sehingga terjadi proses fermentasi oleh mikroba yang terdapat pada ragi tapai.

4) Krim yang telah mengalami fermentasi dipanaskan sampai airnya menguap dan proteinnya menggumpal. Gumpalan protein ini disebut blondo. Pemanasan ini biasanya berlangsung selama 15 menit.

5) Blondo yang mengapung di atas minyak dipisahkan kemudian dipres sehingga mengeluarkan minyak. Minyak ini dicampurkan dengan minyak sebelumnya, kemudian dipanaskan lagi selama 5 menit.

6) Minyak yang diperoleh disaring dengan kain kasa berlapis 4. Kemudian minyak diberi BHT (200 mg per kg minyak).

7) Minyak dikemas dengan kotak kaleng, botol kaca atau botol plastik.