Tampilkan postingan dengan label Pakan Ternak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pakan Ternak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Oktober 2019

PENGAWETAN RUMPUT (HIJAUAN PAKAN TERNAK) OLEH : DIRI MULYANTO

Bahan pakan adalah segala sesuatu yang diberikan kepada ternak, baik berupa bahan organik atau bahan anorganik yang sebagian atau keseluruhannya dapat dicerna dan tidak mengganggu kesehatan ternak. 
Contoh : bekatul, onggok, dll. 

Zat pakan adalah bagian dari bahan pakan yang dapat dicerna / diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok maupun produksi. Zat pakan terdiri dari : air, karbohidrat, protein, lemak, mineral dan vitamin. 

Ransum adalah campuran dari dua atau lebih bahan pakan yang disusun sedemikian rupa sehingga mampu memenuhi kebutuhan ternak selama 24 jam. Ransum yang tersusun dari beberapa bahan akan lebih sempurna dari pada satu bahan saja, karena kekurangan zat pakan dari salah satu bahan pakan dapat diisi dari bahan pakan yang lain. 

Konsentrat adalah pakan tambahan yang diberikan untuk melengkapi kekurangan zat pakan / zat gizi yang terdapat dalam hijauan sehingga penampilan produksi ternak lebih baik. Konsentrat Ternak Ruminansia mengandung protein kasar 12 - 14 % dan TDN 65 - 70 %. 

A. Pakan hijauan terdiri dari : 
1.Rumput : 
Rumput Lapangan 
Rumput Unggul : rumput Raja, rumput Gajah, rumput setaria, rumput Kolonjono, rumput Bebe (Brachiaria brizanta) dll 

2.Leguminosa (Kacang-kacangan) : 
Lamtoro, Glirisidia, Turi, Centrosoma, Calopogonium dll 

3.Hijauan Lain : 
Daun Waru, daun nangka dll 

4.Limbah Pertanian : 
Jerami padi, pucuk tebu, rending, jerami jagung dll 

B. Pakan Tambahan (Konsentrat) : 
Bekatul, dedak, ampas tahu, ketela pohon, onggok, bungkil kacang 
Daun singkong : Protein 21-30% (domba :2%BB) 
tepung daun singkong (Itik:10% Ayam broiler:5%Ransum) 
Onggok :sapi perah (5 – 10 kg) ayam ras (5%) TDN>70% 
Bungkil kelapa Protein:21% Sapi(30-50%) Domba s 
Unggas:10% 
Ampas tahu : Protein:23% Sapi 5-10 kg,domba:300 gr/ekr/hr 

C. Pakan Pelengkap : 
Mineral, Vitamin, Urea Molase Block (UMB). 

FUNGSI PAKAN BAGI TERNAK : 
1.Menyediakan energi (tenaga) untuk melangsungkan berbagai proses dalam tubuh. 
2.Menyediakan bahan-bahan untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh yang aus/ rusak. 
3.Mengatur kelestarian proses-proses dalam tubuh.

Hijauan Makanan Ternak merupakan salah satu bahan makanan ternak ruminansia sangat diperlukan oleh ternak untuk Memenuhi kebutuhan : 
1.Hidup Pokok 
2.Pertumbuhan/ perkembangan ternak dengan baik 
3.Produksi dan produktivitas ternak 

Ketersediaannya harus cukup baik kuantitas , kualitasnya dan kontinyuitas sepanjang tahun. 

Permasalahan : 
•Ketersediaan HPT produksinya tidak tetap, saat musim hujan Hijauan melimpah, saat musim kemarau produksi rendah (kurang sekali) 
•Keterbatasan lahan HPT (belum dikelola dengan baik, berakibat produktivitas belum optimal) 
•Belum tersedia gudang pakan ternak 

Alternatif Pemecahan Masalah : 
•Pengawetan Hijauan Pakan Ternak 
•Penanaman Hijauan Rumput Unggul 
•Pemanfaatan Gudang Pakan Ternak/ Lumbung Pakan 

Pengawetan Hijauan Pakan ternak : 
1.Pembuatan Silase (tidak menurunkan nilai gizi) 
2.Pembuatan HAY (Penyimpanan kering dengan mengurangi kadar air hijauan) 

Hijauan Makanan Ternak : Rumput, Leguminose, limbah pertanian 

Tujuan Pengawetam HMT : 
1.Menampung kelebihan produksi hijauan saat pertumbuhan terbaik (musim penghujan) 
2.Mengatasi kekurangan hijauan di musim kemarau 
3.Memanfaatkan limbah hasil pertanian 

CARA PENGAWETAN HMT : 
1.S I L A S E 
yaitu : HMT disimpan dalam keadaan segar dengan kadar air 60 – 70 % di dalam tempat SILO 
SILO: Tempat penyimpanan HMT dibuat dalam tanah maupun diatas tanah. 

Ada 3 jenis SILO : 
• PIT SILO 
berbentuk sumur dapat diatas/ dibawah tanah atap PIT SILO : rumbia/ genting/ bahan lain 
•TOWER SILO 
SILO berbentuk menara, menjulang diatas tanah 
•TRENCH SILO 
SILO berbentuk parit memanjang 

Pembuatan SILO : 
1.Kapasitas ukuran harus disesuaikan hijauan yang akan diawetkan 
2.SILO letaknya dekat dengan kandang 
3.Pemilihan lokasi SILO pada tanah yang lebih tinggi untuk mencegah genangan air 
4.Dasar SILO miring ke satu sisi sehingga aliran air baik 
5.Tidak boleh kena air hujan secara langsung/ resapan 
6.Drainase yang baik 
7.Bgn Bawah dilapisi plastik (tidak hub. Langsung dg tanah) 
8.Bgn Sudut harus lengkung agar mudah di padatkan 

BAHAN YG DIGUNAKAN : 
•Semua jenis hijauan, rumput lapangan, rumput unggul atau hijauan lain 
•Sebagai bahan pengawet/ media pertumbuhan bakteri 

Misalnya : 
a. Tetes 2,5 – 3,0 kg / 100 kg hijauan 
b. Dedak Halus 5,0 kg / 100 kg hijauan 
c. Onggok 2,5 – 3 kg /100 kg hijauan 
d. Tepung jagung 3,0 – 5,0 kg / 100 kg hijauan 
e. Menir 3,5 – 5,0 kg / 100 kg hijauan 
f. Ampas tahu 7,0 / 100 kg hijauan 

Proses Fermentasi Asam Laktat (An-aerob) 
Pakan Hijauan + Asimilasi 6 H2O + 6 CO2 + 673 Kkal C6H1206 + 6 O2 
Respirasi gula Oksigen sebagai makanan untuk fermentasi anaerob

CARA PEMBUATAN SILASE : 
1.Rumput / hijauan diangin-anginkan 1 malam, dipotong pendek-pendek ukuran 5 cm rapat dan padat 
Tujuan : 
• Meningkatkan volume 
• Percepatan fermentasi asam laktat 
• Penanganan dan pembongkaran menjadi lebih mudah 
• Meningkatkan hasil 
• Mencegah fermentasi kedua aerob saat musim panas 
2. Dimasukkan ke SILO lapis demi lapis sampai rapat 
3. Bhn diisi melebihi permukaan SILO untuk menjaga penyusutan tidak terjadi kecekungan permukaan 
4. Selesai penumpukan bahan, ke dalam SILO ditutup rapat rapat hampa udara (Proses Fermentasi Asam Laktat Anaerob 
5. Biarkan tutup rapat s/d 1,5 bulan 
6. SILO tutup dengan jerami kering, timbun tanah dan padatkan 

CARA PENGAMBILAN SILASE : 
• SILASE yang BAIK 
1. dapat disimpan bertahun-tahun 
2. dapat diambil sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan setelah itu ditutup rapat kembali 
3. SILASE yang baru diambil harus diangin-anginkan supaya bau asam hilang, baru diberikan pada ternak 

• Ciri SILASE yang BAIK 
1.Rasa dan bau asam 
2.Warna hijau dan (masih hijau) 
3.Tidak gumpal, tidak berlendir dan tidak berjamur 
4.Tekstur tidak berubah (tekstur hijau jelas) 

Bila SILASE : 
Tekstur tidak jelas/ hancur, berjamur, berlendir busuk warna agak kuning , pahit rasanya, tidak dapat Digunakan SEBAGAI MAKANAN TERNAK

2.HAY adalah : proses pengawetan 
Hijauan makanan ternak yang dipotong dan dikeringkan dan menurunkan kadar air menjadi 15- 20 % dengan melalui pengeringan sinar matahari atau panas buatan 

PEMBUATAN HAY : 

a. Bahan dan alat : 
- Alat Pemotong hijauan 
- Panas matahari/ panas fermentasi 
- HMT (rumput/ leguminosa) di panen umur 40 hari 
- Gudang Penyimpanan Hay 
- Alat pemotongan hijauan 
- Anjang/ Penjemur 150 Cm 

b. Cara Pembuatan : 
Prinsip adalah menurunkan kadar air HMT hingga mencapai 15-20 % dengan cara pemanasan (penjemuran, panas fermentasi 

CARA PEMBUATAN : 
1.Pengeringan Matahari (penjemuran) 
• Hijauan dipotong-potong, ditebarkan tipis pada pelataran pengeringan 
• Hijauan dibalik-balik tiap 1 – 2 jam 
• Pengeringan dilakukan sampai kadar air 15 – 20% atau jika sudah berwarna hijau kekuning-kuningan dan tidak mudah patah bila digenggam dengan tangan Usahakan pengeringan dalam watu singkat 4 – 8 jam 
• Tempat penjemuran : rak-rak Tumpukan jangan tebal dan jangan kehujanan, percepat pengeringan cegah jamur. 

2. Panas Fermentasi 
• Hijauan dijemur sebentar pada panas fermentasi 
• Tumpuk dan padatkan dalam gudang tjd fermentasi menghasilkan panas 
• Hay yang dihasilkan berwarna coklat dsb Brown Hay 
• Sirkulasi udara cukup 

3. Panas Buatan 
• Mesin Pemanas suhu 600 -800 C 

Waktu lebih cepat dan singkat 
Dapat bekerja setiap saat, harganya mahal 

KUALITAS HAY YANG BAIK : 
1.Warna Hijau kekuningan 
2.Bau keharum-haruman 
3.Tidak banyak daun yang rusak 
4.Tekstur lemas, tidak keras, tidak mudah patah 
5.Bersih dan tidak berjamur 
6.Tak banyak ranting/ batang yang patah 

KERUSAKAN HAY disebabkan karena : 
1.Hijauan yang dikeringkan tidak segera kering, sehingga terjadi pembakaran zat-zat makanan 
2.Waktu pengeringan jatuh hujan 
3.Daun-daun serta ranting mudah patah/ rontok sehingga mengurangi mutu dan jumlah hay 
4.Akibat kerusakan yang tidak langsung 

Mis. Saat pemotongan kurang tepat, terbaik saat tanaman akan berbunga/ sebelum berbunga 

KARAKTERISTIK HAY SEBAGAI PAKAN TERNAK 
1.Hay pada sapi muda meningkatkan perkembangan fungsi rumen, pada sapi dewasa : kandungan bahan kering meningkatkan daya serap bahan makanan 
2.Palatabilitas ternak akan meningkat 
3.Hay yang baik terbuat dari rumput-rumputan berbatang kecil 
4.Hay dibanding Silase, hay lebih ringan empat kalinya dg kandungan BK sama

Kamis, 17 Oktober 2019

Membuat Pakan Komplit (complete feed) untuk ternak kambing atau domba


Permasalahan utama dalam pengembangan ternak Kambing dan domba adalah masalah ketersediaan pakan, terutama pada musim kemarau. 

Sumber daya local potensial yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak kambing dan domba adalah pemamfaatan hasil samping budi daya tanaman pangan dan perkebunan. Bahan bahan tersebut masih mudah didapat dalam jumlah banyak di suatu lokasi pertanian, perkebunan atau kehutanan.

Kelemahannya adalah bahan tersebut belum lazim di pakai sebagai bahan pakan ternak dan biasanya berkualitas rendah (protein dan energi) serta kurang ramah lidah. 

Jerami padi, tongkol jagung, tebon jagung (batang dan daun jagung sisa panen), jerami kacang tanah, kulit buah dan biji cokelat, serat dan lumpur sawit, bungkil dan inti sawit dan ampas sagu merupakan beberapa sumber daya local yang dapat digunakan sebagai sumber penyedia bahan pakan berkualitas bagi tenak kambing dan domba

Melalui proses bioteknlogi praktis dan sederhana akan dapat diciptakan pola pengembangan usaha ternak kambing dan domba berbasis sumber daya local yang bernilai ekonomis tinggi

Penggunaan pakan lengkap mampu mengatasi factor pembatas pengembangan usaha yang selama ini dihadapi para peternak pada umumnya, yakni kemampuan dalam menyediakan hijauan setiap hari. Dengan menerapkan complete feed, peternak mampu memelihara 40-80 ekor .

Bahan :
Bahan berasal dari sumber daya local yang tersedia, terdiri atas limbah pertanian seperti tebon jagung dan limbah agroindustry seperti onggok dan dedak padi. Formulasi pakan lengkap (berdasarkan bahan kering) dari tim IPTEKDA-LIPI Fakultas Peternakan Universitas Jendral Sudirman sebagai berikut.

•Tebon jagung yang sudah kering atau layu 71 kg, 
•onggok kering 15 kg, 
•dedak padi halus 10 kg, 
•molasses (dapat diganti air gula kelapa) 1,5%, 
•serta garam 2%.

Alat : 
• Drum plastic atau karung plastic (fermentor) dan 
• Alat pencacah (chooper). 

PEMBUATAN
1.Cacah tebon jagung menggunakan chooper atau secara manual dengan ukuran 0,5-2 cm. 
2.Campur cacahan tebon jagung dengan onggok, dedak padi, molases dan garam. 
3.Masukkan campuran tersebut secara bertahap ke dalam fermentor lalu tutup rapat. 
4.Biarkan selama 3 minggu hingga bahan campuran matang. 
5.Hasil fermentasi siap diberikan kepada ternak. Satu ekor kambing dewasa membutuhkan pakan lengkap sekitar 2,5-3 kg per hari. 
6.Pakan yang sudah di fermentasi ini bisa disimpan selama 6 bulan.

Senin, 14 Oktober 2019

STRATEGI PEMBERIAN PAKAN UNTUK PENGGEMUKAN SAPI


Prinsip dari pemberian pakan bertujuan untuk : 
  • Mendapatkan ternak dengan laju pertumbuhan yang tinggi 
  • Konversi pakan selama proses penggemukan rendah atau efisien 
  • Biaya pakan untuk pertambahan bobot badan seekonomis mungkin dan murah 
  • Produksi karkas terutama daging yang maksimal 
  • Kualitas karkas dan daging yang baik 
  • Harga daging yang dipasarkan menguntungkan dan sesuai dengan selera konsumen 
Untuk mencapai sasaran tersebut, ada beberapa strategi yang dilakukan yakni: 
  • Untuk mendapatkan ternak dengan laju pertumbuhan yang tinggi maka pemilihan ternak bakalan harus selektif, dengan kriteria ternak sapi pada posisi umur, dengan laju pertumbuhan yang cepat, antara lain pada usia sekitar pubertas. Umumnya sapi berumur 2-2,5 tahun. 
  • Untuk mendapatkan pertumbuhan kompensasi dengan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dari keadaan normal, dipilih sapi bakalan yang kurus tapi sehat. Kondisi kurus bukan karena stress lingkungan atau kekurangan pakan. 
  • Individu dan bangsa sapi yang dipilih dari bangsa sapi tipe potong dengan adaptasi yang baik di daerah tropis.
  • Formulasi ransum yang diberikan pada sapi diusahakan dengan mempertimbangkan pola pertumbuhan jaringan tubuh (komponen karkas) yang mengacu pada produksi daging sesuai selera konsumen. Imbangan nilai nutrisi antara konsumsi energi dan protein perlu diperhatikan mengingat pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan jaringan muskulus dan lemak.
  • Efisiensi penggunaan pakan diefisienkan dengan memanipulasi mikroba rumen (perlakuan defaunasi, penggunaan antibiotika, probiotik, amoniasi urea dan lain-lain). 
  • Hal ini mengingat struktur alat pencernaan yang spesifik dari ruminansia, memberikan keunggulan tersendiri dalam kapasitasnya sebagai ternak yang mampu memanfaatkan hijauan berkadar serat kasar tinggi dan tidak bersaing dengan kepentingan manusia. 
RATION BALANCE

Step 1 : Menaksir berat badan sapi yang akan digemukan dan berapa ADG yang diharapkan dengan melihat Tabel 3 
Step 2 : Berdasarkan Tabel 3, dapat dihitung konsumsi bahan kering (DM) sapi yang bersangkutan. Tabel ini juga dapat menunjukkan tingkat zat-zat makanan yang harus dipenuhi dalam bahan keringnya. 
Step 3 : Berdasarkan Tabel 1 & 2, pilihlah bahan-bahan makanan yang tersedia disekitar lokasi dan harganya paling murah. Carilah jumlah dari bahan-bahan tersebut yang menghasilkan ransum sama dan seimbang dalam BK, energi, protein kasar, Calcium dan Phospor. 
Step 4 : Hitunglah apakah bahan-bahan yang paling murah dapat memenuhi kebutuhan energi (TDN). Kalau tidak, maka campurkanlah bahan-bahan makanan sedikit lebih mahal tapi mengandung energi lebih tinggi. Hal yang sama juga dilakukan apabila protein kasar tidak mencukupi, tambahkanlah bahan pakan yang yang kadar protein kasarnya lebih tinggi walaupun harganya lebih mahal.
CONTOH :
Feedloter mempunyai sapi-sapi bakalan dengan bobot badan rata-rata 350 kg. Susunlah ransum untuk menaikkan bobot badan sebesar 1 kg/hari dengan menggunakan bahan utama AMPAS NANAS.

Minggu, 13 Oktober 2019

Mengenal Beberapa Antinutrisi pada Bahan Pakan


Berbagai macam antinutrisi atau senyawa toksik terdapat pada berbagai biji cereal, biji legume dan tanaman lainnya. Sebagian besar zat kimia ini mengandung unsur normal  dengan komposisi kimia bervariasi (seperti protein, asam lemak, glycoside, alkaloid)   yang bisa didistribusikan seluruhnya atau sebagian ke tanaman.
      Beberapa senyawa bisa menjadi tidak aktif dengan berbagai proses seperti pencucian,   perebusan atau pemanasan. Apabila panas digunakan untuk menginaktifkan senyawa  antinutrisi perlu dipertimbangkan agar tidak merubah kualitas nutrisi bahan pakan , tetapi ada beberapa kejadian kalau digunakan panas yang ekstrim bisa juga berperan untuk membentuk senyawa toksik.
       Adanya senyawa anti nutrisi dalam bahan pakan dapat menjadi pembatas dalam  penggunaannya dalam ransum, karena senyawa antinutrisi ini akan menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap pertumbuhan dan produksi tergantung dosis yang masuk kedalam tubuh. Penggunaan bahan pakan yang mengandung antinutrisi harus diolah dulu untuk menurunkan atau menginaktifkan senyawa ini, tetapi perlu dipertimbangkan nilai ekonomis dari pengolahan ini.
1.     Phytat
       Phytat merupakan salah satu non polysaccharida dari dinding tanaman seperti silakat dan oksalat. Asam phytat termasuk chelat (senyawa pengikat mineral) yang kuat yang bisa mengikat ion metal divalent membentuk phytat komplek sehingga mineral tidak bisa diserap oleh tubuh. Mineral tersebut yaitu Ca, Zn, Cu, Mg dan Fe.
       Pada sebagian besar cereal, 60-70 % phosphor terdapat sebagai asam phytat, kecernaan molekul phytat sangat bervariasi dari 0-50 % tergantung bahan pakan dan umur unggas. Unggas muda lebih rendah kemampuan mencerna phytat, tetapi pada unggas dewasa 50%. Kecernaan phytat terjadi karena adanya phytase tanaman atau sintetis phytase dari mikroba usus. Perlakuan panas pada ransum seperti pelleting atau ekstrusi tidak terlihat memperbaiki kecernaan pospor-phytat.

Cara memecahkan masalah adanya P-phytat dalam ransum yaitu :
·      Penambahan phytase: kelemahan dari penambahan phytase ke dalam ransum akan menambah biaya ransum dan phytase mudah rusak selama proses pelleting. Sebagian besar phytase didenaturasi pada suhu 65°C. Sebaiknya enzym phytase ditambahkan setelah proses pengolahan.
·      Penambahan sumber pospor lainnya kedalam ransum seperti dicalcium pospat.
Sebagian besar cereal dan suplemen protein nabati relatif rendah kandungan phytase kecuali dedak gandum, sedangkan biji yang mengandung minyak kandungan phytat lebih tinggi.

2.     Tannin
        Tannin adalah senyawa phenolic yang larut dalam air. Dengan berat molekul antara 500-3000 dapat mengendapkan protein dari larutan. Secara kimia tannin sangat komplek dan biasanya dibagi kedalam dua grup, yaitu hydrolizable tannin dan condensed tannin. Hydrolizable tannin mudah dihidrolisa secara kimia atau oleh enzim dan terdapat di beberapa legume tropika seperti Acacia Spp.
       Condensed tannin atau tannin terkondensasi paling banyak menyebar di tanaman dan dianggap sebagai tannin tanaman. Sebagian besar biji legume mengandung tannin terkondensasi terutama pada testanya. Warna testa makin gelap menandakan kandungan tannin makain tinggi.
       Beberapa bahan pakan yang digunakan dalam ransum unggas mengandung sejumlah condensed tannin seperti biji sorgum, millet, rapeseed , fava bean dan beberap biji yang mengandung minyak. Bungkil biji kapas mengandung tannin terkondensasi 1,6 % BK sedangkan barley, triticale dan bungkil kedelai mengandung tannin 0,1 % BK. Diantara bahan pakan unggas yang paling tinggi kandungan tannin terlihat pada biji sorgum (Sorghum bicolor).
       Kandungan tannin pada varietas sorgum tannin tinggi sebesar 2,7 dan 10,2 % catechin equivalent. Dari 24 varietas sorgum kandungan tannin berkisar dari 0,05-3,67 % (catechin equivalent). Kandungan tannin sorgum sering dihubungkan dengan warna kulit luar yang gelap. Peranan tannin pada tanaman yaitu untuk melindungi biji dari predator burung, melindungi perkecambahan setelah panen, melindungi dari jamur dan cuaca.
       Sorgum bertannin tinggi bila digunakan pada ternak akan memperlihatkan penurunan kecepatan pertumbuhan dan menurunkan efisiensi ransum pada broiler, menurunkan produksi telur pada layer dan meningkatnya kejadian leg abnormalitas.
       Cara mengatasi pengaruh dari tannin dalam ransum yaitu dengan mensuplementasi DL-metionin dan suplementasi agen pengikat tannin, yaitu gelatin, polyvinylpyrrolidone (PVP) dan polyethyleneglycol yang mempunyai kemampuan mengikat dan merusak tannin. Selain itu kandungan tannin pada bahan pakan dapat diturunkan dengan berbagai cara seperti perendaman, perebusan, fermentasi, dan penyosohan kulit luar biji.

3.     Gossypol
       Penggunaan bungkil biji kapuk (Cottonseed meal) pada hewan monogastrik dibatasi oleh kandungan serat kasar dan senyawa toksik yaitu tannin dan gossypol yaitu pigmen polyphenolic kuning. Konsentrasi gossypol dalam biji bervariasi diantara spesies kapuk dan antara cultivarnya berkisar 0,3 dan 3,4 %. Gossypol ditemukan dalam bentuk bebas, bentuk beracun dan bentuk ikatan yang tidak toksik. Metode pengolahan biji kapuk menentukan kandungan gosipol bebas.
       Kandungan gossipol bebas pada pengolahan menggunakan ekstrak pelarut berkisar antara 0,1-0,5 % tetapi untuk proses expeller kandungan gossypol bebas kira-kira 0,05 %. Seluruh biji mempunyai gossypol bentuk bebas. Broiler bisa toleran sampai level gosipol bebas 100 ppm tanpa terlihat pengaruh merugikan pada performan.
       Ransum layer mengandung < 50 ppm gossypol mencegah terjadinya green discoloration pada kuning telur khususnya setelah penyimpanan serta dapat menurunkan daya tetas dari telur fertile. Penambahan garam besi (ferric sulphat) pada ransum yang biji kapuk dapat merusak gossypol yaitu dengan mengikat grup reaktif gossipol dengan (Fe), dan kandungan protein ransum yang tinggi juga dapat mencegah pengaruh merugikan dari gossypol.
  
4.     Saponin
       Sebagian besar saponin ditemukan pada biji-bijian dan tanaman makanan ternak seperti alfalfa, bunga matahari, kedelai, kacang tanah . Saponin umumnya mempunyai karakteristik yaitu rasa pahit, sifat iritasi mucosal, sifat penyabunan, dan sifat hemolitik dan sifat membentuk komplek dengan asam empedu dan kolesterol.
      
Saponin mempunyai efek menurunkan konsumsi ransum karena rasa pahit dan terjadinya iritasi pada oral mucosa dan saluran pencernaan. Pada anak ayam yang diberi 0,9 % triterpenoid saponin bisa menurunkan konsumsi ransum, menurunkan pertambahan berat badan, menurunkan kecernaan lemak, meningkatkan ekskresi cholesterol dan menurunkan absorpsi vitamin A dan D.

5.     Mimosin
       Tepung daun lamtoro (Leucaena leucocephala) kering sama dengan tepung biji kapuk sebagai sumber protein. Penggunaan lamtoro bisa menekan pertumbuhan broiler dan produksi telur pada layer. Nilai nutrisi yang rendah dari lamtoro karena adanya mimosin. Lamtoro mengandung mimosin sebesar 3-5 % BK, tetapi juga mengandung senyawa antinutrisi lain termasuk protease inhibitor, tannin dan galactomannan.
       Karena adanya mimosin ini penggunaan lamtoro dalam ransum non ruminansia sebesar 5-10 % tanpa menimbulkan gejala toxicosis. Efek yang merugikan dari mimosin, yaitu menurunkan pertumbuhan dan menurunkan produksi telur. Ayam muda lebih sensitif dari pada ayam dewasa.

6.     Protease Inhibitor
       Protease inhibitor adalah senyawa yang bisa menghambat trypsin dan chymotripsin dan umumnya pada tanaman mengandung konsentrasi yang rendah kecuali kedelai. Kedelai cenderung mengandung protease inhibitor tinggi dan pada cereal lainnya rendah. Memakan kedelai mentah mengakibatkan meningkatnya berat pankreas.
       Penghambatan aktivitas trypsin berpengaruh pada pencernaan protein, karena tripsin adalah activator dari semua enzim yang dikeluarkan oleh pankreas yaitu zymogen termasuk trypsinogen, chymotripsinogen, proelastase dan carboxypeptidase. Pengaruh utama dari tripsin inhibitor bukan menggangu pencernaaan protein tetapi sekresi berlebihan dari pankreas.
    Cholecystokinin adalah peptide yang merangsang sekresi enzim pankreas dikeluarkan oleh bagian proximal usus halus yang dikontrol oleh aktivitas  umpan balik negatif. Meningkatnya kadar tripsin di lumen usus akan menurunkan sekresi cholecystokinin. Sekresi cholecystokinin oleh mucosa usus karena adanya monitor peptide yaitu sebuah peptide yang disekresikan kedalam getah pankreas.
       Apabila pencernaan protein selesai maka monitor peptide dirusak oleh trypsin dan sekresi cholecystokinin berhenti. Adanya inhibitor trypsin dalam ransum, pankreas secara terus menerus merangsang cholecystokinin sebab monitor peptide tidak dirusak oleh trypsin. Kelebihan rangsangan ini menyebabkan terjadi hyperthrophy dan hyperplasia dari pankreas yang terlihat dari berat pankreas meningkat.
       Protease inhibitor mudah dinetralkan dengan pemanasan. Kerusakan ini tergantung dari suhu, waktu pemanasan, ukuran partikel dan kandungan air. Pengolahan untuk menetralkan trypsin inhibitor harus dipertimbangkan jangan sampai merusak nilai nutrisi dari kedelai.

7.     Cyanogenic glycoside (Cyanogen)
       Cyanogenic glycoside, cyanoglycosida atau cyanogen adalah senyawa yang apabila diperlakukan asam dan diikuti dengan hidrolisis oleh enzim tertentu akan melepaskan hydrogen cyanida (HCN). Cyanoglycosida terdapat lebih dari 2000 spesies tanaman. Singkong (cassava) adalah hasil panen utama yang mengandung cyanogen dalam jumlah tinggi.
      Pengolahan singkong secara tradisional yaitu umbi dipotong-potong dibawah air mengalir untuk mencuci cyanogen. Alternatif lain yaitu umbi singkong  dipotong-potong, dihancurkan dan dikeringkan dibawah sinar matahari sampai HCN menguap. HCN setelah dilepas dengan cepat diabsorpsi dari saluran gastro intestinal masuk ke dalam darah. Ion Cianida (CN-) berikatan dengan Fe heme dan beraksi dengan ferric (oxidasi) dalam mitokondria membentuk cytochrome oxidase di dalam mitokondria, membentuk komplek stabil dan menahan jalur pernafasan. Akibatnya hemoglobin tidak bisa melepas oxygen dalam system transport electron dan terjadi kematian akibat hypoxia seluler.

Beberapa cara mengurangi cyanogenic glycoside yaitu :
·           Proses pembuatan pati menghilangkan cyanogen.
·           Pencacahan, dikeringkan atau sebelumnya disimpan lebih dulu dalam keadaan basah bisa mengurangi 2/3 cyanogen dari segar.

8.     Non- starch Polysaccharide
             Non-starch polysaccharide (NSP) adalah karbohidrat komplek yang terlihat di endosperm dinding sel dari biji cereal. Karbohidrat ini sukar dicerna sehingga lolos dari saluran pencernaan dan mengikat air sehingga viscositas cairan di saluran pencernaan tinggi. Viscositas di saluran pencernaan meningkat menyebabkan transport nutrient menurun dan absorpsi menurun. Kedelai mengandung NSP dalam bentuk oligosaccharide.
   Kedelai yang berasal dari berbagai negara mengandung oligosaccharida berbeda-beda. Pengaruh negatif dari NSP yaitu :
·       Excreta lengket dan kadar air tinggi sehingga menimbulkan masalah litter.
·       Menurunkan energi tersedia pada burung.
·       Mempengaruhi mikroflora di saluran pencernaan.

Rabu, 09 Oktober 2019

Urea Molases Multinutrient Blok (UMMB) atau Permen Sapi

UMMB merupakan pakan pemacu atau pakan tambahan/suplemen sumber protein (Non Protein Nitrogen) energi dan mineral yang banyak dibutuhkan ternak ruminansia, berbentuk padat yang kaya dengan zat-zat makanan. 

Tujuan pemberian UMB adalah 
  1. penambahan supplemen pada ternak,
  2. membentuk asam amino yang dibutuhkan oleh sapi 
  3. membantu meningkatkan pencernaan pakan yang sulit dicerna dengan cara menstabilkan kondisi keasaman (pH) di dalam rumen. 
•Bahan pembuat UMMB adalah urea, molases , mineral dan bahan­bahan lainnya yang memiliki kandungan protein dan mineral yang baik. 
•Bentuk bahan pakan ini dapat diatur sesuai dengan selera pembuatnya, dapat dibuat berbentuk kotak persegi empat, berbentuk bulat (berbentuk mangkuk) atau bentuk-bentuk lain menurut cetakan yang digunakan dalam proses pemadatan. 


Bahan : 
•Molase : 1280 gr 
•Urea : 240 gr 
•Garam Dapur : 200 gr 
•Kapur / semen : 280 gr 
•Mineral : 120 gr 
•Dedak padi : 1200 gr 
•Jagung : 480 gr

Alat-alat: 
•Alat press/cetakan, 
•pengaduk 
•timbangan, 
•ember, 
•baskom, dan 
•kantong plastik. 

Campuran I: 
Molases 1280 g + Urea 240 g + NaCl 200 g 
•Aduk rata campuran tersebut 

Campuran II: 
Mineral 120 g 

Campuran III: 
Semen/kapur 280 g 
•Air secukupnya, 
•Aduk rata campuran III. 

Campuran IV
Jagung :480g
Dedak Padi :12009

Kotoran Ternak menjadi pakan ternak dengan di buat Bokashi


Kotoran ternak dapat digunakan langsung sebagai pakan ternak. Di antara kotoran ternak, kotoran ayam mempunyai kandungan hara tertinggi dan yang memiliki kandungan hara terendah adalah kotoran sapi, sedang kotoran babi berada di antaranya. 
Kotoran ayam ternyata mengandung zat-zat makanan seperti air, protein kasar, serat kasar, lemak, bahan kering, calcium (Ca), dan pospor (P) yang sangat bermanfaat bagi ternak. Hasil analisis di laboratorium menunjukkan, kotoran ayam pedaging dan petelur masing-masing mengandung zat-zat makanan dan memenuhi syarat untuk dibuat menjadi campuran pakan ayam.


Kotoran ternak biasanya diolah untuk pakan dalam keadaan kering, tetapi apabila proses pengeringan terlalu tinggi akan menurunkan kandungan protein. sedangkan untuk aroma dan rasa (meskipun nilai gizinya rendah) dapat diperbaiki melalui proses fermentasi.

Pengertian bokashi . 
Bokashi adalah suatu kata dalam bahasa Jepang yang berarti bahan organik yang telah difermentasikan. Bokashi Pakan ternak adalah hasil fermentasi bahan organik yang terdiri dari kotoran ternak (ayam, kambing, sapi dll), dedak dan bahan organik yang lainnya dan diberikan sebagai pakan ternak. 

Manfaat : Untuk pakan ternak ayam, itik, babi, sapi. Bokashi pakan ternak ini dapat menekan biaya pakan ternak lebih dari 30%.

Pembuatan Bokashi Pakan Ternak : 
Formula A : 
Bahan: 
1. Kotoran ayam : 2 kg 
2. Dedak : 1 kg 
4. EM4 : 10 ml 
5. Gula pasir / tetes : 2 sendok makan 
6. Air : 1 liter

Cara pembuatan : 
  1. Masukkan gula / tetes dalam 1 liter air, aduk sampai rata, kemudian tuangkan EM4 kemudian di aduk dan diamkan selama 20 menit.
  2. Campur kotoran ayam dan dedak hingga rata 
  3. Tuang sedikit demi sedikit larutan EM4 pada campuran nomor 2 sambil diaduk-aduk hingga kadar air mencapai 30 % (dikepal membentuk kepalan tangan dan air tidak menetes) 
  4. Masukkan dalam kantong plastik dan ikat erat-erat, dan fermentasikan selama 2 hari pada suhu kamar. 
  5.  Fermentasi yang berhasil akan tercium aroma harum masam dari hasil fermentasi.
Formula B : 
Bahan : 10 bagian sebagaimana Formula A ditambah dengan dedak 5 bagian, konsentrat 2 bagian dan jagung 2 bagian 

Cara Pembuatan : Formula A dan Formula B dicampur menjadi satu kemudian dapat langsung digunakan sebagai pakan ternak.

Cara Penggunaan Bokashi Pakan Ternak : 
  1. Untuk ayam petelur diberikan setelah ayam berumur 3 bulan 
  2. Pemberian larutan EM4 dapat dilakukan setiap hari pada air minum ternak dengan konsentrasi 0,5 s/d 1 ml setiap 1 liter air minum ternak

*Materi kami dapat dari pembelajaran DJOKO SUWARSO BALAI PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PETERNAKAN

Rabu, 17 Februari 2016

Pakan fermentasi kambing atau domba, sering di sebut Complete feed


Kemaren ada yang bertanya kepada saya "sebut saja pak Rudy" tentang materi pembuatan pakan fermentasi untuk ternak kambingnya, beliau pengen memberikan pakan fermentasi ini karna keunggulannya dari pakan fermentasi ini, kita tidak perlu repot-repot setiap hari ngarit di kebun atau sawah. nah pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi ilmu yang saya dapat untuk teman-teman peternak indonesia, berikut materinya:

PEMBUATAN PAKAN TERNAK KOMPLIT ( COMPLETE FEED ) 

Permasalahan utama dalam pengembangan ternak Kambing dan domba adalah masalah ketersediaan pakan, terutama pada musim kemarau.

Sumber daya local potensial yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak kambing dan domba adalah pemamfaatan hasil samping budi daya tanaman pangan dan perkebunan. Bahan bahan tersebut masih mudah didapat dalam jumlah banyak di suatu lokasi pertanian, perkebunan atau kehutanan.

Kelemahannya adalah bahan tersebut belum lazim di pakai sebagai bahan pakan ternak dan biasanya berkualitas rendah (protein dan energi) serta kurang ramah lidah. 

Jerami padi, tongkol jagung, tebon jagung (batang dan daun jagung sisa panen), jerami kacang tanah, kulit buah dan biji cokelat, serat dan lumpur sawit, bungkil dan inti sawit dan ampas sagu merupakan beberapa sumber daya local yang dapat digunakan sebagai sumber penyedia bahan pakan berkualitas bagi tenak kambing dan domba

Melalui proses bioteknlogi praktis dan sederhana akan dapat diciptakan pola pengembangan usaha ternak kambing dan domba berbasis sumber daya local yang bernilai ekonomis tinggi

Penggunaan pakan lengkap mampu mengatasi factor pembatas pengembangan usaha yang selama ini dihadapi para peternak pada umumnya, yakni kemampuan dalam menyediakan hijauan setiap hari. Dengan menerapkan complete feed, peternak mampu memelihara 40-80 ekor .

Bahan :
Bahan berasal dari sumber daya local yang tersedia, terdiri atas limbah pertanian seperti tebon jagung dan limbah agroindustry seperti onggok dan dedak padi. Formulasi pakan lengkap (berdasarkan bahan kering) dari tim IPTEKDA-LIPI Fakultas Peternakan Universitas Jendral Sudirman sebagai berikut.

•Tebon jagung yang sudah kering atau layu 71 kg, (bisa dengan bahan lain seperti jerami padi) 
•onggok kering 15 kg, 
•dedak padi halus 10 kg, 
•molasses (dapat diganti air gula kelapa) 1,5%, 
•serta garam 2%.

Alat : 
• Drum plastic atau karung plastic (fermentor) dan 
• Alat pencacah (chooper) kalau tidak punya mesin pencacah bisa pakai arit atau bahan tajam lainnya  untuk mencacah bahan. 

Cara Pembuatannya : 
1.Cacah tebon jagung  menggunakan chooper atau secara manual dengan ukuran 0,5-2 cm.
2.Campur cacahan tebon jagung dengan onggok, dedak padi, molases dan garam.
3.Masukkan campuran tersebut secara bertahap ke dalam fermentor lalu tutup rapat.
4.Biarkan selama 3 minggu hingga bahan campuran matang. 
5.Hasil fermentasi siap diberikan kepada ternak. Satu ekor kambing dewasa membutuhkan pakan lengkap sekitar 2,5-3 kg per hari.
6.Pakan yang sudah di fermentasi ini bisa disimpan selama 6 bulan.

Minggu, 07 Februari 2016

Mengidentifikasi Bahan Pakan Ternak (Untuk mengetahui kualitas pakan yang kita berikan)


       Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam usaha budidaya ternak. Kebutuhan pakan ternak meliputi jenis, jumlah, dan kualitas bahan pakan yang diberikan kepada ternak secara langsung akan dapat mempengaruhi tingkat produksi dan produkivitas ternak yang dipelihara.
       Tingkat keuntungan yang diperoleh dari usaha budidaya ternak sangat dipengaruhi oleh total biaya pakan yang dikeluarkan, dimana biaya pakan dapat mencapai 60 – 70% dari seluruh biaya produksi yang diperlukan untuk usaha budidaya ternak.
       Ketergantungn peternak pada penggunaan pakan jadi yang diproduksi oleh perusahaan pakan masih tinggi, dimana sebagian besar bahan pakan tersebut masih diimpor. Apabila terjadi fluktuasi kenaikan harga bahan pakan akan mengakibatkan tingginya harga pakan jadi.
       Penyediaan pakan yang murah, dari bahan local uang tersedia secara terys menerus di sekitar tempat usaha budidaya serta dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak, perlu diupayakan untuk memperoleh keuntungan yang maksimal dalam menunjangkeberhasilan usaha budidaya yang dilakuan.
       Sebelum melakukan pengolahan bahan pakan menjadi pakan jadi, perlu dilakukan dulu survey ketersediaan bahan pakan. Penggunaan bahan pakan lokal akan diperoleh beberapa keuntungan antara lain :
-     Dapat menyerap produk hasil pertanian local, terutama bahan pakan utama, yaitu jagung, dedak padi, dan tepung ikan, Selain itu juga bahanpakan substitusi/alternatif seperti ampas tahu, ampas kecap, ampas kelapa, limbah kulit udang, bungkil inti sawit dan lainnya
-         Mendorong perekonomian pedesaan, karena dengan digunakannya vahan pakan local akan meningkatkan permintaan vahan pakan yang dapat diproduksi secara kontinu karena ada kepastian pasar
-    Mendorong pemanfaatan lahan pertanian menjadi lahan produktif karena adanya permintaan hasil pertanian dan kepastian pasar

      Sebelum mengolah vahan pakan, perlu diperhatikan informasi tentang keberadaan bahan pakan. Pakan yang akan digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
-        Mengandung nilai nutrisi tinggi
-        Mudah diperoleh
-        Mudah diolah
-        Tidak mengandung racun (anti nutrisi)
-        Harga murah dan terjangkau
-        Butirannya halus dan bisa dihaluskan

Untuk memperoleh sebagian informasi tersebut di atas dapat diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  
A.     Klasifikasi Bahan Pakan
Kualitas bahan pakan ditentukan oleh kandungan nutrient atau komposisi kimianya. berdasarkan sifat karakteristik fisik dan kimia, serta penggunaannya secara internasional, bahan pakan dibagi menjadi delapan kelas, antara lain :
1.   Hijauan kering dan jerami
Kelas ini meliputi semua hijauan dan jerami yang dipotong dan dirawat, serta produk lain yang mengandung serat kasar lebih dari 18%. Hijauan kering (hay) dan jerami padi termasuk dalam kelas ini.
2.   Pastura, tanaman padangan, dan hijauan segar
Semua hijauan yang dipotong atau tidak dan diberikan dalam bentuk segar. Contohnya : rumput, legume (kacang-kacangan), dan rambanan.
3.   Silase
Kelas ini menyebutkan silase hijauan (rumput, tanaman jagung) tetapi tidak termasuk silase ikan, bebijian, dan umbi.
4.   Sumber energi
Termasuk dalam kelas ini adalah bahan pakan dengan kandungan serat kasar kurang dari 18% dan protein kurang dari 20%. Bebijian dan hasil samping penggilingan termasuk kelas ini.
5.   Sumber protein
Kelas ini mengikutsertakan bahan pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18% dan protein 20% atau lebih. Contoh : bahan pakan yang berasal dari hewan dan ikan, serta bungkil dan biji tanaman kacang-kacangan.
6.   Sumber mineral
Bahan pakan sumber mineral meliputi beberapa bahan seperti, tepung tulangm tepung kulit kerang, dan grit. Fungsinya sebagai sumber mineral kalsium, terutama digunakan pada peternakan ayam petelur. Grit berfungsi sebagai mineral dan membantu pencernaan ayam.
7.   Sumber vitamin
8.   Sumber aditif

B.     Macam-macam Bahan Pakan
1.   Bahan Pakan Sumber Energi
a.  Bekatul     
       Indonesia sebagai salah satu negara produsen beras yang besar di kawasan Asia Tenggara menghasilkan bekatul atau dedak padi yang cukup melimpah. Bekatul merupakan hasil sampingan atau limbah dari proses penggilingan padi. Menurut hasil penelitian, kurang lebih 8% - 8,5% dari berat padi adalah bekatul. Bekatul memiliki kandungan serat kasar yang lebih tinggi daripada jagung atau sumber energi yang lain. Oleh karena itu, bekatul diberikan dalam jumlah terbatas, tergantung jenis ternaknya.
       Untuk menghindari serangga dan bau tengik yang mengakibatkan kualitas bekatul berkurang, bekatul dijemur terlebih dahulu selama 3-4 hari. Penjemuran dilakukan sebelum bekatul disimpan atau digunakan sebagai bahan baku pakan. Bekatul merupakan komoditi yang cukup terbatas ketersediaannya karena tergantung musim panen padi dan sifatnya mudah rusak. Bagi peternak yang membuat campuran pakan sendiri, bekatul menjadi salah satu bahan pakan utama. Akibatnya dibeberapa daerah, harga bekatul menjadi mahal dipasaran. Hal ini menimbulkan upaya untuk memanipulasi bekatul dengan mencampurnya dengan bahan lain seperti sekam giling dan limbah tapioka (onggok).
b.  Jagung
       Jagung atau Zea mays merupakan bahan pakan sumber energi yang paling banyak digunakan dalam industri pakan ternak. Di Indonesia dikenal beberapa jenis jagung, yaitu jagung kuning, jagung putih, dan jagung merah. Jenis yang paling banyak digunakan adalah jagung kuning karena mengandung karoten pro vitamin A yang cukup tinggi. 
       Jagung mempunyai kandungan protein rendah dan beragam, tetapi kandungan serat kasarnya rendah dengan kandungan energi metabolisme tinggi. Oleh karena itu, jagung merupakan sumber energi yang baik. Kandungan serat kasarnya yang rendah memungkinkan jagung digunakan dalam tingkat yang lebih tinggi. Jagung juga mempunyai kandungan asam linoleat yang baik dan juga sumber asam lemak esensial yang baik.
c.   Sorgum
       Sorgum (Sorghum vulgare) merupakan pakan sumber energi dan penunjang asam amino esesnsial sebagaimana halnya jagung. Umumnya sorgum yang berwarna gelap mengandung tannin lebih banyak daripada sorgum yang berwarna terang. Kandungan protein sorgum lebih besar daripada jagung. 
d.  Dedak Padi
       Dedak padi tersedia banyak di Indonesia. Harganya murah dan kandungan unsur nutrisinya cukup baik. Hanya saja mengandung serat kasar agak tinggi. Kandungan serat kasar inilah yang menyebabkan pemakaian dedak padi menjadi sangat terbatas. 
       Dedak murni agak sulit dicari karena sekarang banyak terjadi pemalsuan atau pencampuran dedak dengan gilingan kulit gabah atau gilingan jerami. Akibatnya kandungan serat kasarnya menjadi tinggi dan berdampak buruk bagi ternak terutama ayam.
e.  Gaplek
       Gaplek adalah umbi kayu yang telah dikupas kulitnya dan dikeringkan dengan menggunakan sinar matahari. Tujuan pengeringan ubi kayu ini adalah agar dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama, mudah penanganannya, dan untuk mengurangi atau menghilangkan kandungan glukosida (linamarin) yang dapat menghasilkan HCN karena adanya aktivitas enzim tertentu.
       Gaplek banyak dibuat menjadi tepung gaplek. Tepung gaplek banyak mengandung pati dan pada saat pengukusan, pati tersebut diubah menjadi zat perekat oleh uap panas. Dengan demikian, penggunaannya sangat membantu sekali dalam pembuatan pakan bentuk pellet sebab pellet yang dihasilkan akan menjadi lebih padat, keras, dan tidak mudah pecah.
f.    Onggok
       Onggok merupakan hasil sisa pembuatan pati ketela pohon.
g.  Molases atau Tetes
       Tetes berasal dari hasil ikutan pada proses penggilingan tebu menjadi gula. Tetes tebu berwarna coklat kemerahan, kalau dicicipi akan terasa manis. 
h.  Minyak Kelapa dan Minyak Kedelai
       Penggunaan minyak kelapa dan minyak kedelai dalam penyusunan ransum adalah untuk melengkapi kekurangan gizi. Selain itu, kedua bahan ini sangat membantu dalam pembuatan pakan bentuk pellet, karena dapat memperlicin atau mempermudah keluarnya pakan saat melewati sarangan mesin pembuatan pakan. Namun, penggunaan minyak nabati yang berlebihan juga akan merusak kualitas pellet yang dihasilkan karena dapat menyebabkan pellet mudah pecah dan menaikkan kadar debu. Untuk itu, sebaiknya kedua jenis minyak nabati tersebut hanya digunakan dalam jumlah sangat terbatas.

  1. Bahan Pakan Sumber Protein
a.  Bahan Pakan Sumber Protein Nabati
1)           Bungkil Kedelai
       Bungkil kedelai merupakan hasil ikutan pembuatan minyak kedelai. Bungkil kedelai sebagai bahan pakan sumber protein asal tumbuhan belum dapat digantikan oleh bahan sejenis lainnya. Bungkil kedelai merupakan bahan pakan sumber dwiguna, sebagai sumber protein dan sumber energi.
2)           Bungkil Kacang Tanah
       Sama seperti bungkil kedelai, bungkil kacang tanah merupakan ampas atau sisa hasil dari proses pembuatan minyak nabati. Kendala penggunaan bahan pakan ini adalah sifatnya yang mudah dirusak oleh jamur yang akan menimbulkan racun aflatoksin serta tidak banyak tersedia dan diproduksi diIndonesia. Untuk menghindari tumbuhnya jamur, cara yang paling mudah adalah penanganan yang baik saat panen selain pengeringan yang cepat dan disimpan di tempat yang kelembabannya rendah.

3)           Bungkil Kelapa
       Disebut juga bungkil kopra karena bahan baku yang diambil minyaknya adalah kopra. Kopra adalah daging kelapa yang sudah dikeringkan sampai kadar airnya tinggal kurang dari 6% dengan maksud agar kopra tersebut tidak mudah rusak. Bahan pakan ini cukup banyak tersedia di Indonesia dan sudah biasa digunakan oleh para peternak di Indonesia. Seribu butir daging kelapa akan menghasilkan sekitar 110 kg minyak dan 55 kg bungkil.
4)           Bungkil Kelapa Sawit
       Bungkil kelapa sawit yang dimaksud adalah bungkil dari pembuatan minyak inti atau daging buah kelapa. Oleh karena itu, sering disebut sebagai bungkil inti sawit.
5)           Tepung daun Turi
       Tepung daun turi merupakan sumber serat kasar. Tepung ini sangat baik digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak unggas petelur. Pakan sumber serat kasar dapat mengurangi kadar kolesterol dalam telur yang dihasilkan. 
6)           Tepung Daun Ubi    
       Pemberian tepung daun ubi kayu dalam penyusunan pakan unggas terbatas hanya sampai 5% karena adanya asam prusid dan sianida yang merupakan senyawa yang sangat beracun. Untuk menghilangkannya, daun ubi yang akan digunakan sebagai bahan pakan unggas harus dipotong-potong , dicuci dan dijemur sampai kering. Dengan demikian, senyawa sianida akan larut dalam air dan menguap selama penjemuran.
7)           Tepung Daun Lamtoro
       Tepung daun lamtoro adalah daun lamtoro yang dibuat tepung dengan cara menumbuk atau menggiling daun lamtoro yang telah dikeringkan. Tepung daun lamtoro mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi, tetapi bahan ini mengandung racun yaitu mimosin. Jika digunakan secara berlebihan dapat menyebabkan kerontokan bulu unggas, jalan sempoyongan, dan pembesaran kelenjar gondok.
8)           Tepung Daun Pepaya 

b.  Bahan Pakan Sumber Protein Hewani

1)           Tepung Darah
       Tepung darah berasal dari hasil samping pemotongan ternak (rumah potong hewan). 
2)           Tepung Bekicot
       Tepung bekicot merupakan salah satu bahan pakan unggas yang mengandung banyak protein. Tepung bekicot ini diperoleh dari proses pengolahan daging bekicot menjadi tepung. 
3)     Tepung Bulu Unggas
       Tepung bulu adalah tepung bulu ayam yang telah mengalami proses hidrolisis dengan jalan pengukusan pada suhu dan tekanan tinggi. Salah satu kendala penggunaan tepung bulu unggas sebagai bahan campuran pakan unggas adalah karena kandungan protein keratin yang sulit dicerna oleh hewan. Untuk mengatasinya perlu perlakuan khusus sebelum dijadikan sebagai bahan baku pakan ternak. 
4)           Tepung Ikan
       Tepung ikan dibuat dari hasil sisa pada pembuatan minyak ikan dan hasil sisa industri ikan dari berbagai macam ikan laut dan ikan darat sisa yang sudah tidak dijual untuk dikonsumsi manusia. Tepung ikan merupakan sumber protein hewani yang banyak digunakan untuk ternak nonruminansia terutama unggas. Tepung ikan cukup mahal harganya dan merupakan bahan pakan standar untuk memenuhi kekurangan asam amino esensial dalam ransum.
5)           Tepung Daging Tulang
       Tepung daging tulang berasal dari daging afkir dari berbagai jaringan lunak lain yang tidak dikonsumsi manusia dari pemotongan ternak (rumah potong hewan), juga berasal dari ternak yang mati. Oleh karena itu, kualitasnya tergantung dari komposisi bahan asal, metode, dan suhu pembuatannya. Nilai nutrisinya lebih rendah daripada tepung ikan. Penggunaan tepung daging tulang akan lebih baik jika dicampur dengan sumber protein hewan yang lain.
6)           Tepung Rese
       Tepung rese didapatkan dari kulit dan kepala udang yang digiling.
7)           Manure (tinja ayam)
       Manure adalah kotoran ayam yang dikeringkan secara alami. Tinja dapat dijadikan bahan makanan untuk unggas itu sendiri. Tinja yang digunakan sebagai bahan makanan unggas ini biasanya adalah tinja asal ayam ras. Proses seperti ini dikenal dengan istilah "daur ulang". Tinja pada peternakan ayam dikeluarkan sebagai hasil dalam dua bentuk :
8)           Tinja bercampur bahan litter
9)           Tinja murni
       Tinja yang sudah dikumpulkan tentu tidak begitu saja langsung diberikan kepada ayam. Bau tinja akan menyebabkan ayam menjauh. Tinja yang telah terkumpul itu perlu dikeringkan terlebih dahulu, dibebaskan dari kemungkinan adanya bibit penyakit dan parasit, setelah itu digiling halus.

  1. Bahan Pakan Sumber Mineral
a.  Tepung Tulang
       Peran tepung tulang sebagai campuran pakan unggas adalah sebagai sumber kalsium dan fosfor. Tidak semua jenis tulang dapat digunakan sebagai bahan baku tepung tulang, tetapi hanya tulang ternak dewasa saja yang dapat digunakan, seperti tulang sapi, kerbau, babi, dan kuda.
Tepung tulang yang baik biasanya memenuhi beberapa syarat, diantaranya berwarna keputih-putihan, tidak berbau, tidak mengandung bibit penyakit, kadar air paling tinggi 5%. 
b.  Garam Dapur
       Kandungan utama garam dapur adalah NaCl, yang merupakan sumber Na dan Cl. Garam dapur bersifat palatabel dan dapat menambah nafsu makan.
c.   Tepung Batu kapur
       Batu kapur adalah sumber mineral Ca yang digunakan di dalam ransum ternak. 

d.  Premik
       Premik merupakan vitamin, mineral, dan antibiotik yang digunakan sebagai tambahan pakan unggas dan ternak besar. Pencampuran premik pada pakan unggas ini bertujuan untuk menutupi kekurangan nilai gizi pada pakan tersebut karena pada umumnya bahan baku pakan yang digunakan sangat variatif kadar gizinya.      
       Kadar penggunaan premik pada unggas tergantung pada jenis unggas dan umurnya. Penggunaan premik ini harus disesuaikan dengan aturan pakai yang tertulis pada kemasan. Secara umum ada tiga jenis premik yang diperdagangkan di Indonesia berdasarkan komposisinya sebagai berikut :
·            Komposisi multivitamin dan mineral
·            Komposisi multivitamin dan antibiotik
·            Komposisi multivitamin, mineral dan antibiotik.
Dari berbagai komposisi premik tersebut biasanya hanya dikenal dua istilah, yaitu feed supplement antibiotik dan feed supplement pemacu pertumbuhan.