Tampilkan postingan dengan label Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peternakan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Desember 2020

Berkunjung ke PETERNAKAN AYAM PETELUR Referensi bagi pemula

Berternak ayam petelur memang sangat mengasikkan, tiap hari bisa kita panen hasilnya. tapi sebelum kita membahas yang asik - asik, kita bahas dulu perjuangan dari awal merintis ayam petelur. 

PERSIAPAN KANDANG
untuk mempersiapkan kandang yang pertama adalah ijin dulu ke warga sekitar karena nantinya akan banyak lalat, apalagi saat membersihkan kotoran nya lalat akan berterbangan kemana - mana. 
Kedua pilih model kandang dengan model pembuangan kotorannya, seperti yang kami kunjungi disana ada dua tipe pembuangan kotoran: yang pertama dibuat kolam ikan lele di bawahnya, jadi kotoran ikan langsung jatuh kekolam dan dimakan ikan lele,  yang kedua kandang panggung biasa jadi kotoran ayam akan menumpuk di bawah kandang, untuk yang ini hasil kotorannya bisa kita jual lagi tapi model ini akan banyak lalat karena tumpukan kotoran. 
Untuk sistem pemberian air minumnya sekarang sudah ada sistem otomatis jadi tinggal kita merangkai pipa - pipa di setiap ayamnya.  
Untuk model kandang perayamnya disini menggunakan rak besi 3  susun bahan monium anti karat jadi lebih tahan lama, untuk lebih hematnya ada yang menggunakan rak dari bambu. 

PEMILIHAN AYAM PETELUR
untuk pemilihan ayam sendiri ada 2 pilihan yaitu ayam kutuk / kecil atau ayam dewasa siap bertelur. Dalam kasus ini ditempat yang kami kunjungi saat pertama memilih pembelian ayam dewasa siap bertelur, walaupun siap bertelur masih membutuhkan perawatan sekitar 2-3 bulan baru semuanya bisa bertelur. Karena ayam - ayam masih penyesuaian dengan kondisi sekitar.  Dalam kasus ini sampai ada yang mati sekitar 300 ekor dari 2000 ayam untuk pengisian kandang pertama. Hampir tiap minggu di datangkan dokter hewan untuk vaksin ayam. Jadi disarankan untuk pembelian ayamnya jangan terlalu jauh dari lokasi kandang atau yang memiliki kondisi sekitar yang sama. 
Dari pengalaman tersebut untuk kandang ayam kedua dibelikan ayam disekitar lokasi karena pas ada yang pembesaran ayam petelur. 
Untuk kandang yang ketiga ini di isi dari pembesaran ayam sendiri (beli bibit ayam atau ayam kecil) 

PERAWATAN DAN PEMANENAN
Kalau sudah berjalan perawatan cukup mudah yang pertama pemberian pakan yang teratur 2 X sehari dan jangan lupa dikeruk pakan sisa  supaya bersih.  
Yang kedua dikasih bunyi - bunyian bisa musik atau radio supaya ayam tidak mudah stres.  
Untuk pemberian vaksin bisa dilihat kondisi ayam, bila ada satu atau dua ayam kondisinya kurang sehat sesegera mungkin untuk dilakukan vaksin supaya tidak menular ke ayam yg lain. 
Sedangkan untuk pemanenan atau pengambilan telurnya dilakukan sekitar jam 10.00 ~ 12.00 siang

Jumat, 01 Mei 2020

Penetasan telur puyuh ke ayam

Penetasan telur puyuh dengan di titipkan ke ayam

cara penetasan ini merupakan cara tradisional, karena waktu penetasan telur puyuh berkisar 16 -17 hari, jadi bisa cek pada hari ke 15, karena kita ketahui bersama kalau ayam mengengkrami telurnya selama 21 hari.

dengan penetasan ini  tidak perlu repot-repot untuk mengatur suhunya seperti menggunakan inkubator yaitu suhu ideal antara 38 - 39 derajat celcius

setelah telur menetas, tunggu sampai bulu-bulunya benar benar kering, biasanya membutuhkan waktu selama satu hari baru di pindahkan ke pembesaran

Sabtu, 26 Oktober 2019

Peternakan Sapi di Berastagi

Kota Berastagi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara terdapat peternakan modern yaitu Gundaling Farm Berastagi. Akses ke lokasi juga sangat gampang dan bahkan pemandangan Gunung Sinabung dapat kita nikmati sepanjang perjalanan ketika memasuki daerah Berastagi

Saat perjalanan sudah memasuki areal peternakan yang luasnya 16 hektar, keindahan alam lainnya akan tersaji bercampur dengan jalanan yang ditata rapi, ditambah dengan tanaman yang menyejukkan. Lokasi parkir sendiri cukup luas dan berada tidak jauh dari kandang sapi perah yang didatangkan langsung dari Australia.

Sapi merupakan binatang yang gampang panik dan stres jika berada di kerumunan dan keributan. Sehingga peternakan berada jauh dari pemukiman.

"Pengunjung juga dilarang masuk ke kandang dan melakukan pemerahan langsung. Pengunjung bisa melihat dari batas pagar yang telah dipasang,"

Tapi, jika ada penelitian atau praktik kerja lapangan dari komunitas atau mahasiswa, biasanya diperbolehkan dengan menunjukkan surat praktik dan meminta izin dengan pimpinan.
Selain menikmati susu segar di lokasi peternakan, anda juga bisa menyaksikan pengalaman unik lainnya, Pada pukul 4 sore, di kandang sapi akan dipasang musik klasik seperti karya Ludwig Van Beethoven dan sapi akan berjajar rapi dan keluar kandang secara teratur

Fasilitas di Peternakan Sapi Gundaling Farm Berastagi
Di Gundaling Farm ini terkandung 1 kamar mandi pria dan 2 kamar mandi wanita yang bisa digunakan secara gratis untuk pengunjung. Namun di sini tidak terkandung mushola. Jika kamu mendambakan sholat bisa di kantor pos satpam yang punyai tempat cukup luas.

Biaya Masuk Peternakan Sapi Gundaling Farm Berastagi
Untuk biaya sendiri kamu tidak perlu khawtir, biaya tiket masuk, parkir, dan toilet seluruhnya gratis. Biaya hanya dikenakan jika pengunjung ingin menikmati susu segar yang dapat dibeli dengan harga terjangkau, yaitu hanya Rp. 27.000 per liternya. Susu tersebut juga diolah dengan bermacam-macam varian rasa dan ada juga yang di oleh menjadi yogurt




















Kamis, 24 Oktober 2019

Sistem Pencernaan Ruminansia

TERNAK RUMINANSIA 
1.Memamah biak / nggayemi 
2.Lambung ganda : rumen, reticulum, omasum, abomasum 
3.Contoh : sapi, kerbau, kambing, domba

TERNAK NON RUMINANSIA 
1.Tidak memamah biak / nggayemi 
2.Lambung tunggal 
3.Contoh : unggas, babi
SISTEM PENCERNAAN
•Sistem pencernaan adalah sebuah sistem yang terdiri dari saluran pencernaan yang dilengkapi dengan beberapa organ yang BERTANGGUNG JAWAB ATAS PENGAMBILAN, PENERIMAAN DAN PENCERNAAN BAHAN PAKAN DALAM PERJALANANNYA MELALUI TUBUH MULAI DARI MULUT SAMPAI KE REKTUM
PROSES PENCERNAAN

•Suatu proses yang dapat mengubah makanan menjadi substansi yang sederhana yang dapat diabsorbsi oleh tubuh 

•Terjadi secara mekanis dan kimiawi 

ORGAN PENCERNAAN PADA RUMINANSIA
•MULUT 
•ESOPHAGUS 
•RUMEN 
•RETIKULUM 
•OMASUM 
•ABOMASUM 
•USUS HALUS (DUODENUM, JEJENUM, ILEUM) 
•USUS BESAR (SEKUM, KOLON, REKTUM) 
•ANUS 

ORGAN AKSESORI
•GIGI 
•LIDAH 
•GLANDULA SALIVA 
•PAKREAS 
•HATI/LIVER

FUNGSI UTAMA SALURAN PENCERNAAN
•Transport pakan – peristaltic contractions 
•Pencernaan 
•Secara mekanis 
•Secara kimia 
•Penyerapan 
•Sintesis - protein, asam lemak, pati, vitamins 
•Pengeluaran
MULUT
•GIGI 
•Bersama lidah membantu proses pemasukkan pakan kedalam mulut (prehensi) 
•Melakukan pengunyahan (mastikasi) 
•Rumus gigi ruminansia 
•LIDAH 
Pada sapi digunakan sebagai organ prehensi dan untuk membantu proses pengunyahan hingga terbentuk bolus 

•SALIVA 
Yang paling utama berasal dari 3 pasang kelenjar saliva, yaitu : submaxillary, sublingual dan parotid 

Fungsi saliva : 
•Sumber nutrien untuk mikroorganisme rumen, mengandung urea, Na, K, P dll 
•Membasahi bolus, pada ruminan dewasa tidak mengandung enzim. Pada yang muda mengandung amylase. 
•Sebagai bufer untuk menjaga pH rumen dan mucin agar tidak terjadi bloat 

Jumlah sekresi saliva 
•Domba 3-10 liter/hari 
•Kuda 10-12 liter/hari 
•Sapi 130-180 liter/hari 

ESOPHAGUS/kerongkongan
•Membantu masuknya pakan kedalam lambung, dengan adanya gerak peristaltik esophagus 
•Aktiv pada proses ruminasi dan eruktasi 

Rumen
•Permukaannya berpapila untuk memperluas permukaan
•Tempat berlangsungnya fermentasi
•Berisi mikroba anaerob, yaitu bakteri, protozoa dan jamur/fungi, fungsi :
oMelakukan proses fermentasi
oPembentukan vitamin B komplek dan K
oZat pakan dari induk semang
•Memproduksi VFA dan protein
•Absorbsi sebagian besar VFA secara difusi

Retikulum (Hardware Stomach)
•Bentuknya seperti sarang lebah 
•Tidak ada sekresi 
•Terjadi inisiasi regurgitasi 
•Bahan non pakan (paku, kawat dll) terkumpul di retikulum

Omasum
•Permukaannya berlipat 
•Memperkecil partikel pakan 
•Absorbsi air ± 60% 
•Absorbsi VFA 
•Absorbsi garam-garam asam lemak, Na dan K

Abomasum
•Lambung sejati 
•Mensekresikan enzim proteolitik dan HCL 
•pH turun dari 6 menjadi 2,5 
oDenaturasi protein 
oBakteria dan m.o patogen mati

USUS HALUS
–Duodenum 
•Bagian yang aktiv melakukan proses pencernaan 
•Ada sekresi dari empedu dan pankreas 
–Jejunum 
•Absorbsi nutrien 
–Ileum 
•Absorbsi nutrien (air, vitamin dan mineral) 
•Terjadi fermentasi

USUS BESAR
Fungsi : 
•Absorbsi nutrisi yang tidak terserap di usus halus 
•Absorbsi air, amonia dan mineral

REKTUM
Suatu bagian dari usus besar yang berfungsi untuk menyimpan feses dan saluran pembuangan sebelum feses dikeluarkan lewat anus 
* Feses termasuk : sel-sel yang mati, pakan yang tidak tercerna dan bahan mikrobial

PANKREAS
•Cair dan jernih
•Enzim
•Amylase
•Lipase
•Protease
•Trypsinogen trypsin
•Chymotrypsinogen chymotrypsin
•Procarboxypeptidase carboxypeptidase
•Nuclease

HATI
•Menyekresikan cairan empedu 
•Cairan berwarna hijau kental dengan pH basa (menetralkan keasaman chyme) 
Disekresikan oleh hati melalui ductus empedu kedalam duodenum (penyimpanan dalam kandung empedu/gallbladder) 
•Fungsi untuk mengemulsi lemak 
•Komposisi 
Garam empedu(glycocholic dan asam taurocholic) 
Pigmen empedu(bilirubin dan biliverdin) 
Kolesterol 
•95% diabsorbsi dan kembali ke hati 
•Penyimpanan glukosa 
•Detoksifikasi zat-zat yang berbahaya bagi tubuh 
•Penyimpanan vitamin 
•dll

Selasa, 22 Oktober 2019

Panduan lengkap dan metode penggemukan sapi potong


Pembibitan SAPI POTONG
USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG MASIH TERBUKA LEBAR 
a.Indonesia Kaya Potensi yang Belum Tergali 
b.Bagaimana Indonesia Memenuhi Kebutuhan Konsumsi Daging Susu dan daging sapi belum sepenuhnya bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri 
c.Kondisi Peternakan Sapi Potong di Indonesia 
- Produktivitas Rendah 
- Populasi Rendah 
- Pasokan Sapi Bakalan Tidak Stabil 
- Pasokan Pakan Ternak Belum Mencukupi 
- Pengetahuan ttg Teknologi Peternakan Masih Rendah 
- Perkawiinan tidak terkontrol 
d. Harapan Indonesia pada Masa Datang 
- Dengan mengubah cara atau tindakan kita yaitu memanfaatkan apa yang sudah diberikan untuk kemakmuran Bangsa.

PEMILIHAN LOKASI
Kondisi Agroklimat 
Kondisi lingkungan yang ideal yang dibutuhkan sapi agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal berdasarkan potensi genetisnya adalah sbb :
a.Suhu Lingkungan
Ketika baru lahir, sapi potong membutuhkan suhu lingkungan yang lebih rendah dibanding sapi dewasa. Suhu lingkungan ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan sapi potong di Indonesia adalah 17 – 27°C.
b.Arah Angin
Angin merupakan salah satu faktor pembawa penyakit, apabila tdk diwaspadai upaya memperoleh keuntungan bisa berantakan akibat ulah penyakit yg dibawa angin. 
Bila arah angin dominan dari barat ke timur, kandang harus dibangun membujur dari utara ke selatan
Dinding kandang dibangun 20 – 30 cm lebih tinggi dari tinggi sapi yg dipelihara
c.Curah Hujan 
Curah hujan secara langsung berkaitan erat dengan ketersediaan air dan suhu udara. Idealnya lokasi peternakan sapi potong memiliki curah hujan 800 – 1.500 mm/th. 
d.Arah Sinar Matahari 
Sinar matahari mampu membunuh berbagai bibit penyakit yg berbahaya bagi kelangsungan hidup ternak. Sebaiknya arah sinar matahari pagi harus masuk secara sempurna ke dlm kandang. 
e.Kelembaban 
Kelembaban udara 60 – 80% merupakan kelembaban ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan ternak sapi potong 
f.Topografi 
Topografi merupakan pertimbangan penting dlm penentuan lokasi usaha peternakan karena secara langsung atau tidak langsung berpengaruh pd suhu, curah hujan, kelembaban dan arah angin

KETERSEDIAAN AIR
  • Air adalah kebutuhan mutlak bagi sebuah usaha peternakan sapi potong untuk tumbuh dan berkembang, memandikan ternak, membersihkan kandang serta untuk menyirami tanaman pakan ternak.
  • Air bisa diperoleh dari sungai, sumur pompa, mata air dan menampung air ketika hujan. Keberadaan sumber air berpengaruh thd biaya produksi.
  • Sebelum digunakan sebaiknya air dari berbagai sumber dianalisis kandungan zat kimia utk menghindari keberadaan unsur2 yg berbahaya bagi ternak
  • Kebutuhan air tiap ternak beragam, dipengaruhi oleh faktor suhu lingkungan, jenis & bangsa ternak, kondisi pakan (kering/basah), sehingga diharapkan bisa memasok air dlm jml tidak terbatas.
KETERSEDIAAN TENAGA KERJA 
  • Sapi potong yg dikelola sbg usaha peternakan profit oriented harus dikelola oleh org2 atau tenaga kerja yg cukup kompeten. Untuk itu perlu dipertimbangkan penggunaan kombinasi tenaga kerja dari sekitar lokasi usaha peternakan maupun dari tempat asal yg jauh. 
  • Apabila tenaga kerja hanya bersumber dari dekat lokasi usaha dikhawatirkan terjadi konspirasi antar para pekerja, sebaliknya bila diambil dari lokasi yg berjauhan dikhawatirkan terjadi arus mudik pd wkt2 tertentu, misalnya lebaran atau tahun baru.
KETERSEDIAAN BAHAN PAKAN DAN SAPI BAKALAN 
  • Sumber bahan pakan sebaiknya tidak terlalu jauh dari lokasi usaha mengingat bahan pakan selalu dibutuhkan setiap hari. Bila utk pengadaan bahan pakan diperlukan biaya transportasi, dikhawatirkan keuntungan yg bisa diperoleh bisa habis utk biaya transport. 
  • Sapi bakalan yg berasal dari tempat yang terlalu jauh akan mengalami stres akibat perjlnan jauh, akibatnya sapi bakalan membutuhkan wkt yg lama utk beradaptasi kembali dg lingkungan baru. Biasanya proses adaptasi membutuhkan biaya cukup tinggi sehingga akan meningkatkan biaya produksi
INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI 
Transportasi merupakan faktor yg harus dipertimbangkan dg cermat krn erat kaitannya dengan kelancaran berbagai proses dlm sebuah usaha peternakan. Jalur transportasi yg lancar akan sangat menunjang perkembangan usaha. Karena itu berbagai alternatif jalur transportasi perlu dipertimbangkan untuk tujuan efisiensi dan efektivitas usaha peternakan. 

PASAR 
Satu-satunya kegiatan yg menghslkan dana adalah kegiatan pasar. Secara tradisional para peternak menjual sapi2nya dipasar2 terdekat. Usaha peternakan yg sudah berorientasi pasar, bisa saja hsl usaha peternakan dipasarkan dilokasi yg berjauhan dgn lokasi usaha, hal ini tetap didasarkan pd pertimbangan ekonomis.

PERKANDANGAN
FUNGSI KANDANG 
  1. Pelindung ternak dari gangguan cuaca seperti hujan, panas matahari, terpaan angin, maupun udara dingin. 
  2. Tempat beristirahat yg nyaman dan aman dari gangguan hewan pengganggu atau predator. 
  3. Sarana yg memudahkan penanganan ternak, terutama dlm pemberian pakan, minum, perawatan kesehatan dan kegiatan lain. 
  4. Penampung kotoran dan sisa2 pakan 
  5. Mengontrol ternak agar tidak merusak berbagai fasilitas yg tersebar diseluruh area peternakan
PERSYARATAN KANDANG 
  • Terbuat dari bahan2 berkualitas, tahan lama, tdk mudah rusak 
  • Untuk kandang koloni, luas kandang hrs sesuai dg jml sapi sehingga sapi bisa bergerak leluasa 
  • Biaya pembuatan tdk terlalu mahal 
  • Konstruksi lantai kandang dibuat dg kemiringan 5 – 10 ° sehingga tdk ada air yg menggenang. Bahan lantai kandang dibuat dari bhn yg tdk menyebabkan becek. 
  • Harus dibuat sistem sirkulasi udara yg memungkinkan lancarnya keluar masuk udara. 
  • Sinar matahari sebaiknya bisa masuk secara keseluruhan tanpa dihambat oleh pohon dan dinding kandang. 
  • Angin yg bertiup sebaiknya tdk menerpa ternak secara langsung 
  • Atap kandang dibuat dari bahan yg murah, awet, ringan dan mampu memberikan kehangatan pada malam hari.
TIPE KANDANG
A.KANDANG INDIVIDUAL 
- Diperuntukkan bagi 1 ekor sapi. 
- Ukuran disesuaikan dg ukuran sapi secara umum 
- Biasanya berukuran 2,5 x 1 m 
- Dibuat dg tujuan utk memacu pertumbuhan sapi agar lebih cepat krn di kandang ini sapi dibatasi ruang geraknya. 
- Sapi tdk mudah stres krn frekuensi kontak dg sapi lain sangat terbatas 
- Tdk terjadi perebutan pakan 
- Biaya relatif lebih mahal 

B.KANDANG KOLONI 
- Utk memelihara beberapa ekor sapi sekaligus 
- Pakan & minum diberikan secara kolektif 
- Kemungkinan mengalami stres lbh tinggi krn frekuensi kontak bdn secara langsung lebih tinggi 
- Biaya pembuatan kandang lebih rendah. 
- Kebutuhan luas kandang per ekor sapi agar bisa bergerak leluasa minimum 4 m² artinya jika sapi yg digemukkan berjumlah 20 ekor, luas kandang efektif minimum 80 m² 

PEMILIHAN SAPI BAKALAN
JENIS – JENIS SAPI POTONG 
Ada beberapa jenis sapi potong yg menyebar di Wilayah Indonesia, diantaranya ; Sapi Bali, Ongole, Peranakan Ongole, dan Sapi Madura. 

Perbandingan populasi sapi tsb di Indonesia adalah sbb: 
- Bali 2.632.125 ( 26,92% ) 
- Madura 1.131.375 ( 11,57% ) 
- Ongole 260.094 ( 2,66% ) 
- PO 773.165 ( 8,17% ) 
- Lainnya (impor) 4.979.830 ( 50.68% ) 

SAPI BALI 
Merupakan salah satu jenis sapi asli Indonesia yg mempunyai potensi besar utk dikembangkan. Pada wkt kecil sapi Bali berwarna sawo matang atau merah bata yg merupakan ciri utama sapi-sapi keturunan Bos Sondaicus. Pada sapi Bali betina, warna itu bertahan sampai dewasa sedang pd jantan warnanya akan berubah menjadi kehitaman ketika dewasa. 
Keunggulan sapi Bali memiliki tingkat kesuburan tinggi, type pekerja yg baik, efisien dlm memanfaatkan sumber pakan, persentase karkas tinggi, daging rendah lemak, daya adaptasi thd lingkungan tinggi. Populasi terbesar di Pulau Bali.

SAPI MADURA 
Penampilan secara umum tdk berbeda dg sapi Bali. Sapi Madura berwarna merah bata baik jantan maupun betina. Perbedaan yg signifikan antara sapi Bali dan sapi Madura terletak pada keberadaan punuk, sapi Bali tdk berpunuk. Populasi terbanyak terkonsentrasi di Pulau Madura. 

SAPI ONGOLE 
Sapi Ongole memiliki punuk, berwarna putih dan memiliki banyak lipatan kulit di bagian leher dan perutnya. 
Sapi ini keturunan Bos indicus dan berkembang bagus di Pulau Jawa.

SAPI PERANAKAN ONGOLE 
Sapi ini merupakan hasil persilangan sapi Ongole asal India dg sapi Madura secara grading up ( keturunan hsl perkawinan itu dikawinkan kembali dg sapi Ongole ). Sapi ini merupakan salah satu bangsa sapi yg banyak dipelihara peternak kecil di P. Jawa memiliki warna putih dan berpunuk. 

SAPI FRISIAN HOLSTEIN ( FH ) 
Di beberapa sentra sapi perah spt Pengalengan dan Boyolali juga dikembangkan usaha penggemukan sapi potong dg sapi bakalan berupa sapi FH jantan. Sapi2 jantan ini agar bisa menghslkan nilai jual yg tinggi, para peternak sapi perah melakukan penggemukan sapi FH jantan sbg sapi potong

SUMBER SAPI BAKALAN 
Dalam sebuah usaha peternakan, pemilihan sapi bakalan merupakan langkah penting yg sangat menentukan keberhasilan usaha. Pengadaan sapi bakalan bisa diperoleh dari 2 sumber yaitu : 
a.Sapi Bakalan Lokal 
b.Sapi Bakalan Impor

SAPI BAKALAN LOKAL 
Ada beberapa jenis sapi lokal yg besar potensinya dan dpt digunakan sbg sapi bakalan, yaitu : 
1.Sapi Bali 
2.Sapi Madura 
3.Sapi Peranakan Ongole 
  • Dengan berat awal sapi 200 – 300 kg ( umur 1-2 th ) 
  • Sapi Bali dan Madura dg pertambahan bobot badan 0,5 – 1,0 kg / hari 
  • Sapi PO dg pertambahan bobot badan 0,4 – 0,8 kg / hari 
  • Sebaiknya sapi yg digemukkan hanyalah sapi2 jantan
SAPI BAKALAN IMPOR 
  • Sapi impor yg didatangkan dari Australia atau Selandia Baru pd umumnya jenis Brahman Cross ( Peranakan American Brahman / PAB ) atau Australian Commercial Cross ( ACC ). 
  • Pertambahan berat badan hariannya cukup tinggi ( 0,8 – 1,2 kg/hari ) 
  • Berat awal 300 – 350 kg dg umur 1-2 tahun 
  • Biasanya diimpor dengan rentang umur dan berat badan yg hampir seragam dan dalam jumlah yg cukup besar sehingga peternak akan mengalami kesulitan utk membeli secara eceran 
MENENTUKAN UMUR SAPI BAKALAN 
Penentuan umur sapi bakalan merupakan langkah penting dlm penggemukan sapi potong. 
  • Setelah umur 2th tulang sapi potong relatif tdk mengalami perubahan lagi, yg dominan adalah pertumbuhan jaringan otot ( daging ) 
  • Jaringan otot mengalami percepatan saat sapi dilahirkan sampai dewasa kelamin ( umur 2 – 2,5 th ) merupakan periode emas pertumbuhan sapi potong. 
  • Sapi bakalan yg akan digemukkan idealnya berumur 1-2 th agar menguntungkan secara ekonomis krn bisa tumbuh dg cepat serta efisien dlm pemberian dan pemanfaatan pakan 
  • Setelah melewati batas pertumbuhan otot, sapi akan mengalami pertumbuhan jaringan lemak, kualitas daging menurun krn kadar kolesterol dlm daging sudah meningkat. 
  • Penentuan umur sapi dilakukan dg pendugaan melihat beberapa bagian tubuh, yaitu : Gigi, Tanduk.
GIGI
Penentuan umur dengan melihat pertumbuhan gigi relatif lebih akurat dibandingkan dg metode pengamatan lingkar tanduk. Untuk diketahui sapi memiliki 4 pasang gigi seri yg posisinya simetris 
  • 15 hari : gigi seri susu sdh tumbuh kecuali gigi seri luar 
  • 1 bulan : gigi seri susu sdh tumbuh semua 
  • 6 bulan : gigi seri susu dlm terasah sebagian 
  • 10-12 bln : gigi seri susu dlm terasah seluruhnya 
  • 16-18 bln : gigi seri susu luar terasah seluruhnya 
  • 1,5-2 th : gigi seri susu dlm sdh berganti dg gigi tetap 
  • 2,5 th : gigi seri susu tengah dlm sdh berganti gigi tetap 
  • 3 th : gigi seri susu tengah luar sdh berganti gigi tetap 
  • 3,5 th : gigi seri susu luar sdh berganti dg gigi tetap
TANDUK
Penentuan umur sapi yg dilakukan dg melihat pertumbuhan tanduk merupakan cara yg mudah krn tanduk berada di bagian luar tubuh sapi, yaitu keberadaan cincin atau lingkar tanduk. 
  • Pada umur 2 bln, bagian bakal tanduk terlihat semakin menonjol. 
  • Pada umur 5-6 bln, tanduk mulai muncul dan semakin memanjang seiring bertambahnya umur sapi. 
  • Metode penentuan umur dg melihat lingkar tanduk hanya bisa dilakukan pd sapi betina krn asumsinya adalah umur kebuntingan. Rumusnya sbb : 
Umur sapi = ( 2 + jumlah lingkar tanduk ) tahun

MENENTUKAN JENIS KELAMIN
  • UU No. 614 Tahun 1936 menyebutkan larangan penyembelihan hewan ( sapi ) betina produktif. 
  • Pengenalan jenis kelamin secara fisik biasanya dilakukan dengan mengamati organ tubuh bagian belakang sapi potong khususnya celah antara kedua paha belakang. 
  • Sapi jantan dengan 2 testis yg terbungkus scrotum dan terlihat jelas melalui celah antara dua paha belakang. 
  • Sementara sapi betina tdk memiliki testis, menjelang dewasa kelamin terlihat adanya perkembangan ambing.
MELIHAT PENAMPILAN FISIK SAPI BAKALAN
Untuk sapi bakalan sebaiknya pilih yg sehat yg ditandai dg ciri2 sbb : 
1.Bulu licin dan mengkilap 
2.Selaput lendir pd gusi dan mulut berwarna merah muda cerah dan lidahnya mudah digerakkan. 
3.Kulit mudah dilipat dan jika dilepaskan segera kembali ke bentuk semula 
4.Hidungnya tidak kotor, basah dan tidak panas 
5.Suhu tubuhnya berkisar 39 – 40°C 
6.Sapi tampak bergairah, aktivitas makannya cukup baik dan cepat bereaksi thd gangguan 
7.Bila sedang beristirahat kemudian diganggu, akan cepat bangkit sbg reaksi atas gangguan tsb Sapi yg sehat juga bisa diihat dari bentuk kotoran atau fesesnya. 
8.Kotorannya padat 

MENAKSIR BERAT BADAN SAPI BAKALAN
Cara terbaik dan paling akurat utk menentukan berat ternak adalah dengan menimbang. 
  • Lingkar Dada ( LD ) biasanya diukur dg melingkarkan meteran kain pd bagian dada sapi tepat di bagian belakang kaki depan 
  • Panjang Badan ( PB ) diukur dari bahu sampai pangkal ekor 
  • Rumus Schrool 
Berat Badan = ( LD + 22 )² 
                               100 

Rumus Modifikasi 
Berat Badan = PB + LD² 
                         10.840 

Pendugaan berat badan dg metode di atas memiliki angka bias sebesar 5 – 10% 

ANEKA METODE PENGGEMUKAN SAPI POTONG
Berbagai metode penggemukan yg telah dikembangkan di seluruh dunia pd dasarnya dikembangkan dari pengetahuan ttg sistem pencernaan ternak ruminansia termasuk sapi. 
  • Sapi mampu mengkonsumsi jenis pakan berkualitas rendah ( kadar serat kasarnya tinggi ) dan mengubahnya menjadi daging yg merupakan bahan pangan berprotein tinggi. 
  • Di Indonesia pemeliharaan sapi potong biasanya dilakukan secara tradisional, sapi hanya diberi pakan seadanya tanpa memperhatikan jml dan kandungan zat gizi dlm pakan. 
  • Peternak tdk memperhatikan kebutuhan pakan sapi utk pertumbuhan yg optimal, akibatnya pertumbuhan berat badan sapi yg dipelihara tdk optimal.
  • Biasanya sapi hanya diberi pakan berupa rumput lapangan atau jerami padi, sehingga sapi hanya mampu menghslkan pertambahan berat badan harian (PBBH) dibawah 0,3 kg 
  • Dlm pemeliharaan spt ini faktor lama pemeliharaan juga tdk menjadi pertimbangan utama, krn tujuan pemeliharaan sapi pada umumnya hanya sbg simpanan, sapi dijual ketika peternak membutuhkan uang dlm wkt cepat. 
  • Pada usaha peternakan sapi potong yg sdh memasuki skala semikomersial atau komersial, waktu pemeliharaan menjadi pertimbangan utama, krn berkaitan erat dg biaya yg hrs dikeluarkan. Agar wkt pemeliharaan relatif singkat, dicari alternatif metode pemberian pakan yg lebih efektif dan efisien.
PETERNAKAN SKALA SEMIKOMERSIAL 
  • Pada peternakan skala semikomersial tetap memberikan hijauan sbg pakan utama, tetapi ada tambahan pakan berupa konsentrat. 
  • Hijauan yg diberikanpun kualitas gizinya sdh cukup tinggi, spt rumput gajah atau benggala. 
  • Konsentrat yg diberikan bukanlah konsentrat yg sebenarnya, hanya berupa campuran ampas tahu dan dedak padi. Kedua bahan pakan tsb harganya relatif murah. 
  • Dengan pemberian bahan pakan tsb, pertumbuhan sapi diharapkan bisa dipacu lebih cepat dan wkt pemeliharaan bisa dipersingkat. 
PETERNAKAN SKALA KOMERSIAL 
  • Pada peternakan sapi potong skala komersial, pakan hijauan justru diberikan dlm jml terbatas, artinya pakan utamanya adalah konsentrat dengan kadar protein kasar sebesar 15 – 16% 
  • Rasio pakan hijauan dan konsentrat bisa 20 : 80, 25 : 75, 30 : 70 atau bahkan 0 : 100 ( full konsentrat). 
  • Pola pemberian pakan spt ini, laju pertambahan berat badan harian sapi potong bisa dipacu dg kisaran 0,6 – 1,2 kg / hari. 
  • Pertambahan berat badan ini juga tergantung pada kondisi wilayah, kadar zat gizi pakan dan faktor genetik masing2 sapi 
PENGGEMUKAN DI PADANG PENGGEMBALAAN
  • Metode penggemukan ini sangat ideal utk dilaksanakan dilokasi-lokasi yg jarang penduduknya. 
  • Sapi digemukkan dengan cara dilepas di suatu padang penggembalaan. 
  • Jenis rumput yg biasa ditanam adalah rumput kolonjono (Brachiaria mutica), rumput pangola (Brachiaria decumbens), rumput ruzi (Brachiaria ruziziensis) dan rumput australia (Paspalum dilatatum) 
  • Untuk keseimbangan zat – zat gizi yg dikonsumsi , perlu juga ditanam jenis leguminosa spt turi (Sesbania grandiflora), petai cina (Leucaena glauca) dan lamtoro. 
Tanaman ini sbg sumber nitrogen yg bisa diubah menjadi protein dlm proses pencernaan.

Biasanya peternak melakukan pembatasan padang penggembalaan menjadi beberapa bagian. Pembatasan dilakukan dg kawat berduri atau dengan tanaman pagar yg tdk mudah dilalui oleh sapi. 

Padang penggembalaan tsb digunakan secara bergantian, setiap beberapa hari sekali sapi dipindahkan ke padang lain yg hijauannya sdh siap dikonsumsi. 

Ketika satu padang penggembalaan ditinggalkan oleh sapi2 yg digemukkan, peternak melakukan pemupukan dan perawatan tanaman di lokasi tsb. Sehingga tanaman hijauan tumbuh kembali sampai tiba giliran penggembalaan di tempat itu kembali. 

Dalam metode ini sapi2 sama sekali tdk diberi pakan tambahan berupa konsentrat, jadi hanya rumput dan leguminose yg tumbuh di padang tsb. 

Lama pemeliharaan sapi umumnya tdk didasarkan pd wkt tertentu, tapi lbh pd penilaian atau penampilan secara fisik, bila dilihat secara fisik sekelompok sapi sdh wktnya utk dijual, sapi2 tsb akan dijual, sisanya terus dipelihara sampai saatnya tiba utk dijual.

Keuntungan sistem penggembalaan sapi di padang penggembalaan adalah sbb. : 
  1. Tdk membutuhkan tenaga kerja yg banyak 
  2. Tdk butuh modal besar utk beli pakan, baik hijauan maupun konsentrat. 
  3. Tdk butuh dana investasi yg cukup besar utk membangun kandang, cukup membangun beberapa shelter utk tempat berteduh dan berlindung dari panas & hujan 
  4. Biaya produksi bisa ditekan serendah mungkin, biaya investasi yg dibutuhkan utk beli sapi bakalan dan pembebasan tanah. 
Kelemahan sistem penggembalaan sapi di padang penggembalaan adalah sbb. : 
  1. Kualitas sapi yg dibesarkan tdk seragam 
  2. Butuh lahan yg luas utk menjamin ketersediaan pakan dlm bentuk hijauan sepanjang tahun. 
  3. Perlu iklim dg curah hjn tinggi sehingga hijauan bisa tumbuh cepat setiap wkt. 
  4. Rawan pencurian bila tdk dijaga dan diawasi. 
  5. Butuh biaya utk sampai di pasar krn biasanya berlokasi di kaki gunung / jauh dari sarana transportasi 
  6. Tingkat produktivitas tdk bisa diperkirakan 
PENGGEMUKAN DRY LOT FATTENING
Pada sistem ini sapi2 dipelihara di kandang khusus dan tdk pernah digembalakan. Penggemukan dg metode ini dikenal sbg metode penggemukan dg biaya tinggi. 

Metode ini pd awalnya diterapkan di lahan2 pertanian jagung di AS yg produksi jagungnya melimpah, pakan sapi hanya dibatasi pd jagung . Namun skrg sapi2 juga diberi pakan hijauan dan konsentrat 

Seluruh bahan pakan tsb diberikan pd sapi dlm bentuk yg sdh siap dikonsumsi di kandangnya. 

Di negeri asalnya, metode ini biasanya dilakukan pd sekelompok sapi muda yg berumur 8 – 12 bln, dan dipelihara selama 120 – 150 hari 

Harapannya pd umur tsb sapi bisa tumbuh secara optimal dan dlm sistem ini berlaku sistem all in all out yg artinya sapi2 yg dipelihara masuk dan keluarnya bersama-sama.

Dalam metode ini sapi2 yg dipelihara cepat gemuk dan pertambahan berat badan hariannya cukup tinggi krn kegiatan sapi hanya makan, akibatnya sapi kurang bergerak dan terjadi penumpukan lemak yg akan menurunkan kualitas daging 

Karena itu sapi2 ini hanya digemukkan dlm 4 – 5 bulan utk menghindari penambahan lemak di beberapa bagian tubuh. 

Pemeliharaan yg singkat jg berkaitan dg efisiensi penggunaan pakan dan sapi2 yg sdh dewasa sangat sulit bertambah berat badannya.

PENGGEMUKAN SISTEM KOMBINASI
Penggemukan sistem ini merupakan kombinasi dari metode penggembalaan dan dry lot fattening. 

Sapi2 dipelihara di suatu kandang tertentu dan pd periode tertentu sapi2 tsb digembalakan di padang penggembalaan. 

Penggembalaan dilakukan saat musim hujan, yaitu saat hijauan tumbuh subur dan saat tdk tersedia pakan hijauan yg cukup, sapi2 diberi akan konsentrat. 

Saat ini metode kombinasi sdh jarang dilakukan krn biaya yg dibutuhkan sangat tinggi dibandingkan dg 2 metode yg dilakukan secara terpisah. 

Selain hrs berinvestasi pd pembuatan kandang, juga hrs membebaskan lahan dan menggaji para pekerja. 

PENGGEMUKAN SISTEM KEREMAN
  • Penggemukan sapi sistem kereman adalah metode penggemukan sapi ala Indonesia yg merupakan hsl modifikasi dari metode dry lot fattening. 
  • Beberapa kondisi sudah mengalami penyesuaian dg kondisi lokal, misalnya pakan konsentrat yg diberikan hanya 1 atau 2 jenis spt dedak padi atau ampas tahu. 
  • Sapi2 dipelihara dlm kandang sederhana dan hijauan siap konsumsi diberikan tiap hari 
  • Sapi dipelihara dlm wkt tdk lebih dari 6 bln dan sama sekali tdk pernah dikeluarkan dari kandang utk digembalakan 
  • Setelah melampaui masa pemeliharaan, sapi dijual di pasar dan sapi2 bakalan baru dimasukkan ke dlm kandang yg sebelumnya dibersihkan dari segala bentuk kotoran yg biasanya dijual sbg pupuk kandang. 
  • Di Indonesia penggemukan sapi potong dg metode kereman sdh banyak dilakukan dg berbagai penyesuaian tergantung kondisi lingkungan, 
  • di sentra produksi tahu, konsentrat yg digunakan adalah ampas tahu . di sentra padi, dedak padi digunakan sbg konsentrat. 
  • Sejauh ini metode kereman adalah metode yg paling cocok dikembangkan di Indonesia, terutama di P. Jawa

Minggu, 20 Oktober 2019

PENGAWETAN RUMPUT (HIJAUAN PAKAN TERNAK) OLEH : DIRI MULYANTO

Bahan pakan adalah segala sesuatu yang diberikan kepada ternak, baik berupa bahan organik atau bahan anorganik yang sebagian atau keseluruhannya dapat dicerna dan tidak mengganggu kesehatan ternak. 
Contoh : bekatul, onggok, dll. 

Zat pakan adalah bagian dari bahan pakan yang dapat dicerna / diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok maupun produksi. Zat pakan terdiri dari : air, karbohidrat, protein, lemak, mineral dan vitamin. 

Ransum adalah campuran dari dua atau lebih bahan pakan yang disusun sedemikian rupa sehingga mampu memenuhi kebutuhan ternak selama 24 jam. Ransum yang tersusun dari beberapa bahan akan lebih sempurna dari pada satu bahan saja, karena kekurangan zat pakan dari salah satu bahan pakan dapat diisi dari bahan pakan yang lain. 

Konsentrat adalah pakan tambahan yang diberikan untuk melengkapi kekurangan zat pakan / zat gizi yang terdapat dalam hijauan sehingga penampilan produksi ternak lebih baik. Konsentrat Ternak Ruminansia mengandung protein kasar 12 - 14 % dan TDN 65 - 70 %. 

A. Pakan hijauan terdiri dari : 
1.Rumput : 
Rumput Lapangan 
Rumput Unggul : rumput Raja, rumput Gajah, rumput setaria, rumput Kolonjono, rumput Bebe (Brachiaria brizanta) dll 

2.Leguminosa (Kacang-kacangan) : 
Lamtoro, Glirisidia, Turi, Centrosoma, Calopogonium dll 

3.Hijauan Lain : 
Daun Waru, daun nangka dll 

4.Limbah Pertanian : 
Jerami padi, pucuk tebu, rending, jerami jagung dll 

B. Pakan Tambahan (Konsentrat) : 
Bekatul, dedak, ampas tahu, ketela pohon, onggok, bungkil kacang 
Daun singkong : Protein 21-30% (domba :2%BB) 
tepung daun singkong (Itik:10% Ayam broiler:5%Ransum) 
Onggok :sapi perah (5 – 10 kg) ayam ras (5%) TDN>70% 
Bungkil kelapa Protein:21% Sapi(30-50%) Domba s 
Unggas:10% 
Ampas tahu : Protein:23% Sapi 5-10 kg,domba:300 gr/ekr/hr 

C. Pakan Pelengkap : 
Mineral, Vitamin, Urea Molase Block (UMB). 

FUNGSI PAKAN BAGI TERNAK : 
1.Menyediakan energi (tenaga) untuk melangsungkan berbagai proses dalam tubuh. 
2.Menyediakan bahan-bahan untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh yang aus/ rusak. 
3.Mengatur kelestarian proses-proses dalam tubuh.

Hijauan Makanan Ternak merupakan salah satu bahan makanan ternak ruminansia sangat diperlukan oleh ternak untuk Memenuhi kebutuhan : 
1.Hidup Pokok 
2.Pertumbuhan/ perkembangan ternak dengan baik 
3.Produksi dan produktivitas ternak 

Ketersediaannya harus cukup baik kuantitas , kualitasnya dan kontinyuitas sepanjang tahun. 

Permasalahan : 
•Ketersediaan HPT produksinya tidak tetap, saat musim hujan Hijauan melimpah, saat musim kemarau produksi rendah (kurang sekali) 
•Keterbatasan lahan HPT (belum dikelola dengan baik, berakibat produktivitas belum optimal) 
•Belum tersedia gudang pakan ternak 

Alternatif Pemecahan Masalah : 
•Pengawetan Hijauan Pakan Ternak 
•Penanaman Hijauan Rumput Unggul 
•Pemanfaatan Gudang Pakan Ternak/ Lumbung Pakan 

Pengawetan Hijauan Pakan ternak : 
1.Pembuatan Silase (tidak menurunkan nilai gizi) 
2.Pembuatan HAY (Penyimpanan kering dengan mengurangi kadar air hijauan) 

Hijauan Makanan Ternak : Rumput, Leguminose, limbah pertanian 

Tujuan Pengawetam HMT : 
1.Menampung kelebihan produksi hijauan saat pertumbuhan terbaik (musim penghujan) 
2.Mengatasi kekurangan hijauan di musim kemarau 
3.Memanfaatkan limbah hasil pertanian 

CARA PENGAWETAN HMT : 
1.S I L A S E 
yaitu : HMT disimpan dalam keadaan segar dengan kadar air 60 – 70 % di dalam tempat SILO 
SILO: Tempat penyimpanan HMT dibuat dalam tanah maupun diatas tanah. 

Ada 3 jenis SILO : 
• PIT SILO 
berbentuk sumur dapat diatas/ dibawah tanah atap PIT SILO : rumbia/ genting/ bahan lain 
•TOWER SILO 
SILO berbentuk menara, menjulang diatas tanah 
•TRENCH SILO 
SILO berbentuk parit memanjang 

Pembuatan SILO : 
1.Kapasitas ukuran harus disesuaikan hijauan yang akan diawetkan 
2.SILO letaknya dekat dengan kandang 
3.Pemilihan lokasi SILO pada tanah yang lebih tinggi untuk mencegah genangan air 
4.Dasar SILO miring ke satu sisi sehingga aliran air baik 
5.Tidak boleh kena air hujan secara langsung/ resapan 
6.Drainase yang baik 
7.Bgn Bawah dilapisi plastik (tidak hub. Langsung dg tanah) 
8.Bgn Sudut harus lengkung agar mudah di padatkan 

BAHAN YG DIGUNAKAN : 
•Semua jenis hijauan, rumput lapangan, rumput unggul atau hijauan lain 
•Sebagai bahan pengawet/ media pertumbuhan bakteri 

Misalnya : 
a. Tetes 2,5 – 3,0 kg / 100 kg hijauan 
b. Dedak Halus 5,0 kg / 100 kg hijauan 
c. Onggok 2,5 – 3 kg /100 kg hijauan 
d. Tepung jagung 3,0 – 5,0 kg / 100 kg hijauan 
e. Menir 3,5 – 5,0 kg / 100 kg hijauan 
f. Ampas tahu 7,0 / 100 kg hijauan 

Proses Fermentasi Asam Laktat (An-aerob) 
Pakan Hijauan + Asimilasi 6 H2O + 6 CO2 + 673 Kkal C6H1206 + 6 O2 
Respirasi gula Oksigen sebagai makanan untuk fermentasi anaerob

CARA PEMBUATAN SILASE : 
1.Rumput / hijauan diangin-anginkan 1 malam, dipotong pendek-pendek ukuran 5 cm rapat dan padat 
Tujuan : 
• Meningkatkan volume 
• Percepatan fermentasi asam laktat 
• Penanganan dan pembongkaran menjadi lebih mudah 
• Meningkatkan hasil 
• Mencegah fermentasi kedua aerob saat musim panas 
2. Dimasukkan ke SILO lapis demi lapis sampai rapat 
3. Bhn diisi melebihi permukaan SILO untuk menjaga penyusutan tidak terjadi kecekungan permukaan 
4. Selesai penumpukan bahan, ke dalam SILO ditutup rapat rapat hampa udara (Proses Fermentasi Asam Laktat Anaerob 
5. Biarkan tutup rapat s/d 1,5 bulan 
6. SILO tutup dengan jerami kering, timbun tanah dan padatkan 

CARA PENGAMBILAN SILASE : 
• SILASE yang BAIK 
1. dapat disimpan bertahun-tahun 
2. dapat diambil sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan setelah itu ditutup rapat kembali 
3. SILASE yang baru diambil harus diangin-anginkan supaya bau asam hilang, baru diberikan pada ternak 

• Ciri SILASE yang BAIK 
1.Rasa dan bau asam 
2.Warna hijau dan (masih hijau) 
3.Tidak gumpal, tidak berlendir dan tidak berjamur 
4.Tekstur tidak berubah (tekstur hijau jelas) 

Bila SILASE : 
Tekstur tidak jelas/ hancur, berjamur, berlendir busuk warna agak kuning , pahit rasanya, tidak dapat Digunakan SEBAGAI MAKANAN TERNAK

2.HAY adalah : proses pengawetan 
Hijauan makanan ternak yang dipotong dan dikeringkan dan menurunkan kadar air menjadi 15- 20 % dengan melalui pengeringan sinar matahari atau panas buatan 

PEMBUATAN HAY : 

a. Bahan dan alat : 
- Alat Pemotong hijauan 
- Panas matahari/ panas fermentasi 
- HMT (rumput/ leguminosa) di panen umur 40 hari 
- Gudang Penyimpanan Hay 
- Alat pemotongan hijauan 
- Anjang/ Penjemur 150 Cm 

b. Cara Pembuatan : 
Prinsip adalah menurunkan kadar air HMT hingga mencapai 15-20 % dengan cara pemanasan (penjemuran, panas fermentasi 

CARA PEMBUATAN : 
1.Pengeringan Matahari (penjemuran) 
• Hijauan dipotong-potong, ditebarkan tipis pada pelataran pengeringan 
• Hijauan dibalik-balik tiap 1 – 2 jam 
• Pengeringan dilakukan sampai kadar air 15 – 20% atau jika sudah berwarna hijau kekuning-kuningan dan tidak mudah patah bila digenggam dengan tangan Usahakan pengeringan dalam watu singkat 4 – 8 jam 
• Tempat penjemuran : rak-rak Tumpukan jangan tebal dan jangan kehujanan, percepat pengeringan cegah jamur. 

2. Panas Fermentasi 
• Hijauan dijemur sebentar pada panas fermentasi 
• Tumpuk dan padatkan dalam gudang tjd fermentasi menghasilkan panas 
• Hay yang dihasilkan berwarna coklat dsb Brown Hay 
• Sirkulasi udara cukup 

3. Panas Buatan 
• Mesin Pemanas suhu 600 -800 C 

Waktu lebih cepat dan singkat 
Dapat bekerja setiap saat, harganya mahal 

KUALITAS HAY YANG BAIK : 
1.Warna Hijau kekuningan 
2.Bau keharum-haruman 
3.Tidak banyak daun yang rusak 
4.Tekstur lemas, tidak keras, tidak mudah patah 
5.Bersih dan tidak berjamur 
6.Tak banyak ranting/ batang yang patah 

KERUSAKAN HAY disebabkan karena : 
1.Hijauan yang dikeringkan tidak segera kering, sehingga terjadi pembakaran zat-zat makanan 
2.Waktu pengeringan jatuh hujan 
3.Daun-daun serta ranting mudah patah/ rontok sehingga mengurangi mutu dan jumlah hay 
4.Akibat kerusakan yang tidak langsung 

Mis. Saat pemotongan kurang tepat, terbaik saat tanaman akan berbunga/ sebelum berbunga 

KARAKTERISTIK HAY SEBAGAI PAKAN TERNAK 
1.Hay pada sapi muda meningkatkan perkembangan fungsi rumen, pada sapi dewasa : kandungan bahan kering meningkatkan daya serap bahan makanan 
2.Palatabilitas ternak akan meningkat 
3.Hay yang baik terbuat dari rumput-rumputan berbatang kecil 
4.Hay dibanding Silase, hay lebih ringan empat kalinya dg kandungan BK sama

Kamis, 17 Oktober 2019

Membuat Pakan Komplit (complete feed) untuk ternak kambing atau domba


Permasalahan utama dalam pengembangan ternak Kambing dan domba adalah masalah ketersediaan pakan, terutama pada musim kemarau. 

Sumber daya local potensial yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak kambing dan domba adalah pemamfaatan hasil samping budi daya tanaman pangan dan perkebunan. Bahan bahan tersebut masih mudah didapat dalam jumlah banyak di suatu lokasi pertanian, perkebunan atau kehutanan.

Kelemahannya adalah bahan tersebut belum lazim di pakai sebagai bahan pakan ternak dan biasanya berkualitas rendah (protein dan energi) serta kurang ramah lidah. 

Jerami padi, tongkol jagung, tebon jagung (batang dan daun jagung sisa panen), jerami kacang tanah, kulit buah dan biji cokelat, serat dan lumpur sawit, bungkil dan inti sawit dan ampas sagu merupakan beberapa sumber daya local yang dapat digunakan sebagai sumber penyedia bahan pakan berkualitas bagi tenak kambing dan domba

Melalui proses bioteknlogi praktis dan sederhana akan dapat diciptakan pola pengembangan usaha ternak kambing dan domba berbasis sumber daya local yang bernilai ekonomis tinggi

Penggunaan pakan lengkap mampu mengatasi factor pembatas pengembangan usaha yang selama ini dihadapi para peternak pada umumnya, yakni kemampuan dalam menyediakan hijauan setiap hari. Dengan menerapkan complete feed, peternak mampu memelihara 40-80 ekor .

Bahan :
Bahan berasal dari sumber daya local yang tersedia, terdiri atas limbah pertanian seperti tebon jagung dan limbah agroindustry seperti onggok dan dedak padi. Formulasi pakan lengkap (berdasarkan bahan kering) dari tim IPTEKDA-LIPI Fakultas Peternakan Universitas Jendral Sudirman sebagai berikut.

•Tebon jagung yang sudah kering atau layu 71 kg, 
•onggok kering 15 kg, 
•dedak padi halus 10 kg, 
•molasses (dapat diganti air gula kelapa) 1,5%, 
•serta garam 2%.

Alat : 
• Drum plastic atau karung plastic (fermentor) dan 
• Alat pencacah (chooper). 

PEMBUATAN
1.Cacah tebon jagung menggunakan chooper atau secara manual dengan ukuran 0,5-2 cm. 
2.Campur cacahan tebon jagung dengan onggok, dedak padi, molases dan garam. 
3.Masukkan campuran tersebut secara bertahap ke dalam fermentor lalu tutup rapat. 
4.Biarkan selama 3 minggu hingga bahan campuran matang. 
5.Hasil fermentasi siap diberikan kepada ternak. Satu ekor kambing dewasa membutuhkan pakan lengkap sekitar 2,5-3 kg per hari. 
6.Pakan yang sudah di fermentasi ini bisa disimpan selama 6 bulan.

Rabu, 16 Oktober 2019

MENGIDENTIFIKASI BAHAN PAKAN TERNAK Oleh Gigus Nuryanto


Kebutuhan pakan ternak meliputi jenis, jumlah, dan kualitas bahan pakan yang diberikan kepada ternak secara langsung akan dapat mempengaruhi tingkat produksi dan produkivitas ternak yang dipelihara. 

Penyediaan pakan yang murah, dari bahan lokal yang tersedia secara terus menerus di sekitar tempat usaha budidaya serta dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak, perlu diupayakan untuk memperoleh keuntungan yang maksimal dalam menunjang keberhasilan usaha budidaya yang dilakukan. 

PERSYARATAN BAHAN PAKAN
—Mengandung nilai nutrisi tinggi 
—Mudah diperoleh 
—Mudah diolah 
—Tidak mengandung racun (anti nutrisi) 
—Harga murah dan terjangkau 
—Butirannya halus dan bisa dihaluskan 

Klasifikasi Bahan Pakan
—Hijauan kering dan jerami
—Pastura, tanaman padangan, dan hijauan segar 
—Silase 
—Sumber energi 
—Sumber protein 
—Sumber mineral 
—Sumber vitamin 
—Sumber aditif 

Bekatul
—Bekatul memiliki kandungan serat kasar yang lebih tinggi daripada jagung atau sumber energi yang lain. Oleh karena itu, bekatul diberikan dalam jumlah terbatas, tergantung jenis ternaknya. 
—Untuk menghindari serangga dan bau tengik yang mengakibatkan kualitas bekatul berkurang, bekatul dijemur terlebih dahulu selama 3-4 hari. 

Jagung 
—Jagung mempunyai kandungan protein rendah dan beragam, tetapi kandungan serat kasarnya rendah dengan kandungan energi metabolisme tinggi.

Sorgum
—Sorgum merupakan pakan sumber energi dan penunjang asam amino esesnsial sebagaimana halnya jagung. Umumnya sorgum yang berwarna gelap mengandung tannin lebih banyak daripada sorgum yang berwarna terang.

Dedak Padi
—Harganya murah dan kandungan unsur nutrisinya cukup baik. Hanya saja mengandung serat kasar agak tinggi. Kandungan serat kasar inilah yang menyebabkan pemakaian dedak padi menjadi sangat terbatas. 

Gaplek
—Gaplek adalah umbi kayu yang telah dikupas kulitnya dan dikeringkan dengan menggunakan sinar matahari. Tujuan pengeringan ubi kayu ini adalah agar dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama, mudah penanganannya, dan untuk mengurangi atau menghilangkan kandungan glukosida (linamarin) yang dapat menghasilkan HCN karena adanya aktivitas enzim tertentu. 

Onggok
—Onggok merupakan hasil sisa pembuatan pati ketela pohon.

Molases atau Tetes
—Tetes berasal dari hasil ikutan pada proses penggilingan tebu menjadi gula. Tetes tebu berwarna coklat kemerahan, kalau dicicipi akan terasa manis. 

Minyak Kelapa dan Minyak Kedelai
—Penggunaan minyak kelapa dan minyak kedelai dalam penyusunan ransum adalah untuk melengkapi kekurangan gizi. Selain itu, kedua bahan ini sangat membantu dalam pembuatan pakan bentuk pellet, karena dapat memperlicin atau mempermudah keluarnya pakan saat melewati sarangan mesin pembuatan pakan. 

Bungkil Kedelai
—Bungkil kedelai merupakan bahan pakan sumber dwiguna, sebagai sumber protein dan sumber energi. 

Bungkil Kacang Tanah
—Kendala penggunaan bahan pakan ini adalah sifatnya yang mudah dirusak oleh jamur yang akan menimbulkan racun aflatoksin serta tidak banyak tersedia dan diproduksi diIndonesia. 

Bungkil Kelapa
—Bahan pakan ini cukup banyak tersedia di Indonesia dan sudah biasa digunakan oleh para peternak di Indonesia. 

Bungkil Kelapa Sawit
—Bungkil kelapa sawit yang dimaksud adalah bungkil dari pembuatan minyak inti atau daging buah kelapa sawit. Oleh karena itu, sering disebut sebagai bungkil inti sawit. 

Tepung daun Turi
—Tepung daun turi merupakan sumber serat kasar. Tepung ini sangat baik digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak unggas petelur. Pakan sumber serat kasar dapat mengurangi kadar kolesterol dalam telur yang dihasilkan. 

Tepung Daun Ubi 
—Pemberian tepung daun ubi kayu dalam penyusunan pakan unggas terbatas hanya sampai 5% karena adanya asam prusid dan sianida yang merupakan senyawa yang sangat beracun. Untuk menghilangkannya, daun ubi yang akan digunakan sebagai bahan pakan unggas harus dipotong-potong , dicuci dan dijemur sampai kering.

Tepung Daun Lamtoro
—Tepung daun lamtoro mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi, tetapi bahan ini mengandung racun yaitu mimosin. Jika digunakan secara berlebihan dapat menyebabkan kerontokan bulu unggas, jalan sempoyongan, dan pembesaran kelenjar gondok. 

Bahan Pakan Sumber Protein Hewani
—Tepung Darah 
—Tepung Bekicot 
—Tepung Bulu Unggas 
—Tepung Ikan 
—Tepung Daging Tulang 
—Tepung Rese 
—Manure (tinja ayam) 
—Tinja bercampur bahan litter 
—Tinja murni 

Bahan Pakan Sumber Mineral
—Tepung Tulang 
—Garam Dapur 
—Tepung Batu kapur 
—Premik 

Antinutrisi pada Bahan Pakan
Adanya senyawa anti nutrisi dalam bahan pakan dapat menjadi pembatas dalam penggunaannya dalam ransum, karena senyawa antinutrisi ini akan menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap pertumbuhan dan produksi tergantung dosis yang masuk kedalam tubuh.

Tannin
—tannin terkondensasi paling banyak menyebar di tanaman dan dianggap sebagai tannin tanaman. Sebagian besar biji legume mengandung tannin terkondensasi terutama pada testanya. Warna testa makin gelap menandakan kandungan tannin makain tinggi. 
—kandungan tannin pada bahan pakan dapat diturunkan dengan berbagai cara seperti perendaman, perebusan, fermentasi, dan penyosohan kulit luar biji. 

Saponin
—Sebagian besar saponin ditemukan pada biji-bijian dan tanaman makanan ternak seperti alfalfa, bunga matahari, kedelai, kacang tanah 

Mimosin
— Karena adanya mimosin ini penggunaan lamtoro dalam ransum non ruminansia sebesar 5-10 % tanpa menimbulkan gejala toxicosis. Efek yang merugikan dari mimosin, yaitu menurunkan pertumbuhan dan menurunkan produksi telur. Ayam muda lebih sensitif dari pada ayam dewasa.

Cyanogenic glycoside (Cyanogen)
—Singkong (cassava) adalah hasil panen utama yang mengandung cyanogen dalam jumlah tinggi. 
—Pengolahan singkong secara tradisional yaitu umbi dipotong-potong dibawah air mengalir untuk mencuci cyanogen. Alternatif lain yaitu umbi singkong dipotong-potong, dihancurkan dan dikeringkan dibawah sinar matahari sampai HCN menguap. 

Hijauan Pakan Ternak
—Jenis Rumput-Rumput 
—Jenis Legumi 
—Hijauan Dari Limbah Pertaniannosa (kacang-kacangan)an 
—Jerami Padi 
—Jerami Jagung 
—Daun Tebu

Senin, 14 Oktober 2019

STRATEGI PEMBERIAN PAKAN UNTUK PENGGEMUKAN SAPI


Prinsip dari pemberian pakan bertujuan untuk : 
  • Mendapatkan ternak dengan laju pertumbuhan yang tinggi 
  • Konversi pakan selama proses penggemukan rendah atau efisien 
  • Biaya pakan untuk pertambahan bobot badan seekonomis mungkin dan murah 
  • Produksi karkas terutama daging yang maksimal 
  • Kualitas karkas dan daging yang baik 
  • Harga daging yang dipasarkan menguntungkan dan sesuai dengan selera konsumen 
Untuk mencapai sasaran tersebut, ada beberapa strategi yang dilakukan yakni: 
  • Untuk mendapatkan ternak dengan laju pertumbuhan yang tinggi maka pemilihan ternak bakalan harus selektif, dengan kriteria ternak sapi pada posisi umur, dengan laju pertumbuhan yang cepat, antara lain pada usia sekitar pubertas. Umumnya sapi berumur 2-2,5 tahun. 
  • Untuk mendapatkan pertumbuhan kompensasi dengan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dari keadaan normal, dipilih sapi bakalan yang kurus tapi sehat. Kondisi kurus bukan karena stress lingkungan atau kekurangan pakan. 
  • Individu dan bangsa sapi yang dipilih dari bangsa sapi tipe potong dengan adaptasi yang baik di daerah tropis.
  • Formulasi ransum yang diberikan pada sapi diusahakan dengan mempertimbangkan pola pertumbuhan jaringan tubuh (komponen karkas) yang mengacu pada produksi daging sesuai selera konsumen. Imbangan nilai nutrisi antara konsumsi energi dan protein perlu diperhatikan mengingat pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan jaringan muskulus dan lemak.
  • Efisiensi penggunaan pakan diefisienkan dengan memanipulasi mikroba rumen (perlakuan defaunasi, penggunaan antibiotika, probiotik, amoniasi urea dan lain-lain). 
  • Hal ini mengingat struktur alat pencernaan yang spesifik dari ruminansia, memberikan keunggulan tersendiri dalam kapasitasnya sebagai ternak yang mampu memanfaatkan hijauan berkadar serat kasar tinggi dan tidak bersaing dengan kepentingan manusia. 
RATION BALANCE

Step 1 : Menaksir berat badan sapi yang akan digemukan dan berapa ADG yang diharapkan dengan melihat Tabel 3 
Step 2 : Berdasarkan Tabel 3, dapat dihitung konsumsi bahan kering (DM) sapi yang bersangkutan. Tabel ini juga dapat menunjukkan tingkat zat-zat makanan yang harus dipenuhi dalam bahan keringnya. 
Step 3 : Berdasarkan Tabel 1 & 2, pilihlah bahan-bahan makanan yang tersedia disekitar lokasi dan harganya paling murah. Carilah jumlah dari bahan-bahan tersebut yang menghasilkan ransum sama dan seimbang dalam BK, energi, protein kasar, Calcium dan Phospor. 
Step 4 : Hitunglah apakah bahan-bahan yang paling murah dapat memenuhi kebutuhan energi (TDN). Kalau tidak, maka campurkanlah bahan-bahan makanan sedikit lebih mahal tapi mengandung energi lebih tinggi. Hal yang sama juga dilakukan apabila protein kasar tidak mencukupi, tambahkanlah bahan pakan yang yang kadar protein kasarnya lebih tinggi walaupun harganya lebih mahal.
CONTOH :
Feedloter mempunyai sapi-sapi bakalan dengan bobot badan rata-rata 350 kg. Susunlah ransum untuk menaikkan bobot badan sebesar 1 kg/hari dengan menggunakan bahan utama AMPAS NANAS.