Tampilkan postingan dengan label Terna Kambing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terna Kambing. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Oktober 2019

Membuat Pakan Komplit (complete feed) untuk ternak kambing atau domba


Permasalahan utama dalam pengembangan ternak Kambing dan domba adalah masalah ketersediaan pakan, terutama pada musim kemarau. 

Sumber daya local potensial yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak kambing dan domba adalah pemamfaatan hasil samping budi daya tanaman pangan dan perkebunan. Bahan bahan tersebut masih mudah didapat dalam jumlah banyak di suatu lokasi pertanian, perkebunan atau kehutanan.

Kelemahannya adalah bahan tersebut belum lazim di pakai sebagai bahan pakan ternak dan biasanya berkualitas rendah (protein dan energi) serta kurang ramah lidah. 

Jerami padi, tongkol jagung, tebon jagung (batang dan daun jagung sisa panen), jerami kacang tanah, kulit buah dan biji cokelat, serat dan lumpur sawit, bungkil dan inti sawit dan ampas sagu merupakan beberapa sumber daya local yang dapat digunakan sebagai sumber penyedia bahan pakan berkualitas bagi tenak kambing dan domba

Melalui proses bioteknlogi praktis dan sederhana akan dapat diciptakan pola pengembangan usaha ternak kambing dan domba berbasis sumber daya local yang bernilai ekonomis tinggi

Penggunaan pakan lengkap mampu mengatasi factor pembatas pengembangan usaha yang selama ini dihadapi para peternak pada umumnya, yakni kemampuan dalam menyediakan hijauan setiap hari. Dengan menerapkan complete feed, peternak mampu memelihara 40-80 ekor .

Bahan :
Bahan berasal dari sumber daya local yang tersedia, terdiri atas limbah pertanian seperti tebon jagung dan limbah agroindustry seperti onggok dan dedak padi. Formulasi pakan lengkap (berdasarkan bahan kering) dari tim IPTEKDA-LIPI Fakultas Peternakan Universitas Jendral Sudirman sebagai berikut.

•Tebon jagung yang sudah kering atau layu 71 kg, 
•onggok kering 15 kg, 
•dedak padi halus 10 kg, 
•molasses (dapat diganti air gula kelapa) 1,5%, 
•serta garam 2%.

Alat : 
• Drum plastic atau karung plastic (fermentor) dan 
• Alat pencacah (chooper). 

PEMBUATAN
1.Cacah tebon jagung menggunakan chooper atau secara manual dengan ukuran 0,5-2 cm. 
2.Campur cacahan tebon jagung dengan onggok, dedak padi, molases dan garam. 
3.Masukkan campuran tersebut secara bertahap ke dalam fermentor lalu tutup rapat. 
4.Biarkan selama 3 minggu hingga bahan campuran matang. 
5.Hasil fermentasi siap diberikan kepada ternak. Satu ekor kambing dewasa membutuhkan pakan lengkap sekitar 2,5-3 kg per hari. 
6.Pakan yang sudah di fermentasi ini bisa disimpan selama 6 bulan.

Minggu, 22 Januari 2017

Getah pepaya untuk mencegah dan mengobati cacingan pada kambing atau domba




Ternak ruminansia kecil (kambing dan domba) merupakan komoditi potensial untuk pengembangan usaha tani oleh petani kecil di pedesaan, karena bentuk tubuhnya kecil, kebutuhan makanan yang lebih sedikit dan kandang yang relatif sederhana dibandingkan dengan ternak besar. Ini berarti investasi modal dan tenaga kerja yang diperlukan relatif tidak besar. Salah satu kendala yang dapat mempengaruhi percepatan pengembangan ternak kambing/domba di pedesaan adalah penyakit, ini akibat dari pola pemeliharaannya yang masih sederhana. Penyakit tidak hanya mengakibatkan kerugian ekonomi karena menurunnya produktivitas ternak bahkan kematian, namun dapat pula menimbulkan dampak negatif yang lain yaitu menurunnya minat petani peternak untuk mengembangkan usahanya. Diantara penyakit yang menyerang kambing/ domba bahkan dapat mengakibatkan kematian adalah penyakit parasit saluran pencernaan yang disebabkan oleh infeksi cacing nematoda antara lain Haemonchus contortus, Bunostomum sp, Oesophagostomum .sp, Trychoslrongylus sp dan Trichuris sp. 

Cacing nematoda yang paling banyak ditemukan terutama adalah Haemonchus contortus. Cacing Haemonchus ini paling banyak menimbulkan kerugian ekonomi karena infeksi Haemonchus contortus pada kambing atau domba dapat menyebabkan kematian, menghambat pertumbuhan, menghambat pertambahan berat badan serta menimbulkan gangguan reproduksi. Iklim tropis di Indonesia sangat menunjang kelangsungan hidup parasit ini serta membantu terjadinya infeksi pada ternak kambing/domba. Untuk menanggulangi, mencegah dan mengobati penyakit tersebut, selain harga obatnya mahal dan tidak terjangkau oleh daya beli petani kecil dipedesaan maka perlu beberapa alternatif dengan pemberian obat-obatan tradisional antara lain getah pepaya atau perasan daun pepaya.

Haemonchus contortus merupakan cacing yang hidup didalam abomasum (perut kitab) domba, kambing dan sapi. Cacing tersebut menghisap darah induk semangnya sehingga menimbulkan beberapa efek terhadap induk semangnya antara lain: anemia (kurang darah), kadang-kadang di jumpai kebengkakan pada rahang bawah, gangguan pencernaan, penurunan berat badan dan menjadi lebih rentan terhadap infeksi penyakit lain.

Tanda tanda penyakit
  • Anemia (kurang darah).
  • Tubuh kurus, kulit kasar dan bulu kusam.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Diare (mencret).
  • Konstipasi (sulit buang air) bila infeksinya berat.
  • Di jumpai gumpalan darah di dalam abomasumnya.
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT
Untuk pengendalian dan pencegahan perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
  1. Pemberian ransum/makanan yang berkualitas dan cukup jumlahnya.
  2. Menghindari kepadatan dalam kandang.
  3. Memisahkan antara ternak muda dan dewasa.
  4. Memperhatikan konstruksi dan sanitasi (kebersihan lingkungan)
  5. Menghindari tempat - tempat yang becek.
  6. Menghindari pengembalaan yang terlalu pagi.
  7. Melakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan secara teratur.
PENYADAPAN GETAH PEPAYA DAN PENGGUNAANNYA SEBAGAI OBAT
Selain pencegahan dan pengendalian maka bagi ternak yang menderita cacingan dapat di obati dengan obat cacing. Pada kondisi krisis seperti sekarang ini, harga obat racing sangat mahal sehingga tidak terjangkau oleh petani peternak dipedesaan serta sangat terbatasnya ketersediaan dilapangan. Oleh karena itu untuk mensiasati keadaan tersebut perlu diberikan obat obatan tradisional antara lain getah / daun pepaya. Getah pepaya dapat diperoleh dari hampir seluruh bagian pohon pepaya. Getah dapat diperoleh paling banyak dan paling baik mutunya dari buah pepaya yang masih muda. Getah buah pepaya mengandung papain, Kimo papain A, Kimo papain B, papaya peptidase, pektin, D-galaktase dan L-arabinose.

1. Penyadapan getah pepaya.
  • Buah pepaya muda yang masih menggantung dipohon, ditoreh membujur dengan sedalam 1-5mm dengan jarak torehan 1 - 2 cm.
  • Waktu penyadapan pukul 06.00-08.00, diulang 4 hari sekali pada buah yang sama.
  • Pada tempat torehan, getah yang keluar ditampung dengan gelas/slat dari plastik yang diikatkan pada buah pepaya dengan selotip.
  • Setiap 100 ml getah yang tertampung ditambah dengan 2 tetes larutan Natrium Bisulfit 30 % untuk mencegah oksidasi.
  • Kemudian Dijemur dibawah sinar matahari atau dioven pada suhu 30-60 derajat Celcius sampai kering.
  • Getah yang sudah kering dihaluskan menjadi serbuk.
2. Penggunaan sebagai obat cacing
  • Dosis (takaran) yang diberikan adalah 1,2 gram/ kg BB, setiap minggu 3 kali pemberian.
  • Serbuk getah pepaya di campur dengan air dengan perbandingan 1 : 5 ( 1 bagian serbuk dan 5 bagian air) diaduk hingga berbentuk suspensi.
  • Suspensi tersebut diminumkan atau diberikan lewat mulut dengan selang langsung kerumen.
Selain getah pepaya yang diambil dari buah pepaya muda, dapat juga perasan daun pepaya dipergunakan sebagai obat cacing tradisional dengan cara sebagai berikut:
  • Ambil 2 sampai 3 lembar daun pepaya (tidak terlalu muda/tua).
  • Haluskan daun pepaya tersebut, berikan sedikit air matang/bersih kemudian diperas dan diambil airnya.
  • Minumkan pada ternak kambing/domba sebanyak 2 sampai 3 sendok makan atau disesuaikan dengan berat badan ternak, setiap minggu, 3 kali pemberian

Kamis, 19 Januari 2017

Gertak birahi pada kambing dengan metode Laserpunktur


Titik akupunktur pada kambing (Gambar dari google)


Ternak kambing memiliki prospek ekonomi cukup baik, mengingat peluang pasarnya yang besar, baik di dalam maupun di luar negeri. Agroekonomi daerah Bali masih memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan kambing. Kambing bisa diberdayakan terintegrasi dengan tanaman industri, bisa pula dikembangkan di daerah lahan marginal. Dari aspek reproduksi, usaha peternakan kambing di masyarakat masih perlu ditingkatkan, antara lain untuk memperpendek interval beranak, meningkatkan jumlah anak sekelahiran ("Calving interval'), serta bobot lahir. Aplikasi teknologi laserpunktur diharapkan akan dapat mendukung peningkatan daya reproduksi melalui gertak birahi dan superovulasi. Dengan gertak birahi, berarti waktu birahi kambing betina dapat ditingkatkan, sehingga pelaksanaan Kawin Suntik (IB) dapat dilaksanakan secara lebih efisien

Laserpunktur memiliki tujuan diantaranya:
  • Untuk menyerempakkan siklus birahi, sehingga perkawinan dan kebuntingan bisa serempak. Hal ini akan memudahkan manajemen (pemeliharaan, pemasaran).
  • Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan IB (Kawin Suntik).
  • Memperpendek selang beranak (Calving interval) sehingga frekuensi beranak lebih tinggi. 
  • Meningkatkan jumlah anak per kelahiran (litter size)
PERSYARATAN
  • Kambing betina yang telah berumur 10 - 12 bulan.
  • Induk kambing yang telah melahirkan sedikitnya 1,5 bulan.
  • Dalam keadaan sehat.
  • Tidak dalam keadaan bunting.
  • Tidak dalam keadaan birahi.
TITIK AKUPUNKTUR
Titik akupunktur untuk gertak birahi dan Superovulasi ada 22 buah.
  1. 5 buah titik pada antara Frocessus spinosus vertebrae Imbalis 1 - 6.
  2. 10 buah titik pada antara Processus Transversus vertebrae lumbalis 5 ke kiri 5 ke kanan.
  3. 4 buah titik di depan dan di belakang (2 di kiri - 2 di kanan) Os pubis.
  4. 1 buah titik di pangkal ekor (pembatas vertebrae coccygialis dan vertebrae Sacralys).
  5. 2 buah titik di kiri kanan pertengahan vulva.
CARA PELAKSANAAN AKUPUNKTUR
  1. Bawa kambing betina di tempat yang datar dan teduh (bila memungkinkan bisa dilakukan di dalam kandang.
  2. Salah seorang operator mengempit leher kambing dengan duo bush kaki dan kepala menghadap ke ekor (belakang). Bila kambing memberontak tarik kedua teIinganya.
  3. Seorang operator yang lain memberikan perlakuan laserpunktur, dengan menempelkan ujung tabung pada titik akupuntur.
  4. Setiap titik diberi perlakuan 5 detik, sehingga keseluruhan memerlukan waktu 22 x 5 detik = 110 detik (± 2 menit).
  5. Perlakuan serupa diulang pada hari ke - 2.
  6. Pada hari ke-3 biasanya kambing sudah birahi.
  7. Bila birahi mulai malam/sore hari, dikawinkan pagi atau siang hari. Bila mulai birahi pagi, dikawinkan siang atau sore hari.
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
  1. Induk kambing harus dalam keadaan sehat, tidak bunting dan sudah cukup dewasa.
  2. Pakan harus memadai, hijauan diberikan minimal 10% dari beratbadan per ekor per hari, dan lebih baik bila diberi konsentrat (dedak atau ampas tahu) menjelang dan beberapa minggu setelah dikawinkan
  3. Operator harus benar-benar terampil menentukan titik akupunktur dan mempergunakan alat.
  4. Alat laser harus dalam keadaan siap pakai. Bila battery dalam keadaan lemah harus diisi dengan energi listrik.
  5. Setiap selesai digunakan, alat harus dalam keadaan diistirahatkan (pindahkan tombol dari posisi "On" ke posisi "Off").
  6. Tempat pelayanan laserpunktur hendaknya jangan terlalu jauh dari kandang agar kambing tidak terlalu jauh berjalan, untuk menghindari stress.
Sumber materi saya dapat dari: Suprio Guntoro, dkk. (2000). Laporan Akhir Penelitian Adaptif Superovulasi pada Kambing dengan Laser Punktur

Semoga bermanfaat buat kawan - kawan peternak.

Selasa, 17 Januari 2017

Ternak Kambing lengkap dari pemilihan bibit, perawatan sampai panen


Sumber gambar dari google

Ternak kambing sudah lama diusahakan oleh petani atau masyarakat sebagai usaha sampingan atau tabungan karena pemeliharaan dan pemasaran hasil produksi (baik daging, susu, kotoran maupun kulitnya) relatif mudah. Meskipun secara tradisional telah memberikan hasil yang lumayan, jika pemeliharaannya ditingkatkan (menjadi semi intensif atau intensif), pertambahan berat badannya dapat mencapai 50 - 150 gram per hari. Ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam usaha ternak kambing, yaitu: bibit, makanan, dan tata laksana. 

BIBIT 
Pemilihan bibit harus disesuaikan dengan tujuan dari usaha, apakah untuk pedaging, atau perah (misalnya: kambing kacang untuk produksi daging, kambing etawah untuk produksi susu, dll). Secara umum ciri bibit yang baik adalah yang berbadan sehat, tidak cacat, bulu bersih dan mengkilat, daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan. 
Kambing Kacang (Sumber dari google)
Kambing Etawa (Sumber dari google)

Ciri untuk calon induk: 
  1. Tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus, tubuh besar, tapi tidak terlalu gemuk. 
  2. Jinak dan sorot matanya ramah. 
  3. Kaki lurus dan tumit tinggi. 
  4. Gigi lengkap, mampu merumput dengan baik (efisien), rahang atas dan bawah rata. 
  5. Dari keturunan kembar atau dilahirkan tunggal tapi dari induk yang muda. 
  6. Ambing simetris, tidak menggantung dan berputing 2 buah. 
Ciri untuk calon pejantan : 
  1. Tubuh besar dan panjang dengan bagian belakang lebih besar dan lebih tinggi, dada lebar, tidak terlalu gemuk, gagah, aktif dan memiliki libido (nafsu kawin) tinggi. 
  2. Kaki lurus dan kuat. 
  3. Dari keturunan kembar. 
  4. Umur antara 1,5 sampai 3 tahun. 
MAKANAN 
Jenis dan cara pemberiannya disesuaikan dengan umur dan kondisi ternak. Pakan yang diberikan harus cukup protein, karbohidrat, vitamin dan mineral, mudah dicerna, tidak beracun dan disukai ternak, murah dan mudah diperoleh. Pada dasarnya ada dua macam makanan, yaitu hijauan (berbagai jenis rumput) dan makan tambahan (berasal dari kacang-kacangan, tepung ikan, bungkil kelapa, vitamin dan mineral). 

Cara pemberiannya : 
  • Diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore), berat rumput 10% dari berat badan kambing, berikan juga air minum 1,5 - 2,5 liter per ekor per hari, dan garam berjodium secukupnya. 
  • Untuk kambing bunting, induk menyusui, kambing perah dan pejantan yang sering dikawinkan perlu ditambahkan makanan penguat dalam bentuk bubur sebanyak 0,5 - 1 kg/ekor/hari. 
TATA LAKSANA 
Kandang Ternak Kambing (Sumber dari google) 
  • Harus segar (ventilasi baik, cukup cahaya matahari, bersih, dan minimal berjarak 5 meter dari rumah). Ukuran kandang yang biasa digunakan adalah : 
Kandang beranak : 120 cm x 120 cm /ekor 
Kandang induk : 100 cm x 125 cm /ekor 
Kandang anak : 100 cm x 125 cm /ekor 
Kandang pejantan : 110 cm x 125 cm /ekor 
Kandang dara/dewasa : 100 cm x 125 cm /ekor 
  • Pengelolaan reproduksi 
Diusahakan agar kambing bisa beranak minimal 3 kali dalam dua tahun. 
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah : 
  1. Kambing mencapai dewasa kelamin pada umur 6 s/d 10 bulan, dan sebaiknya dikawinkan pada umur 10-12 bulan atau saat bobot badan mencapai 55 - 60 kg. 
  2. Lama birahi 24 - 45 jam, siklus birahi berselang selama 17 - 21 hari. 
  3. Tanda-tanda birahi : gelisah, nafsu makan dan minum menurun, ekor sering dikibaskan, sering kencing, kemaluan bengkak dan mau/diam bila dinaiki. 
  4. Ratio jantan dan betina = 1 : 10 
Saat yang tepat untuk mengawinkan kambing adalah : 
  1. Masa bunting 144 - 156 hari (.... 5 bulan). 
  2. Masa melahirkan, penyapihan dan istirahat ± 2 bulan. 
  • Pengendalian Penyakit 
  1. Hendaknya ditekankan pada pencegahan penyakit melalui sanitasi kandang yang baik, makanan yang cukup gizi dan vaksinasi. 
  2. Penyakit yang sering menyerang kambing adalah: cacingan, kudis (scabies), kembung perut (bloat), paru-paru (pneumonia), orf, dan koksidiosis.