Tampilkan postingan dengan label Virus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Virus. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 April 2020

Penjelasan JAHE (Zingiber officinale Rosc.) kenapa kok jadi di cari sebagai pencegah Virus Corona

(Sumber: hargabulanini.com)

Jahe merupakan jenis rempah-rempah yang paling banyak digunakan dalam berbagai resep makanan dan minuman. Secara empiris jahe biasa digunakan masyarakat sebagai obat masuk angin, gangguan pencernaan, sebagai analgesik, antipiretik, anti-inflamasi, dan lainlain. Berbagai penelitian membuktikan bahwa jahe mempunyai sifat antioksidan. Beberapa komponen utama dalam jahe seperti gingerol, shogaol, dan gingeron memiliki aktivitas antioksidan di atas vitamin E (Kikuzaki dan Nakatani 1993).

Selain itu jahe juga mempunyai aktivitas antiemetik dan digunakan untuk mencegah mabuk perjalanan. Radiati et al. (2003) menyatakan bahwa konsumsi ekstrak jahe dalam minuman fungsional dan obat tradisional dapat meningkatkan ketahanan tubuh dan mengobati diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak jahe dapat meningkatkan daya tahan tubuh yang direfleksikan dalam sistem kekebalan, yaitu memberikan respons kekebalan inang terhadap mikroba pangan yang masuk ke dalam tubuh. Hal itu disebabkan ekstrak jahe dapat memacu proliferasi limfosit dan menekan limfosit yang mati (Zakaria et al. 1996) serta meningkatkan aktivitas fagositas makrofag (Zakaria dan Rajab 1999). 

Selain itu jahe mampu menaikkan aktivitas salah satu sel darah putih, yaitu sel natural killer (NK) dalam melisis sel targetnya, yaitu sel tumor dan sel yang terinfeksi virus (Zakaria et al. 1999). Hasil penelitian ini menopang data empiris yang dipercaya masyarakat bahwa jahe mempunyai kapasitas sebagai antimasuk angin, suatu gejala menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang oleh virus (influenza). Peningkatan aktivitas NK membuat tubuh tahan terhadap serangan virus karena sel ini secara khusus mampu menghancurkan sel yang terinfeksi oleh virus. Selanjutnya Nurrahman et al. (1999) menyatakan bahwa mengkonsumsi jahe setiap hari dapat meningkatkan aktivitas sel T dan daya tahan limfosit terhadap stres oksidatif. Komponen dalam jahe yaitu gingerol dan shogaol mempunyai aktivitas antirematik. Hal ini ditunjang dengan pendapat Kimura et al. (1997) bahwa jahe berfungsi sebagai anti-inflamasi rematik arthritis kronis.

Materi di kutip dari:
Christina Winarti dan Nanan Nurdjanah
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Jalan Tentara Pelajar
No. 12, Bogor 16111

TANAMAN REMPAH DAN OBAT SUMBER PANGAN FUNGSIONAL


Tanaman rempah - rempah saat ini lagi banyak di cari karena Virus Covid-19, karena banyak mengadung senyawa yang baik untuk mencegah virus tumbuh ditubuh kita. Senyawa fitokimia sebagai senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman mempunyai peranan yang sangat penting bagi kesehatan termasuk fungsinya dalam pencegahan terhadap penyakit degeneratif. 

Beberapa senyawa fitokimia yang diketahui mempunyai fungsi fisiologis adalah karotenoid, fitosterol, saponin, glikosinolat, polifenol, inhibitor protease, monoterpen, fitoestrogen, sulfida, dan asam fitat. Senyawa-senyawa tersebut banyak terkandung dalam sayuran dan kacang-kacangan, termasuk tanaman rempah dan obat. Menurut Craig (1999), diet yang menggunakan rempah rempah dalam jumlah banyak sebagai penyedap makanan dapat menyediakan berbagai komponen aktif fitokimia yang bermanfaat menjaga kesehatan dan melindungi tubuh dari penyakit kronis. 

Bahan-bahan tersebut dapat disajikan dalam berbagai bentuk, antara lain minuman kesehatan, minuman instan, jus, sirup, permen, acar, manisan, dodol, selai, dan jeli. Sampoerno dan Fardiaz (2001) menyatakan bahwa jamu yang disajikan dalam bentuk minuman dapat dikategorikan sebagai minuman fungsional asal karakteristik sensorinya diatur sedemikian rupa sehingga dapat diterima oleh masyarakat luas. Minuman seperti beras kencur, sari jahe, sari asam, kunyit asam, sari temu lawak, bir pletok, dan susu telor madu jahe merupakan contoh minuman asal jamu yang dapat dikembangkan sebagai produk industri minuman fungsional.

Materi di kutip dari: 
Christina Winarti dan Nanan Nurdjanah
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Jalan Tentara Pelajar
No. 12, Bogor 16111

Senin, 28 Oktober 2019

Virus-virus ikan

a. Cell line ikan 
Jenis-jenis cell line ikan yang diperlukan untuk pengujian pathogen pada ikan 
yang masuk dalam daftar OIE antara lain adalah : 
  • Bluegill fry (BF-2) 
  • Channel Catfish Ovary (CCO) 
  • Chinnok Salmon Embryo (CHSE-214) 
  • Epitheluoma Populosum Cyprini (EPC) 
  • Rainbow Trout Gonad (RTG-2) 
Informasi teknis mengenai penggunaan cel line ini untuk mengisolasi pathogen ikan yang termasuk dalam daftar OIE dapat dilihat pada tabel 1. 

Tabel 1. Informasi teknis mengenai cell line ikan yang paling sesuai untuk mendeteksi 
agen-agen virus yang masuk dalam daftar OIE. 
b. Media Kultur 
Jenis medium paling umum digunakan untuk pembiakan sel kultur ikan adalah Eagle’s minimal essential medium (MEM) yang terdiri dari garam Earle (Earle’s salt) yang ditambah dengan 10 % fetal calf serum, antibiotic dan 2 mM L-glutamine. 

Medium stoker yang merupakan modifikasi MEM memiliki konsentrasi asam amino dan vitamin yang dua kali lebih kuat dianjurkan digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan sel dengan menggunakan suplemen yang sama dengan MEM dan ditambah dengan 10 % trytose phosphate. 

Medium-medium ini dibuffer baik dengan sodium bikarbonat, 0,16 M trishydroxymethyl aminomethane (Tris) HCL atau dengan 0,02 M asam N-2- hydroxyethil-piperazine-N-2-ethanesulfonic (HEPES). 

Penggunaan sodium bicarbonate saja, hanya terbatas pada kultur sel yang dibuat dalam botol yang tertutup rapat. 

Untuk pertumbuhan sel, pada umumnya digunakan sekitar 10 % serum fetal bovine pada medium, tetapi untuk pengisolasian atau produksi virus jumlah ini dapat dikurangi hingga 2 %. pH medium untuk pembiakan sel adalah sekitar 7,2 – 7,4 sedangkan untuk kegiatan pengisolasian atau produksi virus nilai pH ini diubah menjadi sebesar 7,6. 

Penyiapan kontrol positif dan antigen virus : 

1. Nama Virus 
  • Epizootic haemotopoietic necrosis virus (EHNV) 
  • European Catfish Virus (ECV) 
  • European Sheatfish Virus (ESV) 
  • Infectios Haemotopoietic Necrosis Virus (IHNV) 
  • Oncorhynchus Masau Virus (OMV) (alias Salmonid herpesvirus tipe-21) 
  • Spring Viraemia of carp virus (SUCV) 
  • Viral Haemorragic Septicaemia Virus (VHSV) (alias Egtved virus) 
2. Produksi Virus 
Untuk proses produksi virus, sel kultur harus diinokulasi dengan multiplisitas infeksi (multiplicities of infection/m.o.i) yang sangat rendah, misalnya pada 10² - 10³ plague forming unit (PFU) tiap sel. Selain itu hasil yang paling baik untuk produksi OMV dapat diperoleh dengan inokulasi sisa-sisa/hancuran sel dari kultur monolayer yang sebelumnya telah terinfeksi oleh virus.