Tampilkan postingan dengan label imun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imun. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2020

Pengertian lengkap KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) yang kaya akan manfaat

sumber gambar dari blognyaherbal.blogspot.com

Dikutip dari jurnal litbang PELUANG TANAMAN REMPAH DAN OBAT SEBAGAI SUMBER PANGAN FUNGSIONAL yang di tulis oleh Christina Winarti dan Nanan Nurdjanah, Kayu secang sangat dikenal terutama di Sulawesi sebagai pemberi warna pada air minum yang dikenal sebagai teh secang. Kayu secang juga merupakan salah satu ramuan yang digunakan dalam pembuatan minuman tradisional Betawi bir pletok yaitu sebagai pemberi warna. Secara empiris kayu secang dipakai sebagai obat luka, batuk berdarah, berak darah, darah kotor, penawar racun, sipilis, menghentikan pendarahan, pengobatan pascapersalinan, desinfektan, antidiare dan astringent.

Sanusi (1989) telah mengisolasi zat warna merah yang terkandung dalam kayu secang yang dikenal sebagai senyawa golongan brazilin. Brazilin merupakan senyawa antioksidan yang mempunyai katekol dalam struktur kimianya. Berdasarkan aktivitas antioksidannya, brazilin diharapkan mempunyai efek melindungi tubuh dari keracunan akibat radikal kimia (Moon et al. 1992). Selanjutnya Lim et al. (1997) membuktikan bahwa indeks antioksidatif dari ekstrak kayu secang lebih tinggi daripada antioksidan komersial (BHT BHA). Peneliti lain mengungkapkan bahwa brazilin diduga mempunyai efek anti-inflamasi (Sukria 1993 dalam Sundari et al. 1998).

Berbagai penelitian juga telah dilakukan untuk menguji manfaat kayu secang, seperti khasiatnya sebagai antibakteri. Anis (1990) dalam Sundari et al. (1998) melakukan penelitian terhadap beberapa jenis ekstrak kayu secang sebagai anti-bakteri penyebab tukak lambung. Selanjutnya Sumarmi (1994) dalam Sundari et al (1998) menguji daya antibakteri kayu secang terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Untuk menghentikan pendarahan, diduga yang berperan adalah tanin dan asam galat (Sundari et al. 1998). Tanin juga bersifat sebagai antibakteri dan astringent atau menciutkan dinding usus yang rusak karena asam atau bakteri. Kadar tanin ekstrak kayu secang yang diperoleh dengan perebusan selama 20 menit adalah 0,137% (Winarti dan Sembiring 1998).

Berikut manfaat Kayu secang dari sumber 99.co sebagai berikut:

1. Bersifat Antimikroba
Kayu secang bersifat antimikroba salah satunya karena mengandung metanol yang berfungsi menghambat bakteri Staphylococcus aureus. Bakteri tersebut diketahui bisa menimbulkan infeksi kulit, keracunan makanan, hingga infeksi persendian. Salah satu cara termudah mengonsumsi kayu secang untuk mendapatkan khasiat ini adalah dengan meminum air rebusan kayu secang.

2. Bersifat Antialergi
Khasiat kayu secang berikutnya yaitu dapat dimanfaatkan sebagai bahan antialergi yang sangat efektif. Kelebihan ini merupakan hasil dari senyawa kalkon yang juga terkandung dalam kayu secang. Menurut beberapa studi, konsumsi air rebusan secang secara rutin terbukti dapat melemahkan hingga menghilangkan efek alergi apapun yang dirasakan tubuh.

3. Kaya Antioksidan
Bila ingin mencari minuman dengan kandungan antioksidan yang tinggi selain teh, Anda bisa mencoba beralih pada kayu secang.

4. Meningkatkan Imun Tubuh
Imunitas tubuh merupakan salah satu elemen penting yang harus dirawat karena berfungsi untuk melindungi tubuh dari berbagai bakteri dan penyakit, apalagi saat ini baru ada wabah virus corona. Anda bisa memperkuat imun tubuh dengan berbagai cara, salah satunya yaitu dengan mengonsumsi air rebusan kayu secang. Pasalnya, kayu secang diketahui mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang memiliki sifat antioksidan tinggi. Kandungan tersebutlah yang dapat meningkatkan imun tubuh Anda dan menghindarkan dari kerusakan sel-sel tubuh secara oksidatif.

5. Mengandung Antikonvulsan
Manfaat kayu secang berikutnya adalah dapat digunakan sebagai antikonvulsan alami. Antikonvulsan secara medis berarti jenis obat-obatan yang dapat membantu menormalkan stabilitas rangsangan sel saraf agar tak mengalami kejang-kejang. Selain itu, antikonvulsan juga memiliki fungsi untuk meredakan nyeri karena gangguan saraf (neuropati) serta mengobati penyakit bipolar. Khasiat kayu secang yang besar inilah yang membuatnya sangat dianjurkan untuk dikonsumsi oleh para penderita penyakit epilepsi.

6. Mengobati Diabetes
Kayu secang memiliki kandungan senyawa brazilin yang dapat menurunkan kadar gula darah. Selain itu, kayu secang juga mengandung senyawa penting lainnya seperti brazilin, kaesalpin P, sappankalkon, dan protosappanin A. Senyawa-senyawa penting tersebut berfungsi untuk menghambat produksi enzim aldosa reduktase yang menjadi penyebab komplikasi diabetes. Itulah kenapa manfaat kayu secang ini sangat direkomendasikan untuk dikonsumsi oleh para penderita diabetes.

7. Bahan Minuman Tradisional
Selain sebagai obat-obatan, manfaat kayu secang lainnya juga sering dijadikan sebagai minuman tradisional. Kayu secang bahkan telah menjadi minuman favorit orang-orang kerajaan sejak zaman dahulu kala. Hal tersebut nampaknya tak terlepas dari besarnya manfaat dan khasiat yang dikandung setiap potong kayu secang.

8. Kaya Akan Flavonoid
Flavonoid adalah zat yang ditemukan pada banyak tumbuhan, termasuk juga dalam kayu secang. Zat ini memiliki manfaat yang sangat baik bagi tubuh misalnya untuk meningkatkan asupan vitamin C, antibiotik alami, serta penangkal radikal bebas. Adanya kandungan flavonoid yang tinggi semakin meningkatkan manfaat kayu secang untuk kesehatan dan daya tahan tubuh.

Cara Mengolah Kayu Secang untuk Kesehatan Dijadikan Campuran Minuman
Selain jahe dan kayu manis, kayu secang juga sering dijadikan campuran untuk berbagai jenis minuman tradisional. Cara ini dinilai sebagai cara mengolah kayu secang untuk kesehatan yang paling mudah sekaligus tak merepotkan. Cukup campurkan potongan-potongan kecil kayu secang ke dalam minuman ringan seperti wedang secang, wedang uwuh, hingga bandrek.

Senin, 06 April 2020

Penjelasan JAHE (Zingiber officinale Rosc.) kenapa kok jadi di cari sebagai pencegah Virus Corona

(Sumber: hargabulanini.com)

Jahe merupakan jenis rempah-rempah yang paling banyak digunakan dalam berbagai resep makanan dan minuman. Secara empiris jahe biasa digunakan masyarakat sebagai obat masuk angin, gangguan pencernaan, sebagai analgesik, antipiretik, anti-inflamasi, dan lainlain. Berbagai penelitian membuktikan bahwa jahe mempunyai sifat antioksidan. Beberapa komponen utama dalam jahe seperti gingerol, shogaol, dan gingeron memiliki aktivitas antioksidan di atas vitamin E (Kikuzaki dan Nakatani 1993).

Selain itu jahe juga mempunyai aktivitas antiemetik dan digunakan untuk mencegah mabuk perjalanan. Radiati et al. (2003) menyatakan bahwa konsumsi ekstrak jahe dalam minuman fungsional dan obat tradisional dapat meningkatkan ketahanan tubuh dan mengobati diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak jahe dapat meningkatkan daya tahan tubuh yang direfleksikan dalam sistem kekebalan, yaitu memberikan respons kekebalan inang terhadap mikroba pangan yang masuk ke dalam tubuh. Hal itu disebabkan ekstrak jahe dapat memacu proliferasi limfosit dan menekan limfosit yang mati (Zakaria et al. 1996) serta meningkatkan aktivitas fagositas makrofag (Zakaria dan Rajab 1999). 

Selain itu jahe mampu menaikkan aktivitas salah satu sel darah putih, yaitu sel natural killer (NK) dalam melisis sel targetnya, yaitu sel tumor dan sel yang terinfeksi virus (Zakaria et al. 1999). Hasil penelitian ini menopang data empiris yang dipercaya masyarakat bahwa jahe mempunyai kapasitas sebagai antimasuk angin, suatu gejala menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang oleh virus (influenza). Peningkatan aktivitas NK membuat tubuh tahan terhadap serangan virus karena sel ini secara khusus mampu menghancurkan sel yang terinfeksi oleh virus. Selanjutnya Nurrahman et al. (1999) menyatakan bahwa mengkonsumsi jahe setiap hari dapat meningkatkan aktivitas sel T dan daya tahan limfosit terhadap stres oksidatif. Komponen dalam jahe yaitu gingerol dan shogaol mempunyai aktivitas antirematik. Hal ini ditunjang dengan pendapat Kimura et al. (1997) bahwa jahe berfungsi sebagai anti-inflamasi rematik arthritis kronis.

Materi di kutip dari:
Christina Winarti dan Nanan Nurdjanah
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Jalan Tentara Pelajar
No. 12, Bogor 16111